BERITA TERKINI

Profesional di Depan, Cari Muka di Belakang

Profesional di Depan, Cari Muka di Belakang
Ilustrasi karikatur fenomena "cari muka" di lingkungan kerja. Seseorang tampak sibuk memuji dan mencari perhatian pimpinan agar terlihat paling loyal, sementara rekan kerja lainnya fokus menyelesaikan tugas tanpa banyak pencitraan. Fenomena ini menjadi potret dinamika di berbagai tempat kerja, ketika profesionalisme kerap disalahartikan sebagai kedekatan dengan atasan, bukan berdasarkan integritas dan kinerja nyata.
Foto: Ilustrasi/AI.

PASESATU.COM - Di setiap tempat kerja, hampir selalu ada satu sosok yang tampak paling sibuk. Datang paling pagi, pulang paling akhir, selalu berada di sekitar pimpinan, dan tak pernah absen memberikan pujian. Di hadapan banyak orang, ia terlihat sangat profesional, seolah menjadi pegawai paling berdedikasi dan paling loyal terhadap lembaga.

Namun, di balik semua itu, belum tentu yang ditampilkan adalah profesionalisme. Bisa jadi, itu hanyalah strategi untuk mencari perhatian dan membangun citra.

Fenomena seperti ini bukan lagi cerita baru. Dalam dinamika kehidupan modern, semakin banyak orang yang terlihat bekerja keras bukan karena ingin memberikan hasil terbaik, melainkan karena ingin terlihat hebat di mata atasan. Mereka sibuk membangun kesan, bukan membangun prestasi.

Ada yang selalu ingin terlibat dalam setiap kegiatan, tetapi hanya ketika pimpinan hadir. Ada yang gemar mengambil foto saat bekerja, kemudian mengunggahnya ke media sosial seolah dirinya menjadi tokoh utama di balik keberhasilan sebuah program. Ada pula yang paling cepat menyampaikan laporan kepada atasan, meski pekerjaan itu sebenarnya merupakan hasil kerja bersama.

Sekilas, perilaku itu tampak profesional. Padahal, esensinya adalah pencitraan.

Profesionalisme sejati tidak diukur dari seberapa sering seseorang berada di dekat pimpinan atau seberapa pandai ia menunjukkan kesibukannya. Profesionalisme lahir dari integritas, tanggung jawab, kemampuan bekerja sama, serta hasil kerja yang nyata.

Sayangnya, di era yang serba visual dan penuh pencitraan seperti sekarang, penampilan sering kali lebih dihargai daripada substansi. Orang yang pandai membangun kesan dianggap lebih produktif dibanding mereka yang bekerja dalam diam.

Di sinilah budaya "cari muka" menemukan ruangnya.

Mereka yang gemar mencari perhatian biasanya memiliki ciri yang hampir sama: memuji secara berlebihan, selalu membenarkan keputusan atasan, menampilkan diri seolah paling bekerja, dan berusaha menjadi orang pertama yang terlihat ketika ada keberhasilan. Namun, ketika muncul persoalan atau kegagalan, mereka sering kali menjadi orang yang paling cepat menghilang atau melempar tanggung jawab kepada pihak lain.

Yang lebih ironis, tidak sedikit orang yang benar-benar bekerja keras justru tenggelam dalam bayang-bayang pencitraan tersebut. Mereka tidak pandai menjual diri, tidak gemar memamerkan pekerjaan, dan memilih fokus pada tugasnya. Akibatnya, penghargaan terkadang tidak jatuh kepada orang yang paling kompeten, tetapi kepada mereka yang paling pandai mengambil hati.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka yang tumbuh bukan budaya kerja yang sehat, melainkan budaya pencitraan. Orang akan lebih sibuk terlihat bekerja daripada benar-benar bekerja. Lebih mementingkan kesan di hadapan atasan daripada manfaat bagi organisasi.

Padahal, organisasi yang kuat tidak dibangun oleh orang-orang yang pandai mencari muka. Ia dibangun oleh mereka yang bekerja dengan tulus, berani menerima kritik, dan menjadikan integritas sebagai fondasi utama.

Karena pada akhirnya, profesionalisme bukan soal seberapa dekat seseorang dengan pimpinan atau seberapa sering namanya disebut. Profesionalisme adalah ketika seseorang tetap bekerja dengan baik meskipun tidak ada yang melihat dan tetap memberikan yang terbaik meskipun tidak selalu mendapat pujian.

Sebab, orang yang hanya mengejar citra mungkin akan bersinar sesaat. Namun, orang yang bekerja dengan integritas akan dikenang karena karya dan pengabdiannya.***