Ketika Banjir Telah Surut, Penantian Warga Belum Berakhir
Di sebuah rumah sederhana, retakan masih membelah dinding. Bekas lumpur memang telah hilang, tetapi jejak bencana belum benar-benar pergi. Atap yang bocor ditambal dengan seng bekas. Ketika hujan turun, penghuni rumah mengaku masih memilih berjaga daripada tidur lelap.
Bagi warga desa ini, banjir bukan lagi sekadar peristiwa yang dikenang. Dampaknya masih mereka hadapi setiap hari.
Sebagian keluarga masih tinggal di rumah yang mengalami kerusakan. Perbaikan dilakukan sedikit demi sedikit, mengandalkan kemampuan sendiri dan bantuan dari kerabat. Mereka mengatakan belum seluruh kebutuhan pemulihan dapat dipenuhi.
Anak-anak kembali bersekolah. Tawa mereka terdengar di halaman desa. Namun, orang tua mengaku belum sepenuhnya merasa tenang. Setiap awan gelap datang, ingatan tentang banjir kembali muncul.
Di sela-sela aktivitas harian, pembicaraan warga masih berkisar pada satu hal: kapan proses pemulihan benar-benar selesai. Mereka berharap bantuan seperti Hunian Tetap (Huntap), Dana Tunggu Hunian (DTH), maupun program rehabilitasi lainnya dapat segera direalisasikan sesuai ketentuan yang berlaku.
Harapan itu tidak terdengar berlebihan. Warga mengatakan mereka hanya ingin memiliki rumah yang aman untuk ditempati, tempat anak-anak dapat tumbuh tanpa rasa cemas setiap musim hujan tiba.
Waktu terus berjalan. Delapan bulan telah berlalu sejak air menutup jalan, halaman, dan rumah-rumah di desa ini. Namun, bagi sebagian penyintas, masa pemulihan masih berlangsung.
Di Matang Arongan, kehidupan memang kembali bergerak. Sawah mulai digarap, anak-anak kembali belajar, dan warga kembali bekerja. Akan tetapi, di balik rutinitas yang perlahan pulih, masih tersimpan harapan agar pemulihan pascabencana tidak berhenti pada janji, melainkan hadir dalam langkah-langkah nyata yang dapat dirasakan masyarakat.
Bencana telah menjadi bagian dari masa lalu. Sementara pemulihan adalah pekerjaan yang belum sepenuhnya selesai.***


