LIPSUS: Bertahan Pasca Banjir, Warga Aceh Utara Menanti Bantuan di Tengah Ancaman Krisis Pangan
![]() |
| Foto : Abdul Rafar / pasesatu |
ACEH UTARA | PASESATU.COM — Lima bulan setelah banjir melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Aceh Utara, ratusan keluarga di Kecamatan Langkahan masih bertahan di hunian sementara dengan kondisi serba terbatas. Bantuan yang dijanjikan belum sepenuhnya terealisasi, sementara warga terus berjuang memenuhi kebutuhan dasar, memulihkan mata pencaharian, dan menghadapi tekanan psikologis pascabencana.
Di Desa Tanjung Dalam, Kecamatan Langkahan, sebanyak 180 kepala keluarga (KK) masih menempati hunian sementara (huntara). Deretan tenda dan bangunan darurat berdiri di Dusun Buket Seuntang, sebagian mulai menunjukkan tanda kerusakan akibat cuaca dan penggunaan dalam waktu lama.
Pantauan di lokasi, Selasa (21/4/2026), sejumlah anak terlihat bermain tanpa alas kaki di sekitar area huntara. Di dalam tenda, warga dewasa lebih banyak menunggu sambil berharap bantuan segera datang.
Aparatur Desa Tanjung Dalam, Abdullah, mengatakan bantuan jatah hidup (jadup) yang sebelumnya dijanjikan hingga kini belum diterima warga.
“Sudah lima bulan kami berada di sini, tetapi sampai hari ini bantuan yang dijanjikan belum kami terima,” kata Abdullah.
Menurut dia, bantuan tersebut sempat dijadwalkan cair pada 10 Ramadan, lalu diundur menjadi 25 Ramadan. Namun hingga kini, warga mengaku belum memperoleh kepastian penyaluran.
Kondisi tersebut memaksa sebagian warga mencari sumber penghasilan alternatif. Beberapa warga mengumpulkan lidi pelepah sawit dari kebun sekitar untuk dijual.
“Harganya sekitar Rp5.000 per kilogram. Dalam sehari paling banyak dapat dua kilogram,” ujarnya.
Penghasilan tersebut, kata Abdullah, belum cukup untuk memenuhi kebutuhan makan keluarga.
Bertahan dari Sapu Lidi dan Pekerjaan Serabutan
![]() |
| Foto : Abdul Rafar / pasesatu |
Di Dusun Pante Ara, dampak banjir masih terasa kuat dalam kehidupan sehari-hari warga.
Faridah (45), salah seorang penyintas, kini menggantungkan penghasilan keluarga dari membuat sapu lidi bersama suaminya, Abdul Wahab (55).
Sebelum bencana, keluarga itu mengandalkan kebun jeruk sebagai sumber utama mata pencaharian. Namun, kebun tersebut rusak akibat banjir dan tidak lagi produktif.
“Kebun kami rusak semua, habis,” kata Faridah.
Kini, sapu lidi yang dibuat dijual dengan harga Rp5.000 per kilogram. Namun, hasilnya tidak menentu.
Dalam satu minggu, Faridah hanya mampu mengumpulkan sekitar lima kilogram lidi, bahkan terkadang membutuhkan waktu hingga dua pekan.
“Kalau dibilang cukup, ya tidak. Tapi daripada tidak ada sama sekali,” ujarnya.
Ia masih harus memenuhi kebutuhan tiga anggota keluarga, termasuk dua anak yang masih bersekolah.
Tekanan Mental dan Minimnya Fasilitas Dasar
Tekanan ekonomi yang berkepanjangan mulai berdampak pada kondisi psikologis warga.
Abdullah menyebut sedikitnya lima warga mengalami tekanan mental akibat kesulitan memenuhi kebutuhan dasar keluarga.
Salah satunya adalah seorang ibu dengan dua anak balita yang disebut mengalami tekanan berat karena tidak mampu memenuhi kebutuhan anak-anaknya.
Selain itu, fasilitas dasar di lokasi huntara juga belum memadai.
Bangunan hunian tambahan yang telah dibangun pemerintah disebut belum dapat ditempati karena sanitasi dan fasilitas pendukung lainnya belum tersedia.
“Bangunannya sudah ada, tetapi belum layak ditempati karena fasilitas belum lengkap,” kata Abdullah.
Dapur umum yang sempat dijanjikan juga belum beroperasi.
Lansia Tunanetra Bertahan di Tenda Bersama Anak yang Sakit
![]() |
| Foto : Abdul Rafar / pasesatu |
Di sudut lain Dusun Pante Ara, Halimah, seorang lansia tunanetra, masih bertahan di tenda darurat bersama putranya, Ibrahim (30), yang disebut mengalami gangguan kejiwaan.
Keduanya hidup dalam kondisi rentan, dengan akses terbatas terhadap layanan kesehatan dan bantuan sosial.
Wakil Ketua Tuha Peut setempat, Abdullah, mengatakan keluarga tersebut belum menerima bantuan yang sebelumnya dijanjikan.
“Untuk makan saja hanya berharap bantuan dari warga sekitar,” ujarnya.
Jarak menuju fasilitas kesehatan dan keterbatasan biaya menjadi kendala utama bagi keluarga tersebut untuk mendapatkan pengobatan.
Dampak Meluas ke Sektor Pertanian
![]() |
| Foto : Abdul Rafar / pasesatu |
Bencana yang terjadi juga berdampak pada sektor pertanian, yang menjadi sumber penghidupan utama masyarakat di Aceh Utara.
Di Kecamatan Baktiya Barat, petani mulai memanen padi. Namun harga jual gabah di tingkat petani hanya Rp6.000 per kilogram, di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp6.500 per kilogram.
Petani asal Gampong Matang Teungoh, Tgk Razali, mengatakan kondisi ekonomi masyarakat masih terpuruk pascabanjir.
“Banyak areal persawahan masih tertutup lumpur sehingga tidak dapat dikelola,” ujarnya, Rabu (22/4/2026).
Selain harga gabah yang rendah, petani juga menghadapi ancaman gagal tanam akibat belum mengalirnya air irigasi.
Sejumlah hamparan sawah di Kecamatan Baktiya Barat terlihat mulai mengering.
“Kalau air tidak segera masuk, kami takut sawah rusak dan panen gagal,” kata Razali.
Ketua Forum Geuchik Baktiya Barat, Ziaul Syamsi, meminta pemerintah segera mengambil langkah cepat untuk mengalirkan air irigasi ke areal persawahan warga.
Pendidikan Tetap Tumbuh di Tengah Keterbatasan
![]() |
| Foto : Abdul Rafar / pasesatu |
Di tengah berbagai kesulitan, semangat pendidikan tetap terlihat di Gampong Geulumpang Bungkok, Kecamatan Baktiya.
Di sebuah balai sederhana di kompleks Masjid Meunje Peut, puluhan anak tampak mengikuti kegiatan belajar sore.
Tanpa ruang kelas permanen dan fasilitas modern, balai terbuka di tepi persawahan menjadi tempat anak-anak menimba ilmu.
Seorang warga setempat mengatakan masyarakat terus mendukung kegiatan tersebut.
“Yang penting anak-anak tetap punya semangat untuk belajar,” ujarnya.
Bagi masyarakat desa, pendidikan tetap menjadi harapan utama untuk masa depan generasi muda.
Menunggu Kepastian Pemulihan
Lima bulan pascabencana, kehidupan warga Aceh Utara masih jauh dari pulih.
Sebagian masih tinggal di huntara, sebagian lain berjuang memulihkan ekonomi keluarga dari pekerjaan serabutan dan sektor pertanian yang belum stabil.
Di tengah kondisi tersebut, warga berharap pemerintah segera merealisasikan bantuan, mempercepat pemulihan hunian, dan memastikan keberlangsungan mata pencaharian masyarakat.
Bagi para penyintas, pulang ke rumah dan memulai hidup kembali tetap menjadi harapan terbesar.***
Penulis : Syahrul






