Manisan Rakyat, Beban Pedagang, UMKM Lokal di Tengah Krisis Harga
Font Terkecil
Font Terbesar
ACEH UTARA | PASESATU.COM – Di tepi jalan lintas Sumatera yang membelah Desa Teupin Punti, Kecamatan Syamtalira Aron, Kabupaten Aceh Utara, sebuah lapak sederhana berdiri bersahaja. Di sanalah Indra Wayusri, seorang pedagang manisan buah, menggantungkan hidupnya. Bertahun-tahun ia berjualan manisan buah seperti buah sentul (kecapi), buah salak, delima, buah kedongdong dan berbagai jenis buah lainnya, makanan tradisional yang lekat di lidah masyarakat Aceh. Namun kini, usahanya sedang diuji oleh kenyataan ekonomi yang kian sulit ditebak.
"Sekarang sepi pembeli. Dulu bisa sampai tujuh ratus ribu sehari, sekarang empat ratus pun sulit. Semua harga mahal, apalagi Pliek U sekarang sangat mahal," keluh Indra saat ditemui, Kamis (24/7/2025).
Pliek U, atau dikenal juga sebagai batarana, bahan hasil fermentasi kelapa khas Aceh yang memberikan cita rasa asam dan gurih,telah menjadi tulang punggung dari rasa khas manisan yang ia jual. Namun lonjakan harga bahan baku tersebut telah memukul telak keberlanjutan usahanya.
Sebelumnya, Pliek U dibeli Indra seharga Rp. 25.000 per kilogram. Kini, harga bahan fermentasi tersebut menembus Rp. 40.000 hingga Rp. 60.000 per kilogram. Kenaikan tajam ini bukan hanya mengurangi keuntungan, tetapi juga mengancam kelangsungan usaha yang bertumpu pada skala rumahan.
"Kalau sudah begini, kami pedagang kecil benar-benar bingung. Naikkan harga manisan, takut tak laku. Kalau tidak naikkan, kami tekor," ungkapnya.
Tidak hanya Pliek U yang mengalami kelangkaan dan lonjakan harga. Buah sentul sebagai bahan utama juga semakin sulit diperoleh di pasar lokal. Indra kini harus mendatangkannya dari Kabupaten Bireuen. Harga satu goni buah sentul berkisar antara Rp.200.000 hingga Rp. 250.000, setara dengan Rp. 13.000 per kilogram. Padahal, buah ini menjadi komoditas andalan untuk manisan yang dijualnya seharga Rp. 5.000 per porsi.
Fenomena ini mempersempit margin keuntungan secara drastis. Jika sebelumnya Indra bisa menjual hingga ratusan porsi per hari, kini ia mengaku hanya mampu menjual setengahnya. Pembeli utama yang biasanya berasal dari anak-anak sekolah atau pekerja yang melintas kini mulai menipis.
Kondisi ini menggambarkan tekanan ganda yang dialami oleh UMKM. Di satu sisi, biaya produksi meningkat karena naiknya harga bahan baku. Di sisi lain, konsumen semakin hemat akibat tekanan inflasi kebutuhan pokok. Kombinasi ini membuat usaha kecil seperti milik Indra berada di ambang kritis.
Manisan buah sentul yang diproduksi Indra bukan sekadar camilan. Ia menyimpan nilai budaya dan kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Namun dalam sistem ekonomi modern yang makin kompetitif, warisan rasa tradisional itu kini harus bersaing dengan tantangan logistik, harga, dan keterbatasan modal.
“Manisan ini bukan sekadar jualan, ini warisan dari orang tua kami. Tapi kalau kondisinya begini terus, saya takut tak bisa lanjut lama-lama.”
Indra dan pelaku UMKM lain berharap adanya intervensi nyata dari pemerintah daerah, baik dalam bentuk subsidi bahan baku, stabilisasi harga Pliek U, maupun akses pembiayaan mikro yang lebih ringan.
Penguatan akses ke pasar digital juga menjadi kebutuhan penting. Selama ini, pemasaran manisan buah masih sangat bergantung pada penjualan langsung atau dari mulut ke mulut.
Kisah Indra Wayusri bukan sekadar cerita tentang manisan buah. Ia adalah refleksi nyata dari perjuangan pelaku UMKM di tengah tantangan ekonomi yang makin kompleks. Ketika harga bahan pokok meroket dan daya beli menurun, sektor informal yang rapuh menjadi barisan depan yang paling terdampak.
Menjaga UMKM bukan hanya soal menjaga usaha kecil, tetapi juga menjaga identitas budaya kuliner lokal dan memastikan keberlanjutan ekonomi masyarakat akar rumput. Di Aceh Utara, cerita manisan buah sentul menjadi cermin kecil dari tantangan besar yang dihadapi ekonomi rakyat.(*)
