Harga Pinang Rp9.000 per Kilogram, Petani Pedalaman di Aceh Timur Harapkan Perhatian Pemerintah
Untuk menghasilkan pinang kering, petani harus melalui tahapan yang cukup panjang, mulai dari memanen buah, membelah secara manual, menjemur selama beberapa hari, hingga menunggu kedatangan pengepul ke desa. Seluruh proses tersebut dilakukan dengan peralatan sederhana dan biaya mandiri.
Salah seorang petani setempat mengungkapkan bahwa hasil yang diperoleh belum mampu menutup tenaga dan waktu yang telah dikeluarkan.
“Jika dihitung, tenaga yang kami keluarkan tidak sebanding dengan harga jual. Namun, kami tetap bertahan karena ini merupakan sumber penghasilan utama,” ujarnya.
Kondisi ini diperparah oleh keterbatasan akses pasar serta ketergantungan terhadap tengkulak. Situasi tersebut membuat petani memiliki posisi tawar yang lemah dalam menentukan harga jual. Di sisi lain, kenaikan harga kebutuhan pokok turut menambah beban ekonomi masyarakat pedesaan.
Pada Sabtu (21/2/2026), sejumlah petani menyampaikan harapan agar pemerintah daerah dan pihak terkait dapat memberikan perhatian terhadap stabilitas harga komoditas pinang. Mereka juga menginginkan adanya sistem pemasaran yang lebih transparan dan adil guna memperpendek rantai distribusi.
Bagi masyarakat pedalaman, stabilitas harga pinang tidak hanya berkaitan dengan pendapatan, tetapi juga menyangkut keberlanjutan pendidikan anak, perbaikan tempat tinggal, serta pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari.(*)
