BERITA TERKINI

Hari Ini Rumah Kembali Sepi, Saat Anak Pergi Menjemput Takdir Baiknya



PASESATU.COM 
— Hari ini, rumah kembali sepi.

Bukan karena tak ada orang di dalamnya. Bukan karena pintu-pintu tertutup atau lampu-lampu padam, tetapi karena satu suara yang selama ini membuat rumah ini terasa hidup, hari ini perlahan menjauh meninggalkan halaman.

Suara itu adalah suara anak.

Anak yang dulu hadir sebagai amanah kecil dari Allah, yang tangis pertamanya pernah membuat rumah ini dipenuhi syukur. Anak yang dulu kami gendong dengan tangan yang gemetar, kami dekap dengan cinta yang tak pernah tahu batas, dan kami besarkan dengan doa-doa yang tak pernah putus, bahkan di sepertiga malam saat dunia sedang terlelap.

Hari ini, anak itu pergi.

Bukan pergi untuk meninggalkan. Bukan pergi untuk menjauh dari kasih sayang orang tuanya, tetapi pergi untuk menjemput masa depannya, mengejar cita-citanya, dan menjalani jalan hidup yang telah Allah tuliskan untuknya jauh sebelum kami mampu memeluknya untuk pertama kali.

Namun, setabah apa pun hati mencoba ikhlas, tetap saja ada yang pecah diam-diam di dalam dada.

Sebab, tak ada orang tua yang benar-benar siap melihat anak yang dulu tidur di sampingnya kini harus tidur jauh di tempat lain. Tak ada orang tua yang benar-benar kuat saat menyadari bahwa anak yang dulu selalu pulang ke rumah setiap sore kini harus belajar hidup di luar pelukan ayah dan ibunya.

Waktu benar-benar tidak pernah memberi aba-aba.

Ia berjalan begitu cepat hingga kami tak sadar kapan tepatnya anak kecil yang dulu kami suapi, kami mandikan, kami ajari mengucap doa-doa pendek, tiba-tiba tumbuh menjadi seseorang yang harus kami lepas dengan air mata yang kami sembunyikan di balik senyum.

Baru kemarin rasanya kami mendengar suara kecilnya memanggil dari balik pintu kamar. Baru kemarin rasanya rumah ini riuh oleh langkah-langkah mungilnya yang berlari dari satu sudut ke sudut lain. Baru kemarin rasanya kami menegurnya, menasihatinya, memeluknya ketika ia sedih, dan mendoakannya ketika ia tertidur lelap.

Kini, semua itu seperti menjadi kenangan yang terlalu cepat berlalu.

Kamar itu masih ada.
Tempat tidurnya masih sama.
Barang-barangnya mungkin masih tersusun seperti biasa.

Namun, rumah ini mendadak terasa berbeda, karena ternyata yang membuat sebuah rumah terasa hidup bukanlah dinding dan atapnya, melainkan keberadaan anak yang selama ini mengisinya dengan tawa, tangis, cerita, canda, dan seluruh kehangatan yang tak pernah bisa dibeli dengan apa pun.

Hari ini, rumah memang masih berdiri.
Namun, hatinya sedang belajar menerima sepi.

Di dalam sepi itu, ada doa-doa yang jatuh lebih deras daripada air mata.

Sebab, pada akhirnya, orang tua memang hanya mampu mengantar sampai batas tertentu. Selebihnya, doa menjadi pelukan paling jauh yang bisa terus menemani anak, bahkan ketika jarak tak lagi memungkinkan tangan untuk meraihnya.

Di saat kaki anak mulai melangkah menjauh dari rumah, yang paling berat sebenarnya bukan koper yang dibawanya, melainkan hati orang tua yang harus belajar rida bahwa anak yang dulu selalu ada di depan mata kini sedang Allah tuntun menuju takdir hidupnya sendiri.

Kami tahu, ya Allah…

Anak ini bukan milik kami sepenuhnya. Ia hanyalah titipan-Mu yang Engkau percayakan untuk kami jaga, kami besarkan, kami didik, dan kami cintai dengan seluruh kemampuan yang kami punya.

Hari ini, ketika ia melangkah pergi, kami sadar bahwa cinta kami tak akan pernah cukup untuk melindunginya setiap saat.

Karena itu, dengan segala kerendahan hati, kami titipkan anak kami kepada-Mu, ya Rabb.

Ya Allah…
Jaga anak kami di mana pun ia berpijak.
Lindungi ia saat kami tak mampu melihat keadaannya.
Kuatkan ia saat ia lelah dan hampir menyerah.
Temani ia saat ia merasa sendiri di tempat yang jauh dari rumah.
Lembutkan hatinya agar tetap dekat dengan-Mu.
Jaga salatnya, jaga imannya, jaga lisannya, jaga pergaulannya, dan jaga langkahnya dari jalan-jalan yang Engkau murkai.

Ya Allah…
Jika kelak dunia tidak ramah padanya, maka jadilah Engkau sebaik-baik penolongnya.
Jika hatinya pernah patah, maka sembuhkanlah dengan cara-Mu.
Jika langkahnya terasa berat, maka kuatkanlah ia dengan kekuatan dari-Mu.

Dan jika suatu hari ia kembali pulang,
izinkan kami menyambutnya dengan pelukan yang sama hangatnya seperti saat pertama kali kami menerimanya di dunia ini.

Amin.***


Penulis : Abdul Rafar