Murthala: Suara Rakyat Aceh di Tengah Banjir dan Lumpur
Font Terkecil
Font Terbesar
ACEH | PASESATU.COM — Di tengah derasnya hujan dan derasnya banjir yang melanda berbagai wilayah di Aceh, seorang aparatur sipil negara muncul dengan cara yang jarang ditemui di dunia birokrasi. Murthalamuddin, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Aceh sekaligus juru bicara Posko Bencana Hidrometeorologi, berbicara tidak sekadar menyampaikan data atau angka statistik ia berbicara tentang manusia, tentang nyawa yang terperangkap, dan tentang ketidakpastian yang dirasakan warga Aceh saat ini.
Dalam berbagai kesempatan wawancara dengan media nasional, Murthala menolak memoles fakta. Ia terang-terangan mengakui bahwa masih ada warga yang terisolasi, masih ada rakyat yang mempertaruhkan nyawa mereka setiap hari, dan bantuan yang dijanjikan pemerintah sering tidak sampai. Ia menolak menjadikan kegagalan sebagai prestasi, dan menolak kata-kata manis yang tidak mencerminkan kenyataan di lapangan.
“Sampai hari ini, ada masyarakat yang tetap bertahan di tengah banjir, terperangkap antara lumpur dan air. Mereka menunggu, tapi tidak ada yang datang,” katanya.
Murthala bahkan tidak ragu mengoreksi informasi pejabat tinggi yang tidak sesuai fakta. Ia menegur keras klaim helikopter yang dikatakan terbang 24 jam penuh: “Jangan asal bacot! Kalau janji itu direalisasikan tahun depan, yang tersisa sekarang bisa menjadi mayat.”
Di mata Murthala, kejujuran bukan sekadar kata-kata. Itu adalah bentuk keberpihakan pada rakyat. Dalam situasi darurat, di mana rumah-rumah hilang, akses jalan terputus, dan kehidupan digantungkan di atas lumpur, Murthala memilih berdiri di sisi rakyat—bukan di sisi angka atau narasi pencitraan.
Bagi warga Aceh yang terkena dampak banjir, suara Murthala bukan hanya berita. Ia adalah gema jeritan mereka yang menunggu, yang berharap, dan yang masih berjuang mempertahankan kehidupan. Dalam kejujuran seorang pejabat, rakyat menemukan satu hal yang sering hilang: pengakuan bahwa mereka tidak dilupakan, bahwa ada yang benar-benar peduli.
Di tengah ancaman, lumpur, dan air yang tak kunjung surut, keberanian berbicara benar menjadi cahaya kecil. Murthala memilih menjadi cahaya itu—meski risiko kehilangan jabatan dan tekanan politik mengintai di setiap kata yang ia ucapkan.
Di Aceh, di tengah bencana, suara kemanusiaan ini membuktikan satu hal: di balik angka statistik dan laporan resmi, ada nyawa manusia yang tidak bisa diabaikan.
