BERITA TERKINI

Panton Labu Masih Kumuh, Program Pengelolaan Sampah Belum Terlihat

Tumpukan sampah menggunung di pinggir Jalan Lintas Nasional Medan–Banda Aceh, tepat di kawasan Pasar Panton Labu, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara, Jumat (27/3/2026). Kondisi ini menimbulkan bau menyengat dan mencerminkan belum efektifnya uji coba pengelolaan sampah yang baru digulirkan pemerintah daerah. Foto : Abdul Rafar / pasesatu.com 

ACEH UTARA | PASESATU.COM — Jalan lintas nasional Medan–Banda Aceh yang melintasi Kota Panton Labu, Kecamatan Tanah Jambo Aye, padat oleh arus mudik, Jumat, 27 Maret 2026. Namun, di tengah lalu lintas yang sibuk, ada pemandangan yang sulit diabaikan: tumpukan sampah menggunung di pinggir jalan, memancarkan bau menyengat yang menyergap setiap pengendara yang melintas.

Sampah-sampah itu menumpuk tanpa penanganan jelas. Plastik, limbah rumah tangga, dan sisa aktivitas pasar bercampur di satu titik yang justru berada di jalur strategis pintu masuk Aceh Utara. Lokasi yang semestinya menjadi etalase wajah daerah malah berubah menjadi tempat pembuangan terbuka.

Kondisi ini menimbulkan tanda tanya, terutama karena pemerintah daerah baru saja menggulirkan program pengelolaan sampah di kawasan tersebut.

Sejumlah warga mengaku resah. Mereka menilai situasi ini bukan sekadar persoalan kebersihan, melainkan cerminan gagalnya penanganan yang dijanjikan.

“Baunya sangat menyengat, apalagi kalau cuaca panas. Ini jalan nasional, harusnya bersih dan tertib, bukan malah seperti tempat pembuangan,” kata Sofyan, seorang pengguna jalan.

Tak hanya mengganggu kenyamanan, tumpukan sampah juga berpotensi menimbulkan dampak kesehatan. Lalat beterbangan, bau busuk menyebar, dan lingkungan sekitar menjadi tidak layak, terutama bagi pedagang yang menggantungkan aktivitas di kawasan tersebut.



Sebelumnya, Bupati Aceh Utara H. Ismail A. Jalil atau Ayah Wa pada Jumat, 27 Februari 2026, menyampaikan rencana pengelolaan sampah berbasis kemitraan dengan pihak ketiga profesional. Program itu juga disertai skema retribusi kepada masyarakat dan ditetapkan untuk diuji coba di Panton Labu.

Namun, satu bulan sejak rencana itu disampaikan, kondisi di lapangan justru menunjukkan hal sebaliknya. Tumpukan sampah masih dibiarkan terbuka, tanpa tanda-tanda pengelolaan yang terstruktur seperti yang dijanjikan.

Dalam pemaparannya, Ayah Wa menyebut pihak ketiga nantinya akan menangani seluruh proses mulai dari pengumpulan hingga pengolahan akhir sampah. Pemerintah juga berharap sistem ini dapat menekan beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Kabupaten (APBK) serta meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui retribusi.

Namun di Panton Labu, skema itu belum terlihat berjalan. Tidak tampak perubahan signifikan dalam pengangkutan maupun pengendalian titik-titik pembuangan liar.

Tokoh masyarakat Tanah Jambo Aye, Samsul Bahri, sebelumnya menyambut baik rencana tersebut. Ia berharap persoalan sampah yang telah lama dikeluhkan bisa segera teratasi.

Harapan itu kini berhadapan dengan realitas di lapangan. Alih-alih membaik, kondisi justru memperlihatkan bahwa persoalan mendasar pengawasan dan konsistensi pelaksanaan belum terselesaikan.

Ironi pun tak terhindarkan. Para pemudik yang melintasi jalur utama ini bukan disambut wajah kota yang bersih, melainkan bau sampah yang menyengat. Jalan nasional yang semestinya mencerminkan ketertiban berubah menjadi etalase kegagalan pengelolaan lingkungan.

Jika uji coba di Panton Labu dimaksudkan sebagai percontohan, maka kondisi hari ini justru memberi sinyal sebaliknya: program pengelolaan sampah itu belum berjalan, atau lebih jauh, belum bekerja.(*) 



Penulis : Redaksi  | Editor : Syahrul