BERITA TERKINI

Tujuh Bulan Menanti "Hujan" Anggaran


PASESATU.COM
- Banjir di Aceh Utara telah lama surut. Lumpur mengering, sungai kembali tenang, dan jejak genangan perlahan hilang dari halaman rumah warga. Namun, ada satu hal yang belum juga mengalir: realisasi anggaran bantuan bagi masyarakat terdampak.

Entah di meja siapa anggaran itu kini berada. Entah di map berwarna apa berkas-berkas itu masih beristirahat. Yang pasti, waktu terus berjalan, sementara masyarakat kembali diminta untuk bersabar.

Barangkali di pusat pemerintahan, angka hanyalah deretan data dalam dokumen dan sebuah berkas dapat menunggu giliran tanda tangan tanpa terdengar suara tangis di baliknya. Namun, di kampung-kampung Aceh Utara, setiap lembar administrasi sesungguhnya mewakili atap rumah yang bocor, dapur yang belum kembali berasap, serta keluarga yang masih menggantungkan harapan pada janji yang belum juga ditepati.

Ironisnya, banjir yang datang tanpa undangan mampu surut hanya dalam hitungan hari. Sementara itu, anggaran yang lahir dari rapat, regulasi, dan berbagai keputusan resmi justru membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk menemukan jalannya.

Barangkali memang demikian kenyataan yang sering dihadapi masyarakat kecil. Ketika bencana datang, mereka diminta bertahan. Ketika bantuan dijanjikan, mereka diminta bersabar. Dan ketika kesabaran mulai menipis, mereka kembali diminta memahami prosedur.

Negara tentu memiliki kewajiban untuk berhati-hati dalam menyalurkan anggaran. Namun, kehati-hatian tidak boleh berubah menjadi kelambanan. Bagi korban bencana, waktu bukan sekadar pergantian kalender, melainkan biaya hidup yang terus berjalan dan kebutuhan yang tidak dapat ditunda.

Masyarakat berharap "hujan" anggaran itu benar-benar turun. Sebab, jika awan birokrasi terus menahan tetesnya, yang terlebih dahulu mengering bukanlah berkas-berkas di meja kementerian, melainkan kepercayaan rakyat terhadap negara.

Pada akhirnya, yang paling menyakitkan bukanlah banjir yang pernah datang, melainkan janji yang terlalu lama dibiarkan terapung.***

Penulis : Abdul Rafar