Sepuluh Bulan Berlalu, Barang Sisa Banjir Masih Menjadi Saksi Luka yang Belum Sembuh
Font Terkecil
Font Terbesar
ACEH UTARA | PASESATU.COM — Sepintas, barang itu mungkin terlihat biasa. Sebuah benda yang telah rusak, kotor, dan tak lagi digunakan.
Namun bagi korban banjir di Aceh Utara, barang yang tersisa itu menyimpan cerita. Ia menjadi saksi bisu ketika air bah datang, merendam rumah, menghanyutkan harta benda, sekaligus memaksa banyak keluarga meninggalkan kehidupan yang mereka jalani selama bertahun-tahun.
Sepuluh bulan telah berlalu sejak banjir besar menerjang sejumlah wilayah di Aceh Utara. Air telah surut. Lumpur mengering. Aktivitas warga perlahan kembali berjalan.
Tetapi tidak semua yang hilang dapat ikut kembali ketika air surut.
Di sejumlah rumah warga terdampak, barang-barang yang rusak masih tersimpan. Sebagiannya tidak lagi memiliki fungsi, tetapi tetap dipertahankan karena menjadi pengingat atas peristiwa yang mengubah kehidupan mereka.
Banjir bukan hanya merusak bangunan. Kendaraan, ternak, hasil kebun, peralatan rumah tangga hingga sumber penghasilan ikut terdampak. Bagi keluarga yang kehilangan mata pencaharian, pemulihan tidak cukup hanya dengan membersihkan rumah dan mengganti barang yang rusak.
Bantuan memang terus disalurkan melalui berbagai program untuk masyarakat terdampak. Kehadiran pemerintah dan berbagai pihak menjadi bagian penting dalam proses pemulihan.
Namun, di balik penyaluran bantuan itu, masih ada warga yang menunggu. Mereka menunggu rumah kembali layak ditempati, menunggu sumber penghasilan pulih, atau sekadar berharap ada jalan untuk mengganti sebagian harta benda yang hilang.
Menunggu bukan perkara sederhana bagi keluarga yang harus memulai kembali kehidupan dari kondisi yang jauh berbeda.
Sepeda motor yang hanyut tidak serta-merta tergantikan. Ternak yang mati tidak langsung kembali menjadi sumber penghasilan. Kebun yang rusak membutuhkan waktu sebelum kembali menghasilkan.
Di situlah dampak banjir terasa lebih panjang daripada genangan airnya.
Barang-barang sisa banjir yang masih tersimpan seolah menjadi penanda bahwa bencana tidak berakhir ketika air meninggalkan halaman rumah. Setelah itu masih ada fase panjang untuk memperbaiki, mengganti, mencari penghasilan, dan membangun kembali kehidupan.
Sepuluh bulan mungkin hanya sebuah angka dalam kalender. Tetapi bagi keluarga yang kehilangan banyak hal, waktu selama itu bisa terasa sangat panjang.
Setiap hari mereka harus menghitung kembali apa yang masih dimiliki, apa yang telah hilang, dan apa yang harus diperjuangkan agar kehidupan dapat berjalan seperti sebelumnya.
Mereka tidak sedang meminta kemewahan.
Yang diharapkan adalah kesempatan untuk kembali berdiri setelah kehilangan akibat bencana. Ada rumah yang ingin ditempati dengan layak, pekerjaan yang ingin dimulai kembali, serta kehidupan yang ingin perlahan dibangun dari awal.
Banjir mungkin hanya berlangsung beberapa hari. Namun luka, kehilangan, dan dampaknya dapat bertahan jauh lebih lama.
Dan barang kecil yang masih tersisa dari banjir itu menjadi pengingat bahwa di balik surutnya air dan bergantinya kalender, masih ada kehidupan yang belum sepenuhnya pulih.***
Editor : Syahrul



