Pasokan Buah dan Sayur untuk MBG di Aceh Utara Didominasi dari Sumatera Utara
Font Terkecil
Font Terbesar
ACEH UTARA | PASESATU.COM — Ketersediaan bahan pangan berupa buah-buahan dan sayuran untuk kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di kawasan Panton Labu, Kabupaten Aceh Utara, masih sangat bergantung pada pasokan dari luar daerah. Bahkan, sekitar 99 persen komoditas tersebut didatangkan dari wilayah Sumatera Utara.
Kondisi ini terungkap dari hasil pantauan di sejumlah pasar tradisional dan distributor bahan pangan di Panton Labu dan sekitarnya. Berbagai jenis buah seperti jeruk, apel, anggur, hingga melon, serta sayuran seperti kol, wortel, kentang, hingga bahan sayur sop, mayoritas berasal dari sentra produksi hortikultura di Berastagi.
Nazar (25), seorang pedagang di Pasar Panton Labu, menyebutkan bahwa pasokan dari Sumatera Utara dinilai lebih stabil, baik dari segi jumlah maupun kualitas.
“Hampir semua barang dari sana, karena lebih mudah didapat dan stoknya terjamin. Kalau dari lokal masih sangat terbatas,” tutur Nazar, Selasa (21/4/2026) malam.
Ia juga menambahkan, pasca banjir yang melanda sejumlah wilayah di Aceh Utara, beberapa komoditas dapur seperti jeruk nipis, lengkuas, dan sereh juga terpaksa didatangkan dari luar daerah karena produksi lokal terganggu.
Minimnya produksi lokal menjadi salah satu penyebab utama tingginya ketergantungan tersebut. Selain faktor cuaca ekstrem dan keterbatasan lahan, distribusi hasil pertanian lokal juga dinilai belum optimal. Kondisi ini membuat pelaku usaha dan penyedia kebutuhan MBG lebih memilih mengambil pasokan dari luar daerah yang telah memiliki rantai distribusi yang mapan.
Padahal, jika potensi pertanian lokal dapat dimaksimalkan, hal ini diyakini mampu memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat setempat, khususnya para petani di Aceh Utara.
Sejumlah pihak berharap pemerintah daerah dapat mendorong peningkatan produksi hortikultura lokal melalui bantuan bibit unggul, pelatihan bagi petani, hingga pembenahan sistem distribusi. Dengan demikian, kebutuhan program MBG ke depan tidak lagi bergantung hampir sepenuhnya pada pasokan dari luar daerah.
Selain itu, keterlibatan kelompok tani lokal dalam rantai pasok MBG dinilai penting agar program tersebut tidak hanya meningkatkan asupan gizi masyarakat, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi daerah secara berkelanjutan.***



