Menjemput Sehat di Tengah Lumpur, Ketika Puskesmas Tanah Jambo Aye Bergerak untuk Warga Pascabanjir
![]() |
| Tenaga kesehatan Puskesmas Tanah Jambo Aye memberikan layanan kesehatan bergerak kepada warga terdampak banjir sebagai upaya memastikan akses layanan tetap terpenuhi. Dok Ist. |
Di sinilah Puskesmas Tanah Jambo Aye mengambil peran. Tidak menunggu warga datang, mereka justru bergerak mendatangi masyarakat.
Sejak Desember 2025 hingga Januari 2026, pelayanan kesehatan bergerak dilakukan secara berkelanjutan ke 30 desa dalam wilayah kerja Puskesmas Tanah Jambo Aye. Tim medis membawa obat-obatan, alat pemeriksaan, serta satu hal yang tak kalah penting: kepastian bahwa layanan kesehatan tetap hadir di tengah keterbatasan.
Banjir telah memutus banyak akses. Kendaraan warga rusak, jarak ke fasilitas kesehatan terasa semakin jauh, sementara penyakit justru bermunculan. Pascabanjir, penyakit kulit dan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjadi keluhan paling dominan. Lingkungan yang lembap dan air kotor memicu infeksi jamur seperti tinea pedis dan tinea cruris, sementara ISPA banyak menyerang anak-anak dan lansia yang tinggal di rumah-rumah yang belum sepenuhnya kering.
“Dalam kondisi seperti ini, kami tidak bisa hanya menunggu pasien datang. Kami harus hadir langsung,” ujar Kepala Puskesmas Tanah Jambo Aye, H. Yusriadi, S.Kep., MKM.
Pelayanan bergerak ini dilaksanakan berdasarkan arahan Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Aceh Utara, Abdurrahman. Tim medis tidak hanya memberikan pengobatan, tetapi juga edukasi kesehatan lingkungan dan pendampingan psikososial bagi warga yang masih menyimpan trauma akibat banjir.
Bagi Camat Tanah Jambo Aye, Fauzi Saputra, S.IP, langkah Puskesmas tersebut mencerminkan wajah pemerintah yang sigap dan peka terhadap realitas masyarakat.
“Bencana tidak berhenti saat air surut. Justru setelahnya, kebutuhan masyarakat semakin kompleks. Pelayanan kesehatan bergerak ini adalah bentuk kehadiran pemerintah yang nyata,” katanya.
Apresiasi juga datang dari wakil rakyat. Anggota DPRK Aceh Utara Fraksi PKS, Zulkifli, menilai pelayanan mobile sebagai model yang relevan bagi wilayah rawan bencana. Menurutnya, dukungan kebijakan dan penguatan sarana kesehatan menjadi kunci agar layanan seperti ini dapat berkelanjutan.
“Pengalaman ini menunjukkan bahwa kesiapsiagaan daerah harus dibangun jauh sebelum bencana datang,” ujarnya.
Dari tingkat desa, suara apresiasi terasa lebih personal. Zulfikar, Geuchik Gampong Sama Kurok, menyaksikan langsung bagaimana warganya terbantu oleh kehadiran tim kesehatan. Di tengah keterbatasan transportasi, pelayanan mobile menjadi satu-satunya akses kesehatan bagi sebagian warga.
“Bagi kami, ini bukan sekadar pelayanan, tapi pertolongan. Warga merasa diperhatikan,” tuturnya.
Namun, di balik dedikasi itu, tantangan masih membayangi. Sejumlah fasilitas Puskesmas mengalami kerusakan akibat banjir, mulai dari dental unit, kulkas vaksin, hingga ambulans yang kerap mengalami gangguan saat merujuk pasien. Harapan kini tertuju pada perhatian pemerintah daerah agar pemulihan fasilitas kesehatan menjadi bagian dari agenda pascabanjir.
Di Tanah Jambo Aye, negara tidak hadir dalam baliho atau pidato panjang. Ia hadir dalam kendaraan sederhana yang menyusuri desa, dalam tangan tenaga kesehatan yang memeriksa satu per satu pasien, dan dalam kesabaran mendengar keluhan warga. Di jalan-jalan berlumpur itu, pelayanan bergerak menjadi bukti bahwa negara benar-benar menjemput warganya.(*)

