BERITA TERKINI

Gedung Menjulang, Cangkul Tetap Berjuang

Gedung Menjulang, Cangkul Tetap Berjuang

PASESATU.COM
- Di tengah lumpur yang melekat hingga ke lutut, seorang petani mengayunkan cangkul dengan napas yang mulai berat. Tak ada deru traktor, tak ada mesin modern, dan tak ada tangan negara yang ikut menggenggam gagang cangkulnya. Yang menemaninya hanya genangan air, peluh, dan harapan yang kian menipis dari musim ke musim.

Di belakangnya, gedung-gedung berdiri megah. Menara menjulang menembus langit, kubah-kubah berkilau memantulkan cahaya matahari. Beton seolah tumbuh lebih cepat daripada padi. Semen mendapatkan perhatian lebih besar daripada tanah yang selama ini menghidupi negeri.

Inilah ironi pembangunan. Yang tampak megah adalah bangunan, sementara mereka yang sesungguhnya menopang kehidupan justru masih harus berjuang sendiri. Kita begitu bangga memotret gedung-gedung baru, tetapi sering lupa mengabadikan tangan-tangan kasar yang memastikan dapur rakyat tetap mengepul.

Petani kerap disebut sebagai pahlawan pangan. Sebutan itu terdengar mulia, tetapi sering kali berhenti sebagai penghias pidato. Ketika musim tanam tiba, mereka kembali bergulat dengan lumpur tanpa kepastian. Saat panen gagal, mereka memikul beban sendirian. Ketika harga hasil panen jatuh, tidak banyak yang benar-benar hadir memberikan perlindungan.

Pemerintah kerap menyampaikan bahwa mekanisasi pertanian terus digalakkan dan bantuan alat serta mesin pertanian terus disalurkan. Namun, di banyak persawahan, cangkul tua masih menjadi alat utama. Pertanyaannya sederhana: ke mana mesin-mesin yang kerap dipamerkan dalam berbagai seremoni? Apakah alat-alat tersebut benar-benar bekerja di hamparan sawah atau justru lebih sering menjadi pelengkap dokumentasi?

Sawah mengajarkan satu pelajaran penting bahwa kemajuan tidak selalu berarti keadilan. Sebab, kemajuan yang hanya tumbuh di atas beton, tetapi membiarkan lumpur tetap menjadi nasib petani, hanyalah kemewahan yang kehilangan hati nurani.

Jangan heran jika suatu hari anak-anak petani memilih meninggalkan sawah. Bukan karena mereka membenci tanah, melainkan karena mereka melihat masa depan yang terlalu lama mengabaikan mereka. Mereka menyaksikan kenyataan bahwa negeri ini terkadang lebih cepat membangun gedung daripada membangun kesejahteraan petani.

Padahal, tidak ada satu pun gedung yang dapat mengenyangkan rakyat. Perut bangsa tidak pernah kenyang oleh beton, kaca, ataupun menara yang menjulang. Perut rakyat hanya dapat terisi oleh padi yang tumbuh dari tangan-tangan yang hingga hari ini masih bergulat sendirian di tengah lumpur.

Barangkali, sejarah kelak akan menulis dengan kalimat yang sederhana, tetapi menyayat:

"Ketika gedung-gedung menjulang ke langit, petani tetap menunduk di lumpur. Bukan karena mereka rendah, melainkan karena negeri ini terlalu sering lupa kepada siapa penghormatan seharusnya diberikan."***

Penulis : Abdul Rafar