Kucing yang Enggan Menoleh ke Kopi dan Pertanyaan yang Tak Pernah Dijawab
Font Terkecil
Font Terbesar
PASESATU.COM — Malam turun perlahan. Lampu-lampu warung kopi menyala satu per satu, menemani hiruk-pikuk kota yang tak pernah benar-benar terlelap. Di sudut sebuah meja kayu yang mulai usang, seekor kucing kecil meringkuk dalam diam. Tubuhnya kurus. Matanya redup. Sesekali ia mengangkat kepala, lalu kembali menatap ke kejauhan.
Di hadapannya tersaji segelas kopi hitam yang masih mengepulkan aroma hangat.
Namun, makhluk kecil itu tak sedikit pun menoleh.
Seakan kopi bukan lagi hal yang menarik perhatiannya.
Tatapannya menerobos gelap malam, kosong namun penuh makna. Seolah ia sedang memikirkan sesuatu yang jauh lebih berat daripada sekadar mencari makan atau tempat berteduh.
Mungkin dalam diamnya, ia sedang menyaksikan kisah-kisah yang belum selesai.
Kisah tentang para korban banjir yang hingga hari ini masih menunggu kepastian.
Bencana itu telah lama berlalu. Air telah surut. Lumpur telah mengering. Berita-berita tentangnya pun perlahan menghilang dari halaman depan.
Namun, bagi sebagian warga, penderitaan belum benar-benar pergi.
Waktu terus berjalan, sementara harapan masih tertahan.
Janji demi janji pernah diucapkan.
Bantuan demi bantuan pernah diumumkan.
Berbagai rapat telah digelar.
Berbagai pernyataan telah disampaikan.
Namun, bagi mereka yang masih bertahan di tengah kesulitan, yang tersisa sering kali hanyalah penantian yang tak kunjung berujung.
Mungkin kucing itu sedang memikirkan jatah hidup (jadup) yang belum sepenuhnya diterima oleh warga terdampak.
Tentang sawah-sawah yang rusak diterjang banjir dan belum sepenuhnya pulih.
Tentang hunian sementara yang dibangun sebagai harapan, tetapi kini mulai menua sebelum waktunya, diterpa hujan dan angin yang menyisakan kecemasan baru bagi penghuninya.
Tentang keluarga-keluarga yang masih menumpang di rumah sanak saudara karena rumah mereka belum kembali berdiri.
Tentang saluran irigasi yang rusak dan para petani yang harus memikul sendiri beban kerugian yang seharusnya menjadi perhatian bersama.
Tentang jembatan yang diperbaiki secara swadaya oleh masyarakat karena terlalu lama menunggu bantuan yang tak kunjung datang.
Dan mungkin pula, kucing kecil itu mendengar bisik-bisik masyarakat tentang berbagai persoalan lain yang terus berulang dari tahun ke tahun, seolah selalu hadir tanpa pernah benar-benar diselesaikan.
Sementara itu, ruang-ruang rapat tetap ramai.
Dokumen demi dokumen terus disusun.
Laporan pembangunan terus dicetak.
Pidato tentang capaian dan keberhasilan terus disampaikan.
Foto-foto kegiatan terus dipublikasikan.
Namun, rakyat kecil tidak hidup dari foto.
Mereka tidak hidup dari spanduk.
Tidak pula hidup dari pidato dan seremonial.
Mereka hidup dari kebijakan yang nyata.
Dari keputusan yang berpihak.
Dari kehadiran pemerintah ketika musibah datang dan kehidupan menjadi begitu sulit dijalani.
Mereka hidup dari janji yang benar-benar ditepati, bukan sekadar diucapkan.
Kucing kecil itu tetap diam.
Ia tidak memahami bahasa birokrasi.
Ia tidak mengenal istilah rehabilitasi, rekonstruksi, anggaran perubahan, ataupun program prioritas.
Namun, dari sorot matanya yang sendu, seolah ada satu pertanyaan yang menggantung di udara malam:
"Sejauh mana sebenarnya tanggung jawab pemerintah kepada rakyat yang masih menderita?"
Pertanyaan itu terdengar sederhana.
Namun, justru karena kesederhanaannya, pertanyaan itu menjadi begitu sulit dijawab.
Malam semakin larut.
Kopi di atas meja mulai kehilangan hangatnya.
Orang-orang datang dan pergi.
Pejabat silih berganti.
Program berganti program.
Janji berganti janji.
Namun, kucing kecil itu masih menatap ke arah yang sama.
Masih menunggu.
Sama seperti sebagian rakyat kecil yang terus menunggu keadilan.
Menunggu kepedulian.
Menunggu kepastian.
Dan menunggu negara benar-benar hadir, bukan hanya ketika kamera menyala dan perhatian publik sedang tertuju, tetapi juga ketika sorotan telah redup, ketika berita tak lagi menjadi perbincangan, dan ketika tangisan para korban hanya tersisa sebagai gema sunyi yang nyaris tak terdengar.***



