Bantuan Banjir Jadi Napas Baru Ekonomi Panton Labu, Pasar Kembali Bergeliat, Warga Terharu
Font Terkecil
Font Terbesar
ACEH UTARA | PASESATU.COM — Banjir sempat membuat denyut perekonomian masyarakat Panton Labu tersendat. Namun, ketika bantuan mulai diterima warga terdampak, geliat ekonomi perlahan kembali terlihat. Uang bantuan yang masuk ke tangan masyarakat langsung berputar di pasar, warung, hingga pedagang kebutuhan pokok.
Pantauan media di Pasar Kota Panton Labu, Jumat (3/10/2026), menunjukkan aktivitas jual beli mulai ramai. Warga terdampak banjir kembali memenuhi sejumlah kebutuhan rumah tangga, terutama sembako dan keperluan kenduri Maulid.
Bagi pedagang, kondisi tersebut menjadi tanda bahwa masyarakat mulai memiliki ruang untuk kembali bergerak setelah dihantam bencana.
“Setiap bantuan banjir disalurkan, banyak warga yang datang berbelanja kebutuhan sembako. Rata-rata untuk keperluan kenduri Maulid,” ujar Salman, pedagang sembako di Pasar Panton Labu.
Menurut Salman, meningkatnya transaksi tersebut ikut memberikan dampak terhadap pendapatan pedagang. Bantuan yang diterima masyarakat tidak berhenti sebagai pemenuhan kebutuhan keluarga, tetapi turut menggerakkan aktivitas ekonomi di pasar.
Geliat serupa dirasakan Samidan, pemilik salah satu warung kopi. Ia mengaku penjualan mulai meningkat setelah warga menerima bantuan.
“Peningkatan penjualan sangat terasa. Warga datang bersama keluarga untuk menikmati,” katanya.
Bukan Sekadar Bantuan, Tetapi Harapan
Di balik ramainya transaksi di pasar, terdapat cerita warga yang masih menyimpan luka akibat bencana. Bagi keluarga terdampak, bantuan yang diterima bukan sekadar materi, melainkan menjadi penopang untuk kembali menjalani kehidupan.
Aisyah (60), warga Kecamatan Tanah Jambo Aye sekaligus salah satu Keluarga Penerima Manfaat (KPM), mengaku sangat bersyukur atas bantuan yang diterimanya.
Dengan suara haru, Aisyah menuturkan bantuan tersebut dapat digunakan untuk kebutuhan kenduri Maulid sekaligus membantu memenuhi keperluan anak-anaknya yang masih menuntut ilmu di pesantren.
“Alhamdulillah, bantuan ini sangat berarti bagi kami. Bisa digunakan untuk kenduri Maulid dan untuk keperluan belanja anak-anak yang masih menuntut ilmu di pesantren,” ujar Aisyah
Matanya seakan menyimpan cerita panjang tentang beratnya kehidupan setelah bencana. Di tengah kondisi yang belum sepenuhnya pulih, bantuan tersebut membuatnya merasa masih memiliki ruang untuk bertahan dan memenuhi kebutuhan keluarga.
Fenomena tersebut memperlihatkan bagaimana bantuan kepada masyarakat terdampak dapat menciptakan efek berantai di tingkat ekonomi lokal.
Ketika KPM menggunakan bantuan untuk membeli sembako, pedagang mendapatkan pemasukan. Ketika warga berkumpul di warung kopi, usaha kecil kembali memperoleh pelanggan. Perputaran transaksi tersebut kemudian menjadi bagian dari upaya pemulihan ekonomi masyarakat Panton Labu.
Pasar yang sebelumnya ikut merasakan tekanan akibat bencana kini mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan.
Bagi warga terdampak, bantuan memang tidak menghapus seluruh kesulitan yang mereka alami. Namun, setidaknya bantuan tersebut memberikan kesempatan untuk kembali berbelanja, memenuhi kebutuhan keluarga, menjalankan tradisi Maulid, sekaligus membantu anak-anak tetap melanjutkan pendidikan.
Di tengah pemulihan pascabanjir, geliat Pasar Panton Labu menjadi gambaran sederhana bahwa ketika bantuan sampai langsung kepada masyarakat, manfaatnya dapat terasa hingga ke lapisan ekonomi paling bawah.
Bencana boleh menghantam, tetapi roda kehidupan masyarakat perlahan kembali berputar.***
Editor : Syahrul



