Piala Dunia Bergulir, Janji Pemerintah Masih Offside
Font Terkecil
Font Terbesar
PASESATU.COM - Malam itu, rakyat bersorak. Gol tercipta, tepuk tangan pecah, kopi mengepul, dan tawa mengalahkan suara kesedihan. Sejenak, para korban banjir melupakan rumah yang rusak, sawah yang belum pulih, serta bantuan yang tak kunjung tiba.
Mungkin beginilah cara rakyat bertahan: ketika harapan kepada pemerintah mulai menipis, hiburan menjadi obat yang paling murah.
Ironisnya, di lapangan sepak bola, wasit berani meniup peluit ketika terjadi pelanggaran. Di dunia nyata, pelanggaran terhadap janji kepada rakyat sering kali berlalu tanpa peluit, tanpa kartu kuning, apalagi kartu merah.
Dulu, setelah banjir datang, kamera berbaris. Mikrofon berebut merekam janji. Kata-kata seperti segera, prioritas, cepat, dan tuntas meluncur begitu mudah. Sayangnya, setelah sorotan kamera padam, yang ikut menghilang bukan hanya keramaian, tetapi juga kesungguhan.
Rakyat akhirnya belajar satu hal: janji politik rupanya lebih mudah mengalir daripada bantuan. Air banjir memang sudah surut, tetapi genangan janji masih mengendap di hati masyarakat.
Mungkin pemerintah berharap waktu adalah obat paling ampuh. Bahwa semakin lama menunggu, rakyat akan lupa. Bahwa satu pertandingan sepak bola, satu panggung hiburan, atau satu seremoni baru cukup untuk menghapus ingatan tentang rumah yang rusak dan kehidupan yang belum pulih.
Namun pemerintah keliru.
Rakyat memang bisa tertawa malam ini. Mereka bisa bersorak ketika bola masuk ke gawang. Tetapi setiap kali hujan turun, ingatan itu kembali datang. Setiap genangan air adalah pengingat bahwa pekerjaan yang dijanjikan belum selesai.
Yang paling menyakitkan bukanlah banjir. Banjir adalah bencana alam. Yang lebih menyakitkan adalah ketika harapan masyarakat perlahan tenggelam bersama janji-janji yang tak kunjung ditepati.
Rakyat tidak meminta keajaiban. Mereka hanya meminta agar ucapan yang pernah disampaikan di hadapan mereka tidak berhenti sebagai bahan pidato. Sebab janji yang terus diulang tanpa tindakan pada akhirnya bukan lagi harapan, melainkan luka yang dipelihara.
Dan sejarah selalu mencatat, rakyat memang sering diam. Tetapi diam bukan berarti lupa. Sebab ingatan rakyat, seperti air, selalu menemukan jalannya sendiri.***




