Tak Semua yang Pandai Bicara Pantas Didengar: Petuah Lama Ini Menusuk Zaman Hari Ini
Font Terkecil
Font Terbesar
ACEH UTARA | PASESATU.COM — Di tengah derasnya arus informasi dan semakin terbukanya ruang publik untuk berpendapat, sebuah petuah lama dari Aceh kembali relevan untuk direnungkan. Pesan tersebut mengingatkan pentingnya kebijaksanaan dalam berbicara dan menempatkan diri di ruang publik.
Dalam kehidupan saat ini, kemudahan menyampaikan pendapat tidak selalu diiringi dengan kedalaman pemahaman. Fenomena ini terlihat dari banyaknya individu yang tampil percaya diri di ruang publik, namun belum tentu memiliki landasan pengetahuan yang memadai.
Sejumlah tokoh masyarakat menilai kondisi ini bukan hal baru. Sejak dahulu, orang tua di Aceh telah mengingatkan bahwa kemampuan berbicara tidak selalu mencerminkan kualitas isi pemikiran. Pesan tersebut diwariskan sebagai bagian dari nilai-nilai sosial yang menekankan adab dalam berpikir dan berbicara.
“Tidak semua yang fasih berbicara layak dijadikan rujukan,” demikian inti dari petuah yang hingga kini masih sering disampaikan dalam berbagai kesempatan.
Di era digital, ruang publik semakin terbuka dan memungkinkan siapa saja untuk menyampaikan pendapat secara luas. Namun, kondisi ini juga menghadirkan tantangan baru, yakni meningkatnya kecenderungan untuk tampil tanpa diimbangi proses belajar yang cukup.
Pengamat sosial melihat bahwa masyarakat saat ini tidak kekurangan suara, melainkan membutuhkan lebih banyak pandangan yang didasarkan pada pengetahuan, pengalaman, dan tanggung jawab.
Fenomena lain yang muncul adalah kecenderungan mengedepankan citra dibandingkan substansi. Individu yang aktif dan vokal kerap lebih mudah mendapatkan perhatian, sementara mereka yang memilih bersikap tenang dan mendalam justru kurang terlihat.
Meski demikian, nilai-nilai yang terkandung dalam petuah lama tersebut tetap dianggap relevan. Pesan itu menekankan bahwa kualitas pemikiran dan kejujuran intelektual akan lebih bertahan dibandingkan sekadar kemampuan menyampaikan kata-kata.
Bagi masyarakat Aceh, nasihat seperti ini merupakan bagian dari warisan budaya yang lahir dari pengalaman dan pengamatan sosial. Nilai tersebut diharapkan dapat menjadi pedoman, khususnya dalam menghadapi dinamika komunikasi di era modern.
Di tengah berbagai perubahan yang terjadi, refleksi terhadap pesan-pesan bijak dari masa lalu dinilai penting untuk menjaga keseimbangan antara kebebasan berpendapat dan tanggung jawab dalam menyampaikan informasi. ***
Penulis : Abdul Rafar





