BERITA TERKINI

Ketika Singgasana Masih Basah

Ketika pondasi belum benar-benar kuat, merasa mampu mengendalikan segalanya hanya akan menjauhkan seseorang dari mereka yang dahulu mengantarkannya menuju puncak.
Karena sejarah mengajarkan, kesombongan sering datang lebih cepat daripada kebijaksanaan.
#Refleksi #Kepemimpinan #Renungan

PASESATU.COM - Di sebuah negeri yang tenang, hiduplah seorang pemimpin muda yang baru saja memperoleh mahkota kekuasaan. Perjalanan menuju singgasana itu tidaklah ditempuh seorang diri. Banyak tangan yang ikut mendorong, banyak pundak yang bersedia memikul beban, serta banyak suara yang dahulu bersatu mengantarkannya menuju puncak.

Namun, belum lama ia duduk di kursi kebesaran, sesuatu mulai berubah.

Pondasi kekuasaannya sebenarnya masih baru. Tiang-tiang penyangga belum benar-benar kokoh. Kepercayaan rakyat masih membutuhkan waktu untuk tumbuh. Akan tetapi, ia telah merasa seolah-olah berada di atas awan, jauh meninggalkan mereka yang pernah berjalan bersama.

Dalam setiap pertemuan, kata-katanya terdengar penuh keyakinan.

“Aku mampu mengendalikan semuanya.”

“Tanpa siapa pun, aku tetap akan berada di sini.”

“Semua ini adalah hasil perjuanganku sendiri.”

Mereka yang mendengarnya hanya saling berpandangan. Tidak sedikit yang memilih diam. Sebab mereka mengetahui, perjalanan menuju puncak bukanlah kisah seorang diri. Ada orang-orang yang dahulu berdiri di belakangnya ketika jalan masih gelap. Ada yang rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan harga diri, demi memastikan ia dapat mencapai tujuan yang diimpikan bersama.

Namun, kekuasaan yang baru saja diraih sering kali membawa ilusi.

Semakin tinggi ia memandang langit, semakin lupa ia pada tanah tempat kakinya berpijak. Ia mengira seluruh roda akan terus berputar sesuai kehendaknya. Ia percaya semua orang akan tetap mengikuti perintahnya. Bahkan, ia mulai berbicara seakan dirinya adalah pusat dari segala keputusan.

Padahal, singgasana yang didudukinya ibarat rumah yang baru selesai dibangun. Catnya memang tampak mengilap, tetapi semen di pondasinya belum sepenuhnya mengeras. Sedikit guncangan saja dapat membuat dindingnya retak.

Suatu hari, seorang tua yang bijaksana datang menemuinya.

“Anakku,” kata orang tua itu, “jangan pernah mengira bahwa pohon yang baru tumbuh sudah mampu menahan badai. Akarnya masih mencari pegangan di dalam tanah.”

Pemimpin muda itu tersenyum tipis.

“Aku tidak takut badai. Aku mampu mengaturnya.”

Orang tua itu pun tersenyum.

“Tidak ada seorang pun yang mampu mengendalikan badai. Yang dapat dilakukan hanyalah memperkuat akar dan merawat orang-orang yang dahulu menanam benihnya.”

Namun, nasihat itu tidak terlalu ia hiraukan.

Hari demi hari berlalu. Ia semakin yakin bahwa seluruh kendali berada di tangannya. Ia mulai meremehkan mereka yang dahulu berjasa. Saran dianggap gangguan. Kritik dipandang sebagai ancaman. Pujian menjadi makanan yang paling disukainya.

Sampai akhirnya, datanglah musim angin kencang.

Persoalan demi persoalan muncul silih berganti. Orang-orang yang selama ini menopang tiang-tiang kekuasaannya mulai menjauh. Sebagian memilih diam, sebagian lagi memilih berdiri di tempat lain.

Saat itulah ia mulai menyadari bahwa kekuasaan bukanlah gunung yang dapat didaki sendirian. Puncak yang tinggi tidak akan pernah dicapai tanpa adanya jalan yang dibuka oleh banyak orang.

Ia teringat pada ucapan orang tua bijaksana itu.

“Pohon yang tinggi bukan berdiri karena batangnya semata, melainkan karena akar-akarnya yang tersembunyi di dalam tanah.”

Maka, ia pun mengerti bahwa kesombongan adalah musuh pertama bagi pemimpin yang baru memperoleh kekuasaan. Sebab, ketika singgasana masih basah dan pondasi belum benar-benar kuat, merasa diri mampu mengendalikan segala sesuatu hanyalah sebuah kesalahan yang lahir dari lupa.

Lupa bahwa tidak ada kekuasaan yang tumbuh dari satu tangan.

Lupa bahwa keberhasilan selalu memiliki banyak nama, sementara kesombongan hanya mengenal satu nama: dirinya sendiri.

Dan sejarah telah berulang kali mengajarkan, mereka yang terlalu cepat merasa berada di atas awan sering kali tidak menyadari bahwa awan tidak pernah menjadi tempat berpijak. Sebab setinggi apa pun seseorang terbang, pada akhirnya ia tetap harus kembali melihat tanah tempat pertama kali ia berdiri.

Catatan Redaksi

Tulisan ini merupakan karya reflektif yang disajikan dalam bentuk cerita alegori dan tidak ditujukan untuk menggambarkan atau merujuk kepada individu, kelompok, lembaga, maupun peristiwa tertentu. Seluruh tokoh, dialog, dan alur yang disajikan merupakan gambaran umum mengenai sikap manusia dalam memandang kekuasaan.

Pesan utama dari tulisan ini adalah mengingatkan bahwa kekuasaan pada hakikatnya merupakan amanah yang lahir dari kepercayaan dan dukungan banyak pihak. Oleh karena itu, kerendahan hati, kesediaan mendengar, serta penghargaan terhadap kontribusi orang lain merupakan fondasi penting dalam kepemimpinan.

Pembaca diharapkan dapat memaknai tulisan ini sebagai bahan perenungan bersama bahwa keberhasilan tidak pernah dibangun oleh satu orang semata, dan bahwa kesombongan sering kali menjadi awal dari rapuhnya sebuah kekuasaan.***