Meunasah yang Ditinggalkan, Ia Masih Berdiri Tapi Fungsinya Telah Lama Mati
ACEH UTARA | PASESATU.COM — Meunasah itu tidak runtuh. Setidaknya tidak secara kasatmata. Dindingnya masih tegak, atapnya belum sepenuhnya rebah. Dari luar, bangunan di Dusun Teungoh, Desa Buket Linteung, Kecamatan Langkahan, itu tampak seperti fasilitas umum yang sekadar menua.
Namun warga tahu, yang terjadi lebih dari sekadar kerusakan fisik.
Fungsinya telah mati.
Minggu, 29 Maret 2026, tak ada aktivitas di sana. Tak terdengar suara doa, tak ada musyawarah, tak ada jejak kehidupan sosial yang dulu menjadikannya pusat kampung. Meunasah itu kini kosong—bukan hanya dari manusia, tetapi juga dari makna.
Padahal di Aceh, meunasah bukan bangunan pelengkap. Ia adalah pusat kehidupan. Tempat ibadah sekaligus ruang musyawarah. Di sana warga menyelesaikan persoalan, membangun kesepahaman, dan menjaga ikatan sosial.
Ketika meunasah berhenti berfungsi, yang hilang bukan hanya satu fasilitas.
Yang hilang adalah pusat gravitasi kampung.
“Dulu di sinilah kami semua berkumpul,” kata seorang warga, lirih. “Sekarang tidak bisa lagi dipakai.”
Kalimat itu sederhana, tetapi menyimpan perubahan besar. Dari ruang hidup menjadi ruang kosong. Dari tempat bertemu menjadi tempat yang ditinggalkan.
Bencana yang melanda kawasan ini memang merusak banyak hal. Tetapi yang paling terasa bukan hanya yang roboh, melainkan yang dibiarkan perlahan mati. Meunasah di Dusun Teungoh adalah salah satunya.
Ia tidak hancur total. Justru itu yang membuatnya terasa ganjil.
Bangunan itu seperti dipertahankan dalam kondisi setengah hidup cukup utuh untuk dikenali, tetapi terlalu rusak untuk difungsikan. Akibatnya, ia berubah menjadi pengingat yang terus-menerus: tentang apa yang hilang, dan apa yang belum dipulihkan.
Tak ada lagi musyawarah kampung di sana. Tak ada lagi ruang bersama untuk menyelesaikan persoalan. Aktivitas sosial yang dulu terpusat kini tercerai-berai tanpa titik temu yang jelas.
Dalam jangka panjang, kehilangan itu tidak sederhana.
Ketiadaan ruang bersama berarti melemahnya ikatan sosial. Tanpa meunasah, warga kehilangan tempat untuk merawat kebersamaan secara rutin. Yang tersisa hanya hubungan yang bergantung pada situasi, bukan pada ruang yang secara sengaja dipelihara.
Amatan di lokasi menunjukkan, meunasah itu kini lebih berfungsi sebagai simbol ketimbang fasilitas. Ia berdiri sebagai penanda luka yang belum ditangani secara tuntas.
Bukan karena tidak terlihat.
Melainkan karena belum diprioritaskan.
Warga masih menyimpan harapan. Mereka ingin meunasah itu kembali hidup bukan sekadar diperbaiki, tetapi difungsikan seperti semula. Sebagai tempat ibadah, ruang musyawarah, dan pusat kehidupan kampung.
Namun hingga kini, harapan itu belum bergerak.
Meunasah itu tetap ada, tetapi dibiarkan tanpa kepastian. Tanpa arah pemulihan yang jelas. Tanpa tanda bahwa ia akan kembali menjadi pusat kampung.
Yang terjadi di Dusun Teungoh menunjukkan satu hal: pemulihan pascabencana tidak cukup dengan membangun kembali yang roboh.
Yang lebih mendesak adalah menghidupkan kembali yang mati pelan-pelan.
Dan di kampung ini, yang mati itu bernama meunasah.(*)
