BERITA TERKINI

Haji Uma Guyon ke Wamen Komdigi Nezar Patria soal Facebook yang Sempat Diblok di Rapat Komite I DPD RI

Penulis : Redaksi | Editor : Syahrul
Anggota DPD RI Dapil Aceh, H. Sudirman (Haji Uma) berfoto bersama dengan Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamen Komdigi) Nezar Patria. Usai acara rapat kerja Komite I DPD RI, Selasa (20/01/2026). Foto : Dok Ist. 


JAKARTA | PASESATU.COM — Rapat Kerja Komite I DPD RI bersama Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamen Komdigi) Nezar Patria dan jajaran berlangsung dalam suasana serius, namun sesekali mencair oleh dialog ringan antara dua putra Aceh yang hadir dalam ruangan rapat di gedung DPD RI, Jakarta, Selasa (20/1/2026). 

Kedua putra Aceh dimaksud yaitu Wamen Komdigi Nezar Patria dengan H. Sudirman Haji Uma selaku anggota Komite I DPD RI asal Daerah Pemilihan Aceh. Keduanya tidak hanya satu kampung, namun juga diketahui memiliki kedekatan personal sebagai sahabat lama sebelum berkiprah di tingkat nasional.

Dalam Rapat tersebut, Haji Uma sempat melontarkan pertanyaan langsung kepada Wamen Nezar Patria terkait pemblokiran akun media sosial miliknya. Dengan gaya khasnya dan bernada setengah bercanda namun bernuansa kritis, Haji Uma pun mempertanyakan apakah benar akun Facebook miliknya diblok sebagai bagian dari kebijakan yang dijalankan Kementerian Komdigi.

“Facebook saya diblok, Pak Wamen. Apakah ini kebijakan dari Menteri atau Menterinya tidak berdaya?”, ujar Haji Uma di hadapan peserta rapat, yang sontak menarik perhatian dan memancing reaksi ringan di ruang sidang.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Wamen Nezar Patria merespons dengan candaan yang mencerminkan keakraban di antara keduanya. Ia mengaku telah lama mengenal Haji Uma dan menyebut nama asli Haji Uma, Sudirman, sebagai bagian dari kisah persahabatan mereka.

“Saya kenal Haji Uma. Nama aslinya Sudirman. Tapi Haji Uma itu nama populernya, apalagi sejak film Eumpang Breuh yang sangat terkenal di Aceh,” kata Nezar Patria sambil tersenyum, disambut tawa peserta rapat.

Momen tersebut memperlihatkan sisi humanis dan kekeluargaan dalam forum resmi negara, sekaligus menegaskan kedekatan dua tokoh asal Aceh yang kini sama-sama mengemban amanah di tingkat nasional. Meski diselingi candaan, substansi rapat tetap berjalan serius, khususnya terkait kebijakan komunikasi dan digital.

Haji Uma kemudian menegaskan bahwa pertanyaan yang disampaikannya bukan semata candaan, melainkan bentuk kepedulian terhadap keterbukaan informasi publik di ruang digital, terutama terkait informasi kebencanaan dan kondisi daerah, yakni Aceh yang dilanda bencana hidrometeorologi beberapa waktu lalu. 

“Saya menyampaikan ini apa adanya, karena kami di daerah merasakan langsung. Informasi itu penting sebagai bagian dari dukungan bagi pemerintah,” ungkap Haji Uma.

Dalam rapat tersebut, Haji Uma juga menyampaikan sejumlah poin penting, di antaranya perlunya penguatan pengendalian media sosial dari konten pornografi, ujaran kebencian, serta konten yang melanggar nilai syariah dan budaya daerah. 

Ia juga menekankan pentingnya literasi digital berbasis moral dan budaya, perhatian terhadap bahasa daerah dalam moderasi platform digital, serta dukungan terhadap pemberantasan judi online. 

Selain itu, Haji Uma juga meminta agar informasi kebencanaan tidak dibatasi karena sangat dibutuhkan sebagai bagian dari sistem pendukung penanganan pemerintah di lapangan.

Sementara itu, Wamen Nezar Patria menanggapi dengan sikap terbuka dan dialogis, menandai komunikasi yang cair namun tetap konstruktif antara pemerintah dan perwakilan daerah.(*)