Pahitnya Kopi Pagi dan “Manisnya” Tagihan di Tengah Keran yang Kering
Font Terkecil
Font Terbesar
ACEH UTARA | PASESATU.COM — Suasana pagi di sebuah kedai kopi kayu di Panton Labu, Aceh Utara, tampak seperti biasa. Kepulan uap dari segelas kopi saring menemani obrolan warga yang memulai aktivitas hariannya. Namun, pagi itu, perbincangan tidak hanya berkisar pada aroma robusta yang khas, melainkan juga keluhan atas tagihan air PDAM yang kembali diterima warga.
Bagi masyarakat Panton Labu, kopi merupakan bagian dari rutinitas pagi. Akan tetapi, kenikmatan itu terasa berkurang ketika pembahasan beralih pada persoalan layanan air bersih yang dinilai tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Di atas meja, gelas kopi terlihat penuh dan pekat. Namun, kondisi berbeda justru terjadi di rumah-rumah pelanggan. Sejumlah warga mengeluhkan keran air yang tidak mengalir, bahkan hanya mengeluarkan desisan angin, sehingga bak penampungan air di rumah mereka kerap kosong.
Salah seorang pelanggan mengungkapkan kekecewaannya terhadap kondisi tersebut. Menurutnya, tagihan rekening PDAM tetap muncul secara rutin meskipun distribusi air sering tersendat.
“Kopi ini jelas harganya karena ada air dan rasanya. Tapi PDAM, airnya sering tidak mengalir, sementara tagihannya tetap berjalan,” ujar seorang warga sambil menunjukkan riwayat tagihan pada telepon genggamnya.
Keluhan serupa juga disampaikan warga lainnya. Mereka menilai kondisi ini menimbulkan kesan tidak adil, terutama ketika distribusi air terhenti hingga beberapa hari, tetapi tagihan tetap tercatat normal, bahkan disebut mengalami kenaikan.
Persoalan ini tidak hanya memicu keresahan, tetapi juga menambah beban ekonomi masyarakat. Selain tetap harus membayar tagihan PDAM agar sambungan tidak diputus, warga juga terpaksa mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli air jeriken guna memenuhi kebutuhan sehari-hari, seperti memasak dan mandi.
“Kadang kami harus beli air lagi untuk kebutuhan dapur. Jadi, pengeluaran jadi dua kali,” kata warga lainnya.
Kondisi tersebut dinilai memberatkan, terutama bagi keluarga dengan pendapatan harian yang terbatas.
Warga berharap pihak manajemen PDAM Tirta Mon Pase dapat turun langsung ke lapangan untuk meninjau kondisi jaringan pipa dan distribusi air di wilayah Panton Labu.
Masyarakat juga meminta adanya transparansi terkait perhitungan tagihan, khususnya pada periode ketika air tidak mengalir. Mereka berharap kebijakan yang diambil dapat memberikan rasa keadilan bagi pelanggan yang selama ini tetap memenuhi kewajiban pembayaran.
Hingga kini, pertanyaan yang terus muncul di tengah masyarakat adalah sampai kapan mereka harus membayar tagihan, sementara layanan air bersih yang menjadi hak pelanggan belum sepenuhnya terpenuhi.***
Penulis : Abdul Rafar


