Bupati Aceh Utara Percepat Rehabilitasi Bendung Krueng Pase

Bendungan Krueng Pase. Dok Ist.
ACEH UTARA | PASESATU.COM - Bupati Aceh Utara, Ismail A. Jalil, atau yang akrab disapa Ayahwa, menepati komitmennya dalam percepatan rehabilitasi Bendung Krueng Pase di Gampong Leubok Tuwe, Kecamatan Meurah Mulia. Uji coba pengaliran air resmi dimulai pada Jumat (27/2/2026), dua pekan setelah peninjauan lapangan yang dilakukan sebelumnya.
Uji coba ini menandai capaian progres rehabilitasi bendung menjelang peresmian dan fungsional, sehingga diharapkan dapat memenuhi kebutuhan irigasi bagi ribuan hektare lahan persawahan di Kabupaten Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe.
Bendung Krueng Pase diketahui mengairi sekitar 8.922 hektare sawah yang tersebar di sembilan kecamatan di Kabupaten Aceh Utara, yaitu Meurah Mulia, Samudera, Matangkuli, Tanah Luas, Nibong, Syamtalira Aron, Syamtalira Bayu, Tanah Pasir, serta satu kecamatan di Kota Lhokseumawe, yakni Blang Mangat. Infrastruktur ini menjadi tulang punggung sistem irigasi dan penopang utama produktivitas ribuan petani di kawasan tersebut.
Sebelumnya, bendung peninggalan Belanda itu mengalami kerusakan parah pada 2020 akibat banjir dan tingginya debit air. Kerusakan diperparah oleh banjir bandang dan longsor pada 2025, yang menyebabkan aliran air ke areal persawahan terhenti total. Akibatnya, para petani terpaksa mengandalkan curah hujan, sehingga musim tanam tertunda dan risiko gagal panen meningkat.
Bakhtiar, seorang petani di Kecamatan Meurah Mulia, menyatakan, uji coba pengaliran air membuahkan hasil sesuai rencana Bupati Aceh Utara.
“Alhamdulillah, hari ini air sudah mulai mengalir ke persawahan kami. Terima kasih kepada Bupati Aceh Utara yang telah menepati janjinya,” ujarnya.
Ia menambahkan, sebagian persawahan masih tertutup lumpur dan material sisa banjir, sehingga proses penanaman belum berjalan maksimal. “Kami harus membersihkan lumpur terlebih dahulu sebelum bisa menanam lagi. Mudah-mudahan dengan air yang sudah mulai mengalir, lahan segera pulih dan kami bisa turun tanam serentak,” katanya.
Bakhtiar juga berharap pemerintah memberikan perhatian terhadap pembersihan endapan lumpur sisa bencana banjir pada November 2025, serta melakukan normalisasi saluran sekunder dan tersier agar distribusi air merata hingga seluruh persawahan. “Jika saluran-saluran pembawa dan saluran kecil belum dibersihkan, air tidak akan mengalir ke semua sawah. Kami berharap ada gotong royong bersama atau dukungan alat berat untuk mempercepat proses pembersihan,” ujarnya.
Para petani menaruh harapan besar agar uji coba ini berjalan lancar dan bendung dapat segera difungsikan secara optimal. Dengan demikian, musim tanam mendatang dapat berlangsung tepat waktu sekaligus membantu memulihkan perekonomian warga yang terdampak bencana akhir tahun lalu.(*)




