Tenda Dibongkar, Kini Tinggal di Gubuk: Ulfa Mengais Hidup dari Membelah Pinang dengan Upah Rp2.000 per Kilogram
Font Terkecil
Font Terbesar
ACEH UTARA | PASESATU.COM — Setelah tenda tempat berteduhnya dibongkar, Ulfa, gadis korban banjir asal Dusun Maju, Desa Buket Jrat Manyang, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara, kini harus menjalani hidup dalam gubuk sederhana bersama kedua orang tuanya.
Bagi Ulfa, hidup setelah banjir bukan tentang bangkit dengan mudah. Yang ia jalani hari ini adalah perjuangan untuk bertahan, di tengah kondisi yang masih jauh dari layak.
Banjir memang telah surut. Namun luka yang ditinggalkan belum benar-benar pergi. Saat sebagian orang mulai kembali menata hidup, Ulfa dan keluarganya justru masih bertahan di titik paling bawah. Tenda yang dulu menjadi tempat berlindung telah dibongkar, sementara hunian yang layak belum benar-benar mereka rasakan.
Kini, yang tersisa hanyalah gubuk seadanya tempat sempit yang menjadi saksi bisu bagaimana sebuah keluarga kecil mencoba bertahan di tengah himpitan hidup yang tak kunjung reda.
Di usia yang seharusnya diisi dengan semangat belajar, cita-cita, dan masa depan, Ulfa justru dipaksa akrab dengan kerasnya kenyataan. Untuk membantu orang tuanya menyambung hidup, ia mengais rezeki dengan membelah pinang milik orang lain.
Pekerjaan itu bukan pekerjaan ringan. Membelah pinang membutuhkan tenaga, ketelatenan, dan waktu. Namun dari jerih payah itu, upah yang diterima Ulfa begitu kecil: hanya Rp2.000 per kilogram.
Angka yang mungkin dianggap sepele oleh sebagian orang itu, justru menjadi penopang hidup bagi Ulfa dan keluarganya. Dari upah itulah mereka berusaha menjaga agar dapur tetap menyala dan hari esok masih bisa dijalani, walau dengan langkah yang terseok-seok.
“Kalau ada kerja, dikerjakan. Yang penting bisa bantu orang tua,” ujar Ulfa lirih, Rabu malam (1/4/2026).
Kalimat singkat itu menyimpan luka yang dalam. Di balik ucapannya, tersirat kenyataan pahit bahwa seorang gadis muda harus memikul beban hidup yang semestinya belum menjadi bagiannya.
Tangannya yang seharusnya lebih sering memegang buku, menulis pelajaran, dan merangkai mimpi, kini lebih akrab dengan kerja kasar demi membantu keluarganya bertahan. Sementara anak-anak lain seusianya masih mengejar cita-cita, Ulfa justru sedang berjuang agar keluarganya tidak tenggelam dalam kesulitan.
Gubuk kecil yang kini ia tempati bersama kedua orang tuanya menjadi simbol getir dari pemulihan pascabencana yang belum sepenuhnya menyentuh semua korban. Tidak ada kenyamanan, tidak ada kepastian, hanya ruang sempit dan harapan yang terus dipeluk agar mereka tidak sepenuhnya kalah oleh keadaan.
Kisah Ulfa memperlihatkan bahwa dampak banjir tidak berhenti pada rusaknya rumah dan hilangnya harta benda. Musibah itu juga merampas rasa aman, menekan ekonomi keluarga, dan memaksa anak-anak ikut menanggung beban hidup lebih cepat dari usia mereka.
Di tengah berbagai narasi pemulihan dan janji bantuan, kenyataan di lapangan masih menyisakan luka yang nyata. Masih ada warga yang tinggal di gubuk, masih ada keluarga yang menggantungkan hidup dari pekerjaan serabutan, dan masih ada anak-anak seperti Ulfa yang harus bekerja dengan upah yang nyaris tak sebanding dengan beratnya hidup yang mereka jalani.
Warga berharap pemerintah dan pihak terkait tidak hanya hadir saat pendataan atau penyaluran bantuan seremonial, tetapi benar-benar melihat kondisi riil para korban yang hingga hari ini masih hidup dalam keterbatasan.
Sebab di balik upah Rp2.000 per kilogram pinang yang dibelah Ulfa, ada kisah tentang kemiskinan, ketabahan, dan harapan yang sedang berjuang agar tidak padam.
Dan di balik gubuk kecil pengganti tenda yang telah dibongkar itu, seorang gadis muda sedang berusaha menyelamatkan keluarganya dengan tangan kecil, tenaga seadanya, dan masa depan yang belum tentu berpihak padanya.***
