Banjir Kembali Lumpuhkan Desa Kumbang LT, Warga Desak Perbaikan Tanggul Krueng Peutoe
Font Terkecil
Font Terbesar
ACEH UTARA | PASESATU.COM — Banjir kembali merendam Desa Kumbang LT, Kecamatan Lhoksukon, Kabupaten Aceh Utara, pada Minggu (10/05/2026) malam, akibat meluapnya Sungai Krueng Peutoe.
Peristiwa yang terus berulang hampir setiap tahun ini membuat warga semakin resah karena hingga kini belum ada penanganan serius terhadap tanggul sungai yang jebol di sejumlah titik.
Luapan air sungai mulai memasuki permukiman warga setelah intensitas hujan meningkat dan debit air Krueng Peutoe membesar. Dalam waktu singkat, air menggenangi rumah-rumah warga, fasilitas umum, hingga badan jalan yang menjadi akses utama masyarakat di kawasan tersebut.
Bagi masyarakat Desa Kumbang LT, banjir bukan lagi bencana musiman yang datang sesekali. Warga menyebut kondisi ini sudah menjadi rutinitas tahunan yang terus mereka hadapi selama beberapa tahun terakhir. Penyebab utamanya diduga karena tanggul Sungai Krueng Peutoe yang melintasi desa tersebut mengalami kerusakan dan jebol di beberapa titik, namun belum pernah mendapatkan perbaikan menyeluruh.
Akibat tanggul yang rusak, air sungai dengan mudah meluap ke kawasan permukiman setiap kali hujan deras mengguyur wilayah hulu dan debit sungai meningkat. Kondisi itu membuat warga harus selalu waspada setiap memasuki musim penghujan.
“Kalau hujan deras dan air sungai mulai naik, kami sudah pasti bersiap-siap karena banjir akan masuk ke rumah,” ujar seorang warga.
Banjir tidak hanya merendam rumah penduduk, tetapi juga mengganggu aktivitas masyarakat secara luas. Jalan lintas Cot Girek–Lhoksukon turut terendam air dengan debit air sekitar 30 cm dibadan jalan sehingga menghambat mobilitas warga dan pengendara yang melintas di jalur tersebut.
Selain itu, sejumlah fasilitas pelayanan publik juga terdampak. Air dilaporkan masuk ke sekolah tingkat SD dan SMP yang berada di kawasan Desa Kumbang LT. Aktivitas belajar mengajar terancam terganggu karena halaman hingga ruang sekolah dipenuhi genangan air.
Tidak hanya sektor pendidikan, fasilitas kesehatan juga ikut terdampak. Puskesmas Buket Hagu yang berdiri di desa tersebut turut sehingga dikhawatirkan dapat menghambat pelayanan kesehatan masyarakat, terutama bagi warga yang membutuhkan penanganan medis.
Warga mengaku, dampak paling berat justru dirasakan setelah banjir mulai surut. Lumpur tebal yang terbawa arus sungai memenuhi rumah dan halaman warga sehingga mereka harus bekerja ekstra membersihkannya.
Perabotan rumah tangga seperti lemari, kasur, kursi, hingga perlengkapan dapur ikut terkena lumpur dan sebagian mengalami kerusakan. Tidak sedikit warga yang harus mengeluarkan biaya tambahan untuk memperbaiki maupun mengganti barang-barang yang rusak akibat terendam banjir berulang kali.
“Kami bukan hanya menghadapi banjir saat air naik, tetapi juga harus membersihkan lumpur setiap air surut. Tenaga dan biaya yang dikeluarkan sangat besar,” kata warga lainnya.
Masyarakat berharap pemerintah daerah maupun instansi terkait segera turun tangan menangani persoalan tersebut. Perbaikan tanggul Sungai Krueng Peutoe dinilai menjadi solusi utama agar banjir tidak terus berulang dan merugikan masyarakat setiap tahun.
Warga menilai, jika tanggul yang jebol segera diperbaiki dan diperkuat, maka risiko luapan air ke permukiman dapat diminimalkan. Mereka juga meminta adanya langkah antisipasi jangka panjang agar masyarakat tidak terus hidup dalam ancaman banjir setiap musim hujan tiba.
Hingga kini, warga Desa Kumbang LT masih bertahan di tengah genangan air sambil berharap banjir segera surut dan pemerintah segera memberikan solusi nyata terhadap persoalan yang sudah berlangsung bertahun-tahun tersebut.***




