BERITA TERKINI

Ancaman Kelaparan Mengintai Penyintas Banjir Aceh Utara


ACEH UTARA | PASESATU.COM 
— Ancaman kelaparan mulai membayangi penyintas banjir di Aceh Utara. Sawah yang masih tertutup lumpur membuat petani kehilangan sumber penghasilan, sementara bantuan kian sulit diakses dan musim kemarau mulai memperparah keadaan.

Bagi warga, waktu tidak lagi berpihak. Musim tanam terus berjalan tanpa menunggu pemulihan lahan. Di sejumlah kecamatan, ratusan hektare sawah dilaporkan belum bisa digarap akibat endapan lumpur yang tebal. Kondisi ini membuat penyintas berada dalam situasi serba terjepit tanpa penghasilan, tanpa kepastian.

“Kalau belum bisa turun ke sawah, kami tidak punya penghasilan. Mau bergantung sampai kapan?” kata Nurdin, warga Baktiya, Jumat, 27 Maret 2026.

Di lapangan, kebutuhan paling mendesak bagi masyarakat bukan lagi hunian sementara (huntara) atau hunian tetap (huntap). Yang mereka butuhkan adalah akses untuk kembali bekerja. Namun hingga kini, pemulihan lahan pertanian belum menunjukkan percepatan signifikan.

Situasi serupa juga dirasakan warga di Kecamatan Tanah Jambo Aye. Jamaluddin Idris, 38 tahun, warga Matang Seuke Pulot, mengatakan persoalan ini tidak hanya terjadi di desanya, tetapi hampir merata di wilayah penyintas banjir.

“Masyarakat bisa kelaparan kalau ini dibiarkan. Bantuan beras saja sekarang sudah mulai sulit,” ujarnya.

Menurut dia, kondisi kian memburuk seiring masuknya musim kemarau. Air sumur warga mulai mengering, sementara akses terhadap air bersih semakin terbatas. Dalam kondisi seperti ini, beban penyintas tidak hanya soal ekonomi, tetapi juga menyangkut kebutuhan dasar untuk bertahan hidup.

Di sisi lain, pembahasan mengenai pembangunan huntara dan huntap masih terus bergulir dalam berbagai forum. Program tersebut dinilai penting dalam jangka panjang, namun bagi penyintas, kebutuhan mendesak saat ini adalah pemulihan sumber penghidupan.

Kontras pun tak terelakkan. Ketika wacana terus dibicarakan di ruang-ruang rapat, realitas di lapangan bergerak lebih cepat. Penyintas berpacu dengan waktu, sementara musim tanam tidak bisa ditunda. Jika terlewat, dampaknya tidak hanya pada hilangnya panen, tetapi juga berkurangnya pasokan pangan di daerah.

Dalam nada kritik, Jamaluddin menilai perhatian pemerintah belum sepenuhnya menyentuh persoalan utama masyarakat. Ia menyinggung sikap sebagian pihak yang dianggap tidak peka terhadap kondisi di lapangan.

“Jangan sibuk menghitung uang THR lalu dipamerkan di media sosial. Lihat nasib petani di Aceh Utara,” katanya.

Ia juga mendesak Bupati Aceh Utara untuk segera mengambil langkah konkret guna mengantisipasi krisis yang lebih luas. Menurutnya, jika persoalan ini dibiarkan berlarut, bukan tidak mungkin penyintas akan menghadapi situasi yang lebih berat, termasuk kesulitan pangan.

“Jangan sampai masyarakat menyesal,” ujarnya.

Sejumlah warga berharap pemerintah segera mengalihkan fokus pada percepatan normalisasi lahan pertanian, distribusi bantuan pangan yang merata, serta penyediaan air bersih di wilayah-wilayah terdampak.

Bagi masyarakat, sawah bukan sekadar lahan. Ia adalah denyut kehidupan. Dari sanalah mereka bertahan, memberi makan keluarga, dan menjaga keberlangsungan hidup.

Selama lumpur masih menutup tanah itu, harapan untuk bangkit pun ikut tertahan.

Kini, yang ditunggu penyintas bukan lagi janji atau rencana. Melainkan tindakan nyata sebelum krisis benar-benar berubah menjadi bencana baru.(*) 


Penulis : Redaksi | Editor : Syahrul