Rumah Terendam Banjir, Harta Benda Terbawa Arus, Jurnalis Ini Terluka Parah
Font Terkecil
Font Terbesar
ACEH TIMUR | PASESATU.COM - Banjiir hebat ya g melanda wilayah kecamatan Madat Aceh Timur pada. Kamis 27 November 2025 turut menghujam rumah Azhar sapaan akrab Raiz Azhary jurnalis yang bertugas di Aceh Timur dan Aceh Utara.
Raiz menceritakan bahwa bencana banjir hebat yang melanda rumahnya di Dusun Lembah, Desa Blang Andam, Kecamatan Madat Ceh Timur terjadi sekitat pukul 7.25 WIB pagi.
Menurutnya, banjir hebat yang menerjang rumahnya turut membawakan hampir seluruh barang barang berharga miliknya.
Saya terbangun karena mendengar suara keras, dan saya melihat arus air yang deras sudah masuk kerumah dan semua pintu dibuka paksa oleh terjangan air. Saya hanya bisa pasrah, semua barang-barang berharga tidak sempat saya selamatkan. Kecuali satu unit ponsel merek Vivo 1 dan sebuah kulkas. Saya lari dengan pakaian celana shorts, baju singlet dan kain sarung sambil beritahu tetangga agar berhati - hati karena debit air semakin meningkat.
Rumah saya terendam dengan ketinggian air sekitar 1,5 meter datang begitu cepat dalam jangka waktu 20 menit air naik hampir 2 meter.
Untungnya, anak, cucu dan menantu saya cepat keluar menyelamatkan diri ke Masjid. Sementara saya membantu evakuasi kakak yang kurang sehat, waktu itu saya pikir banjir biasa karena curah hujan tinggi. Namun banjir kali ini paling parah yang pernah saya alami seumur hidup hingga menyebabkan
Barang-barang berharga seperti satu sepeda motor, Vario tahun 2010 terendam. Kaca belakang mobil pecah akibat dihantam kayu yang terbawa arus air, padahal mobil jenis kijang capsul tahun rendah hanya pinjam pakai untuk kerja meliput, barang lain seperti TV Merek panasonik 2 unit, 1 mesin cuci, Cosmos, 2 lemari baju, dan surat surat penting, peralatan elektronik lainnya, spring bed tempat tidur, peralatan dapur, semuanya tenggelam dan terbawa arus air.
Alat kerja jurnalistik turut terendam air berlumpur tebal, satu printer, 1 hardisk 500 GB serta 2 flashdisk 8GB hilang terbawa air.
Tanpa pikir panjang saya langsung menuju masjid menyelamatkan diri dan di sana saya melihat sudah banyak warga desa tetangga yang mengungsi. Saya liat ratusan warga hanya mampu duduk dengan wajah lesu dan rasa kuatir.
Selama tiga malam kami mengungsi di masjid hanya makan nasi tanpa lauk, itu pun sepiring dibagi 2 orang. Setelah makan kami juga harus tahan haus karena tidak ada air. Selama 3 hari kami tidur di lantai masjid dan banyak anak-anak sekitar menangis minta air dan makanan. Kerugian yang saya alami banjir sekitar Rp 90 juta.
Pada hari ke 4 saya bersama sebagian pengungsi lain pulang ke rumah karena air sudah surut guna untuk membersihkan lumpur.
Sesampainya di rumah, saya lihat semua pintu dalam keadaan terbuka, lumpur didalam rumah hampir 1 meter. Batang pohon dan sampah padat di dalam rumah. Selain itu disekitar rumah ada 6 rumah kontruksi kayu terlihat rusak ringan, namun barang di dalam nya juga terbawa arus air.
Hingga hari ini, Jum'at 26 Desember 2025, bantuan kami terima berupa sembako dari pemerintah ada, tapi belum mencukupi. Jujur saya yang sangat kami butuhkan saat ini adalah makanan, obat- obatan serta air bersih layak konsumsi. Selain itu pakaian juga sangat kami butuhkan.
Walaupun kondisi saat listrik sudah agak normal dan jaringan internet lumayan stabil, yang sebelumnya untuk mengisi daya masyarakat harus berangkat ke pusat kota Panton Labu jaraknya sekitar 2 kilometer. Itupun sepanjang jalan berdebu dan banyak rumah amburadul, sekolah - sekolah terlihat berlumpur.
Masayarakat masih sangat trauma karena banjir dahsyat dengan ketingian air hampir 2 meter dan ini belum pernah terjadi dalam sejarah hidup saya. Rasa trauma berat terasa saat malam hari apalagi saat hujan turun. Masyarakat pun sangat was-was jika banjir ini kembali terjadi.
Selain korban harta benda, saya juga terjatuh saat evakuasi warga di hari kedua banjir, pipi saya kiri terluka terbentur beton akibatnya darah segar keluar dari hidung dan mulut, namun tidak sempat pingsan. Saya dibawa ke rumah sakit oleh Keuchik Bintah dan hanya menjalani perawatan satu malam, selanjutnya saya pulang kerumah, walau dokter menganjurkan saya harus dirawat inap atau ke rumah sakit Cut Mutia Aceh Utara karena keluar dari dari hidung dan mulut akibat terbentur beton.
Anjuran dokter tidak saya dengar saat itu, saya merasa trauma dan minta bantu di antar kerumah oleh Masri rekan seprofi.
Sesampai dirumah kondisi saya lemah dan harus di infus selama 4 hari. Seminggu kemudian saya baru ke rumah sakit Cut Mutia untuk scanning kepala sekaligus rawat jalan. Hingga saat ini rumah masih berantakan dan juga mobil kijang masih berada di halaman rumah dipenuhi lumpur dengan kondisi mesin rusak dan kaca belakang pecah," pungkasnya. (*)
