Berdiri di Atas Bukit, Menunggu Selamat: Kisah Penyintas Banjir Buket Dara Baro
Font Terkecil
Font Terbesar
ACEH UTARA | PASESATU.COM — Hujan turun sejak sore, tapi tak ada yang menyangka malam itu akan menjadi batas antara hidup yang lama dan perjuangan baru. Rabu dini hari, 26 November 2025, sekitar pukul 03.00 WIB, Abdul Hadi (45) terbangun dari tidurnya bukan karena suara petir, melainkan oleh dingin yang merayap ke tubuhnya. Air telah memasuki rumah.
Dalam keadaan setengah sadar, Abdul Hadi meraba lantai. Basah. Seketika ia berdiri dan melihat genangan telah mencapai mata kaki. Rumah yang selama bertahun-tahun ia tempati bersama istri dan dua anaknya di Desa Buket Dara Baro, Kecamatan Baktiya, Kabupaten Aceh Utara, mulai dikepung banjir.
![]() |
| Penampakan Rumah Warga Foto diambil dari atas bukit Desa Buket Dara Baro |
Ia membangunkan istri dan anak-anaknya. Dalam benaknya, sempat terlintas keinginan menyelamatkan barang-barang berharga pakaian, beras, peralatan dapur, dan sedikit tabungan hasil bertani. Namun air naik terlalu cepat. Arus semakin deras. Waktu tidak berpihak.
“Tidak sempat apa-apa. Air datang seperti dikejar,” kenang Abdul Hadi.
Berlari di Tengah Gelap dan Hujan
Video Rekaman Warga
Di sekitar rumahnya, masih ada satu bukit yang lebih tinggi. Dalam gelap, ditemani hujan dan suara air yang kian mengganas, Abdul Hadi memutuskan membawa istri, anak-anak, dan mertuanya yang tinggal di rumah terpisah menuju bukit tersebut. Mereka berlari, menembus genangan yang terus meninggi.
Sesampainya di atas bukit, mereka hanya bisa berdiri. Tidak ada bangunan, tidak ada pelindung. Hujan mengguyur tanpa ampun. Anak-anak menggigil, pakaian basah menempel di tubuh. Malam terasa sangat panjang.
“Kami hanya berdiri, menunggu. Tak tahu sampai kapan,” katanya pelan.
Dievakuasi dengan Rakit Darurat
Pagi menjelang. Sekitar pukul 08.00 WIB, warga Desa Buket Dara Baro yang berada di wilayah lebih tinggi mulai bergerak. Dengan alat seadanya, mereka membuat rakit dari kayu dan jerigen. Satu per satu warga yang terjebak dievakuasi, termasuk Abdul Hadi beserta keluarganya.
Rakit itu membawa mereka menuju tempat yang lebih aman. Dari kejauhan, Abdul Hadi hanya bisa memandang rumahnya yang perlahan tenggelam.
Banjir sebenarnya telah mulai menggenangi desa sejak 22 November 2025. Saat itu, beberapa kepala keluarga memilih mengungsi lebih awal. Air di badan jalan sudah setinggi paha orang dewasa. Namun Abdul Hadi tetap bertahan.
“Selama ini rumah saya tidak pernah tergenang. Banjir memang rutin, tapi tidak separah ini,” ujarnya.
Keputusan bertahan itu berubah menjadi kenyataan pahit ketika banjir bandang datang pada 26 November 2025. Arus air yang deras menyapu hampir seluruh Aceh Utara dan wilayah sekitarnya.
Tak Tersisa, Bahkan Periuk
Setelah air surut, Abdul Hadi kembali ke lokasi rumahnya. Tidak ada yang bisa diselamatkan. Perabotan, pakaian, bahan makanan, peralatan memasak hampir semuanya lenyap.
“Periuk pun tidak ada. Semua dibawa arus,” katanya.
Kehidupan pascabanjir menjadi ujian baru. Tanpa alat masak dan logistik, keluarga Abdul Hadi harus memulai dari nol. Untuk menyambung hidup, ia kini berjualan durian di kawasan Panton Labu.
Namun modal pun tidak ia miliki. “Saya ambil dulu durian orang. Kalau terjual, baru saya bayar. Itu satu-satunya cara,” ujarnya, dengan nada pasrah namun tetap berusaha bertahan.
Terpinggir di Tengah Bencana
Sebanyak 28 kepala keluarga di Desa Buket Dara Baro terdampak langsung banjir. Namun mereka merasa luput dari perhatian. Letak pemukiman yang terpencar di bukit-bukit kecil membuat penderitaan mereka seolah tak terlihat.
Mayoritas wilayah desa berada di dataran tinggi dan tidak terdampak banjir. Akibatnya, warga yang tinggal di pulau-pulau kecil seperti Buket Khanduri dan Buket Mane merasa berada di pinggir prioritas bantuan.
“Kami lihat di tempat lain bantuan datang berkali-kali. Di sini, kami masih menunggu dan bantuan dari pihak pemerintah baru beras yang sudah disalurkan dan beberapa kebutuhan pokok lainnya, itu pun jauh dari kata cukup,” ujar Abdul Hadi, Jumat malam (19/12/2025).
“Kami memahami bahwa saat ini pemerintah tengah berupaya menyalurkan bantuan ke berbagai pelosok. Kami berharap musibah ini dapat kami lalui dengan penuh kesabaran dan keteguhan.”
Gotong Royong yang Menyelamatkan
Di tengah keterbatasan, solidaritas warga menjadi penopang utama. Masyarakat Buket Dara Baro saling membantu mengevakuasi korban banjir, tidak hanya dari desa mereka sendiri, tetapi juga dari desa tetangga.
Warga mendirikan tempat pengungsian darurat dan menggalang sumbangan secara swadaya. Beras, lauk, dan kebutuhan dasar dikumpulkan sedikit demi sedikit. Selama sekitar tiga hari, para pengungsi bertahan dari hasil gotong royong itu.
Hingga hari ketiga pascabanjir, sejumlah jalur masih terisolasi dan belum bisa dilalui kendaraan. Bantuan dari luar sulit masuk. Warga bertahan dengan persediaan yang ada.
Menunggu dengan Harap yang Tersisa
Pantauan tim Pasesatu saat mengunjungi Desa Buket Dara Baro pada 19 Desember 2025, masih terdapat tiga kepala keluarga dari total 28 keluarga terdampak yang bertahan di meunasah. Mereka belum sepenuhnya kembali ke rumah karena kondisi belum memungkinkan.
Bukhari (55) salah satu di antara mereka yang masih menata ulang hidup dari puing-puing yang tersisa. Tidak banyak yang ia minta.
“Kami hanya ingin bisa hidup normal kembali,” katanya singkat.
Di balik perbukitan Buket Dara Baro, kisah Abdul Hadi menjadi potret sunyi penyintas banjir tentang keteguhan bertahan, tentang kehilangan yang tak selalu terlihat, dan tentang harapan sederhana agar penderitaan mereka tak luput dari perhatian.(*)

