BERITA TERKINI

Di Balik Cobek Rp25 Ribu, Hasan Menunggu Janji yang Belum Datang


ACEH UTARA | PASESATU.COM 
— Pukul delapan pagi, halaman rumah sederhana di Desa Sama Kurok, Kecamatan Tanah Jambo Aye, mulai dipenuhi aroma semen basah. Di sudut halaman, M. Hasan menundukkan kepala sambil meratakan adonan ke dalam cetakan berbentuk lingkaran. Jemarinya bergerak cepat, seolah sudah hafal setiap lekuk pekerjaan yang telah ia tekuni selama puluhan tahun.

Tak lama kemudian, satu cobek selesai dicetak. Harganya Rp25 ribu.

Bagi sebagian orang, cobek itu hanya alat untuk menghaluskan cabai atau bumbu dapur. Namun bagi Hasan, setiap cobek adalah ongkos hidup, biaya sekolah dua anaknya, sekaligus cara mempertahankan harapan agar keluarganya tetap bertahan.

"Yang penting anak-anak bisa sekolah," katanya pelan.

Hasan, 45 tahun, bukan warga asli Aceh. Ia datang dari Pulau Jawa bertahun-tahun silam, lalu menetap setelah menikah dengan perempuan asal Aceh. Keahlian membuat cobek sudah ia bawa sejak masih tinggal di kampung halamannya. Hingga kini, pekerjaan itulah yang menjadi sumber penghasilan utama keluarganya.

Setiap hari, dari pukul 08.00 hingga 12.00 WIB, ia mampu mencetak sekitar seratus cobek. Setelah dikeringkan selama kurang lebih sepekan, cobek-cobek itu dimuat ke atas kendaraan untuk dijajakan dari kampung ke kampung di Aceh Utara hingga Aceh Timur.

Pekerjaan itu sebenarnya tidak pernah mudah. Belakangan, harga semen sebagai bahan baku utama terus meningkat. Kelangkaan pasokan membuat biaya produksi ikut membengkak. Meski demikian, Hasan memilih terus bekerja.

"Ini memang pekerjaan saya sejak dulu. Mau bagaimana lagi," ujarnya.

Cobaan terberat justru datang delapan bulan lalu. Banjir besar merendam permukiman tempat tinggalnya. Air tidak hanya menggenangi rumah, tetapi juga menghanyutkan hampir seluruh peralatan kerja yang selama ini menopang mata pencaharian keluarganya.

Hasan bersama istri dan anak-anak mengungsi ke meunasah. Saat itu, menurutnya, tidak ada yang sempat diselamatkan selain keluarga.

"Semua alat kerja hanyut dibawa banjir. Yang penting waktu itu keluarga selamat," ucapnya, matanya tampak berkaca-kaca.

Setelah banjir surut, Hasan memulai lagi dari awal. Dengan modal yang tersisa, ia membeli peralatan sedikit demi sedikit. Tidak ada pilihan lain. Dapur harus tetap mengepul, dan anak-anaknya harus tetap berangkat ke sekolah.

Di tengah upaya bangkit itu, Hasan mengaku masih menunggu realisasi sejumlah bantuan pascabencana yang pernah disampaikan kepada warga terdampak. Bantuan seperti Jaminan Hidup (Jadup), Dana Tunggu Hunian (DTH), maupun bantuan stimulan, menurut pengakuannya, hingga kini belum ia terima.

Ia tidak banyak berbicara soal itu. Tangan yang dipenuhi sisa semen tampak lebih sibuk bekerja daripada mengeluh.

Menjelang siang, deretan cobek yang baru dicetak mulai memenuhi halaman rumahnya. Masing-masing harus menunggu sekitar sepekan sebelum bisa dijual. Hasilnya belum tentu langsung habis, tetapi Hasan tetap mengerjakannya setiap hari.

Barangkali, seperti cobek-cobek itu, harapan juga membutuhkan waktu untuk mengeras.

Bagi Hasan, setiap cobek yang dijual bukan sekadar barang dagangan. Di balik harga Rp25 ribu, tersimpan kisah tentang seorang ayah yang memilih bangkit setelah diterjang banjir, tetap bekerja di tengah mahalnya bahan baku, dan terus menunggu janji pemulihan yang, menurut pengakuannya, belum juga tiba.***


Penulis : Abdul Rafar