Kesalahan Besar “Pengawal Raja”: Ketika Kekuasaan Terlalu Nyaman dengan Pujian
Font Terkecil
Font Terbesar
![]() |
| Foto ilustrasi |
PASESATU.COM — Dalam dinamika kekuasaan, ancaman tidak selalu datang dari pihak luar. Dalam banyak keadaan, persoalan justru muncul dari orang-orang terdekat yang berada di sekitar pemimpin, baik sebagai pengawal, penasihat, maupun orang kepercayaan.
Fenomena “pengawal raja” kerap menjadi istilah sindiran di tengah masyarakat terhadap pihak-pihak yang dinilai lebih sibuk membangun citra daripada menyampaikan kondisi sebenarnya. Kritik dianggap sebagai ancaman, sementara pujian terus dipelihara demi menjaga kenyamanan kekuasaan.
Situasi tersebut dinilai dapat membuat seorang pemimpin kehilangan ruang untuk mendengar kenyataan di lapangan. Informasi yang diterima hanya sebatas laporan positif, apresiasi, dan kesan bahwa keadaan berjalan baik-baik saja. Di sisi lain, masyarakat masih menghadapi berbagai persoalan, mulai dari harga kebutuhan pokok, pelayanan publik, hingga janji kebijakan yang belum terealisasi.
Tidak sedikit pula orang-orang di sekitar kekuasaan tampil paling depan dalam membela pemimpin. Mereka cepat merespons kritik dan berusaha mempertahankan citra pemimpin agar tetap terlihat tanpa cela. Namun, sikap loyalitas yang berlebihan justru berpotensi menjauhkan pemimpin dari suara publik yang sesungguhnya.
Pengamat sosial menilai, pemimpin yang terus-menerus menerima pujian berisiko merasa dirinya selalu benar. Kondisi itu dapat membuat pemimpin terputus dari realitas masyarakat karena lingkungan di sekitarnya lebih memilih menyampaikan hal-hal yang menyenangkan dibandingkan fakta yang sebenarnya terjadi.
Dalam berbagai catatan sejarah, runtuhnya kekuasaan sering kali bukan semata-mata disebabkan kuatnya lawan politik, melainkan karena orang-orang terdekat tidak berani menyampaikan kebenaran. Kepentingan menjaga posisi dan jabatan kerap membuat kritik internal menghilang.
Masyarakat menilai, peran pengawal atau orang kepercayaan seharusnya tidak hanya sebatas membela pemimpin, tetapi juga berani menyampaikan kondisi riil meski terasa pahit. Sebab, seorang pemimpin pada dasarnya tidak hanya membutuhkan pujian, melainkan juga masukan yang jujur demi menjaga arah kebijakan tetap berpihak kepada rakyat.
Pada akhirnya, kekuasaan yang terlalu nyaman dengan pujian dikhawatirkan akan kehilangan kemampuan mendengar suara masyarakat. Ketika kejujuran tidak lagi mendapat tempat, maka jarak antara pemimpin dan rakyat akan semakin lebar.***
Penulis : Abdul Rafar



