BERITA TERKINI

Air Mata di Pante Bidari: Kisah Duka dan Kepedulian Perantau Aceh untuk Muhammad Azmi


ACEH TIMUR | PASESATU.COM
– Malam itu, suasana rumah sederhana di Gampong Meunasah Tunong, Kecamatan Pante Bidari, Aceh Timur, dipenuhi isak tangis. Di ruang tamu, keluarga dan kerabat masih larut dalam duka mendalam atas kepergian Muhammad Azmi (10), murid Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 7 Aceh Timur yang meninggal dunia akibat tersengat listrik bertegangan tinggi pada Minggu, 17 Agustus 2025 lalu.

Di tengah kesedihan itu, sebuah kunjungan membawa nuansa berbeda. Abdul Rafar, perwakilan Persatuan Perantau Aceh Malaysia (PPAM), hadir untuk menyampaikan amanah para perantau. Ia menyerahkan bantuan berupa beras dan santunan kepada keluarga korban. Meski sederhana, perhatian itu menghadirkan makna besar: solidaritas dan kepedulian yang melintasi jarak.

“Ini titipan dari saudara-saudara kita di Malaysia. Mereka ikut merasakan duka yang mendalam. Semoga bisa sedikit meringankan beban keluarga,” ucap Abdul Rafar lirih, disambut haru ibu almarhum, Zainab, yang juga anggota PPAM di Malaysia.

Hari itu seharusnya menjadi momen sukacita. Azmi baru saja mengikuti upacara peringatan HUT RI ke-80 di Lapangan Pante Bidari. Seperti anak-anak lain, ia begitu antusias menyaksikan karnaval yang digelar setelahnya.

Namun takdir berkata lain. Saat berdiri di lantai dua rumah pamannya untuk melihat iring-iringan peserta karnaval, tubuh kecil Azmi tanpa sengaja menyentuh kabel listrik bertegangan tinggi. Seketika, aliran listrik merenggut nyawanya.

Berita duka itu cepat menyebar, mengguncang masyarakat Pante Bidari.  Peristiwa itu turut menggugah hati para perantau Aceh di Malaysia. 

Melalui jaringan komunikasi yang kuat, kabar duka segera sampai ke pengurus PPAM. Organisasi yang selama ini dikenal aktif membantu sesama itu sepakat menggalang solidaritas.

“Bagi kami, setiap musibah yang menimpa saudara di Aceh juga menjadi musibah bagi kami di perantauan. Jarak tidak menghalangi kepedulian,” ujar Abdul Rafar kepada keluarga Korban. 

Bantuan yang diberikan memang tidak seberapa dibandingkan dengan kehilangan besar yang dirasakan keluarga. Namun, lebih dari itu, kepedulian yang ditunjukkan menjadi bukti nyata eratnya ikatan emosional antara perantau dan tanah kelahiran.

Persatuan Perantau Aceh Malaysia (PPAM) merupakan wadah yang menaungi ribuan diaspora Aceh yang bekerja dan menetap di negeri jiran. Selain menjadi tempat silaturahmi, organisasi ini juga dikenal aktif menggalang aksi sosial, baik di Malaysia maupun di Aceh.

Selama ini, PPAM sering terlibat dalam pengiriman bantuan bagi masyarakat Aceh yang tertimpa musibah, mulai dari bencana alam, kebutuhan pendidikan, hingga membantu keluarga kurang mampu.

“Kami sadar, meski hidup di tanah orang, ikatan dengan kampung halaman tidak pernah putus. Justru di situlah letak kekuatan perantau Aceh,” kata Abdul Rafar menegaskan komitmen PPAM.

Di rumah duka, suasana semakin syahdu saat Abdul Rafar menyampaikan pesan duka dari seluruh keluarga besar PPAM. Zainab, ibu almarhum, tak kuasa menahan tangis. Ia merasa kehilangan yang begitu dalam, namun sekaligus terharu karena perhatian yang datang dari jauh.

“Kami tidak menyangka, sampai sejauh itu ada yang peduli. Semoga Allah membalas kebaikan mereka,” ucapnya terbata-bata.

Warga sekitar yang turut hadir mengamini doa tersebut. Bagi mereka, perhatian PPAM bukan hanya sekadar bantuan material, tetapi juga dukungan moral yang sangat berarti. Dalam budaya Aceh, nilai meuripee (saling menolong) memang telah menjadi tradisi yang melekat.

Kepergian Almarhum Muhammad Azmi menjadi pengingat betapa pentingnya keselamatan anak-anak, terutama terkait dengan instalasi listrik di lingkungan pemukiman. Banyak warga berharap, musibah ini dapat membuka mata pemerintah dan pihak terkait untuk melakukan evaluasi agar kejadian serupa tidak terulang.

“Semoga ada perhatian lebih soal keselamatan jaringan listrik di kampung. Kita tidak ingin kehilangan generasi muda lagi karena hal seperti ini,” ujar seorang tokoh masyarakat setempat.

Meski kehilangan itu tak tergantikan, kehadiran PPAM menghadirkan pelajaran berharga: di balik derita, masih ada solidaritas yang menyatukan. Kepedulian yang datang dari seberang lautan memperkuat keyakinan bahwa Aceh, dengan segala ujian dan likunya, akan selalu bertahan berkat semangat kebersamaan.

Azmi telah pergi, namun kisahnya akan selalu hidup sebagai pengingat tentang rapuhnya kehidupan sekaligus tentang kekuatan kasih sayang sesama.

Catatan Redaksi: Artikel ini ditulis untuk mengenang almarhum Muhammad Azmi dan menyoroti pentingnya kepedulian sosial, khususnya peran perantau Aceh di Malaysia yang terus menjaga ikatan dengan tanah kelahiran.(*) 

Editor : Syahrul Usman