BERITA TERKINI

Menembus Banjir demi Sepiring Nasi: Kilas Balik Perjuangan Warga Aceh

Menembus Banjir demi Sepiring Nasi: Kilas Balik Perjuangan Warga Aceh

ACEH UTARA | PASESATU.COM
— Air datang dengan cepat. Jalan-jalan berubah menjadi aliran sungai, halaman rumah menghilang di balik genangan, sementara lumpur dan material kayu ikut terbawa arus.

Hari itu tanggal 26 November 2026 lalu menjadi salah satu fase terberat bagi warga di berbagai wilayah Aceh. Hujan dengan intensitas tinggi yang berlangsung selama seminggu memicu banjir, banjir bandang, dan longsor di sejumlah daerah. Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) mencatat sembilan kabupaten/kota terdampak pada 26 November 2025, dengan ratusan ribu warga terdampak dan ribuan lainnya mengungsi. Sehari kemudian, status Aceh dinaikkan menjadi tanggap darurat bencana hidrometeorologi setelah bencana meluas ke 16 kabupaten/kota.

DI ACEH UTARA, DAMPAKNYA TERASA SANGAT LUAS

Pada 26 November, sedikitnya 19 kecamatan dilaporkan terendam. Di Kecamatan Tanah Jambo Aye saja, 22 gampong/desa terdampak. Sehari setelahnya, pemerintah daerah melaporkan puluhan titik pengungsian dan sebagian besar wilayah Aceh Utara mengalami kelumpuhan aktivitas.

Namun, angka-angka itu hanya mampu menjelaskan sebagian kecil dari apa yang dirasakan warga.

Di balik ribuan orang yang mengungsi, ada keluarga yang kehilangan tempat tidur. Ada dapur yang tidak lagi bisa digunakan. Ada anak-anak yang harus meninggalkan rumah. Ada pula warga yang harus berjalan menembus air demi mendapatkan makanan.

Salah satunya adalah Abdul Rafar, warga Gampong Sama Kurok, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Kabupaten Aceh Utara, yang juga merupakan wartawan Pasesatu.com.

MENEMBUS AIR DEMI MAKANAN

Hari itu, Abdul Rafar berjalan di tengah genangan.

Air mengelilingi tubuhnya. Langkahnya harus dilakukan perlahan karena arus tidak selalu bersahabat.

Di pundaknya terdapat sekarung beras.

Di tangan yang lain, ia membawa sebuah labu kuning.

Benda-benda sederhana itu mungkin tidak berarti banyak dalam keadaan normal. Namun, ketika rumah-rumah dikepung banjir dan sebagian dapur tidak lagi dapat digunakan, beras dan bahan makanan menjadi kebutuhan yang sangat berharga.

Rumah Abdul Rafar, menurut penuturannya, relatif aman dari genangan.

"Kebetulan rumah kami, alhamdulillah, tidak banjir," ujarnya.

Tetapi ia melihat kondisi tetangga yang berbeda.

Lorong-lorong permukiman terendam. Warga kesulitan keluar rumah. Dapur yang biasanya menjadi tempat menanak nasi dan menyiapkan makanan tidak lagi dapat digunakan.

Dalam situasi itulah muncul gagasan untuk membuat dapur umum.

"Jadi warga yang lorongnya terendam, dapur rumahnya tidak bisa dipakai lagi. Kami berinisiatif membuka dapur umum untuk makan bersama," kata Abdul Rafar.

Keputusan itu lahir dari kebutuhan yang sangat sederhana: bagaimana warga tetap bisa makan ketika rumah mereka dikepung air?

ACEH YANG BERUBAH DALAM HITUNGAN HARI


Bencana yang berlangsung sejak akhir November 2025 itu bukan sekadar banjir biasa.

Hujan lebat hingga ekstrem terjadi di berbagai wilayah Aceh pada periode 21–27 November. BMKG mencatat curah hujan lebih dari 100 hingga 150 milimeter per hari di sejumlah kawasan, sementara pada 26 November, Siklon Tropis Senyar berkembang di perairan timur Aceh dan ikut menjadi bagian dari kondisi cuaca ekstrem yang terjadi saat itu.

Di sejumlah tempat, banjir datang bersama material lumpur dan kayu berukuran besar.

Pascabanjir, kayu gelondongan bahkan ditemukan menumpuk di sejumlah kawasan Aceh Utara. Di Desa Geudumbak, Kecamatan Langkahan, kayu yang terbawa arus menimpa rumah warga dan memenuhi kawasan sekitar aliran sungai.

Pemandangan itu menjadi bagian dari wajah bencana yang sulit dilupakan.

Rumah-rumah yang sehari sebelumnya menjadi tempat berlindung berubah menjadi ruang yang harus dikosongkan. Jalan yang biasanya dilalui kendaraan berubah menjadi jalur evakuasi. Lumpur menutupi halaman dan meninggalkan pekerjaan panjang setelah air surut.

KETIKA DAPUR PADAM

Bagi keluarga yang terdampak, persoalan terbesar bukan hanya bagaimana menyelamatkan barang.

Mereka juga harus memikirkan makanan.

Kompor yang biasanya menyala setiap pagi terpaksa padam. Peralatan dapur harus dipindahkan. Persediaan makanan yang tersisa dijaga agar tidak rusak atau hanyut.

Di sinilah dapur umum memiliki arti penting.

Beras yang dibawa Abdul Rafar menjadi salah satu bahan yang kemudian dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan makan warga. Warga lain ikut membantu. Ada yang memasak, mengumpulkan bahan makanan, membawa air, dan mengantarkan makanan kepada mereka yang kesulitan bergerak.

Tidak ada yang terlalu besar dalam perjuangan itu.

Satu karung beras.

Sebuah labu.

Sepanci nasi.

Tetapi bagi keluarga yang tidak dapat memasak, semuanya memiliki arti.

ANAK-ANAK DI TENGAH GENANGAN

Bencana juga meninggalkan wajah lain: anak-anak yang harus menyaksikan rumah dan lingkungan mereka berubah.

Mereka tidak lagi hanya melihat air sebagai sesuatu yang menyenangkan untuk dimainkan.

Air kali ini membawa lumpur dan kayu. Membuat orang dewasa panik. Memaksa keluarga berpindah ke tempat yang lebih aman.

Sebagian anak harus berada di pengungsian. Sebagian ikut orang tua menyelamatkan barang-barang yang masih tersisa.

Hari-hari yang seharusnya diisi sekolah dan bermain berubah menjadi hari-hari untuk bertahan.

Dan mungkin, bagi sebagian dari mereka, kenangan tentang banjir November 2025 akan tinggal lebih lama daripada genangan yang akhirnya surut.

SETELAH AIR SURUT

Peliputan pada hari-hari setelah bencana memperlihatkan bahwa surutnya air bukan berarti berakhirnya penderitaan.

Ada lumpur yang harus dibersihkan.

Ada rumah yang harus diperbaiki.

Ada perabotan yang rusak.

Ada sawah dan tambak yang terendam.

Ada jalan dan jembatan yang mengalami kerusakan.

Di Aceh Utara, pemerintah daerah melaporkan ribuan warga mengungsi di 35 titik. Puluhan ribu warga terdampak, sementara sejumlah rumah, lahan pertanian, tambak, tanggul, dan infrastruktur mengalami kerusakan.

Bagi warga, pemulihan membutuhkan waktu.

Tetapi di tengah semua kehilangan itu, ada satu hal yang terlihat jelas: mereka tidak sepenuhnya sendirian.

Ada tetangga yang datang membawa beras.

Ada warga yang membuka dapur umum.

Ada orang-orang yang berjalan menerobos banjir untuk mengantarkan makanan.

Ada tangan yang membantu mengangkat barang.

Ada bahu yang menjadi tempat bersandar ketika keadaan terasa terlalu berat.

SEBUAH KARUNG BERAS DAN HARAPAN

Kisah Abdul Rafar mungkin hanya satu bagian kecil dari tragedi besar yang melanda Aceh pada akhir November 2025.

Ia bukan penyelamat dengan peralatan lengkap.

Ia hanya seorang warga yang kebetulan rumahnya relatif aman, lalu memilih bergerak ketika melihat tetangganya kesulitan.

Di pundaknya ada sekarung beras.

Di tangannya ada sebuah labu kuning.

Namun, yang sebenarnya ia bawa bukan hanya makanan.

Ia membawa pesan bahwa di tengah bencana, manusia masih memiliki alasan untuk saling menjaga.

Banjir dapat merendam rumah.

Arus dapat menghanyutkan barang.

Lumpur dapat menutup halaman.

Kayu-kayu besar dapat merusak permukiman.

Tetapi kepedulian tidak semestinya ikut hanyut.

Ketika air sedang tinggi-tingginya, warga Sama Kurok memilih untuk saling menguatkan.

Mereka memasak ketika dapur rumah tidak lagi bisa digunakan.

Mereka berbagi ketika persediaan terbatas.

Mereka berjalan ketika jalan berubah menjadi sungai.

Dan mereka bertahan, hari demi hari, sampai air akhirnya surut.

Karena bagi mereka, bertahan dari banjir bukan hanya tentang menyelamatkan diri sendiri.

Bertahan adalah memastikan bahwa orang di sebelahnya juga masih bisa makan, masih memiliki tempat untuk berlindung, dan masih memiliki alasan untuk percaya bahwa setelah air surut, kehidupan akan kembali dimulai.***