BERITA TERKINI

Pesta di Istana, Bocor di Pedalaman

Pesta di Istana, Bocor di Pedalaman

Ditulis Oleh : Abdul Rafar

PASESATU.COM | Perayaan hari jadi sebuah daerah atau pemerintahan semestinya tidak hanya menjadi momentum untuk menampilkan kemeriahan, tetapi juga menjadi ruang untuk melihat kembali sejauh mana pembangunan dan pelayanan publik benar-benar dirasakan masyarakat.

Panggung perayaan, lampu, pertunjukan seni, dan berbagai kegiatan seremonial dapat menjadi bagian dari perayaan. Namun, di balik kemeriahan itu, ada pertanyaan yang lebih penting: apakah masyarakat di wilayah pedalaman dan pelosok juga merasakan manfaat pembangunan?

Pertanyaan tersebut menjadi relevan ketika masih ditemukan rumah warga yang tidak layak huni, akses jalan yang sulit, fasilitas dasar yang terbatas, atau masyarakat yang harus menghadapi persoalan sehari-hari tanpa dukungan pelayanan publik yang memadai.

Perbedaan antara kemeriahan di pusat pemerintahan dan kondisi masyarakat di pelosok seharusnya tidak dipandang sebagai sesuatu yang biasa.

Perayaan dapat berlangsung meriah. Namun, keberhasilan pemerintahan tidak semestinya diukur dari banyaknya lampu yang menyala, besarnya panggung yang dibangun, atau meriahnya kembang api.

Ukuran yang lebih penting adalah apakah warga dapat tinggal di rumah yang layak, memperoleh akses jalan yang baik, mendapatkan pelayanan kesehatan dan pendidikan, serta memiliki kesempatan ekonomi yang memadai.

Di pusat kota, sebuah perayaan mungkin terlihat sempurna. Jalan dibersihkan, panggung didirikan, lampu dinyalakan, dan pejabat serta tamu undangan hadir dalam acara resmi.

Namun, semakin jauh dari pusat pemerintahan, persoalan pembangunan bisa terlihat berbeda.

Rumah warga yang mengalami kerusakan, jalan yang belum memadai, jembatan yang sulit dilalui, keterbatasan air bersih, hingga akses terhadap fasilitas kesehatan merupakan persoalan yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan seremoni.

Karena itu, momentum hari jadi semestinya juga menjadi kesempatan untuk melakukan evaluasi.

Berapa banyak rumah tidak layak huni yang masih dihuni warga?

Berapa panjang jalan yang belum tertangani?

Berapa banyak desa yang masih menghadapi keterbatasan fasilitas dasar?

Dan yang tidak kalah penting, apakah anggaran pembangunan telah memberikan manfaat yang proporsional bagi masyarakat di wilayah pusat maupun pelosok?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan untuk meniadakan arti sebuah perayaan. Perayaan tetap memiliki nilai sosial dan budaya. Ia dapat menjadi ruang untuk menguatkan identitas daerah dan mempererat hubungan masyarakat dengan pemerintah.

Namun, perayaan tidak seharusnya menjadi pengganti evaluasi.

Pemerintah memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan capaian pembangunan secara terbuka sekaligus mengakui persoalan yang masih belum terselesaikan. Masyarakat berhak mengetahui bagaimana anggaran digunakan dan apa saja hasil pembangunan yang telah mereka rasakan.

Di sinilah pentingnya membedakan antara citra keberhasilan dan kenyataan pembangunan.

Sebuah daerah tidak otomatis maju karena mampu menggelar acara besar. Sebaliknya, daerah dapat disebut berkembang ketika masyarakatnya memperoleh kehidupan yang lebih layak dari waktu ke waktu.

Jika masih ada warga yang harus menempatkan ember di bawah atap rumah setiap kali hujan, persoalan tersebut layak mendapatkan perhatian yang sama seriusnya dengan pembangunan fasilitas publik lainnya.

Jika masih ada anak yang harus belajar dalam keterbatasan fasilitas, persoalan itu semestinya menjadi bagian dari agenda pembangunan.

Jika masyarakat di pedalaman masih kesulitan mencapai pusat pelayanan karena kondisi jalan, persoalan tersebut tidak boleh hilang hanya karena tidak terlihat dari panggung perayaan.

Pembangunan pada akhirnya bukan tentang seberapa meriah pemerintah merayakan keberhasilan, melainkan seberapa nyata masyarakat merasakan perubahan.

Pesta akan selesai. Lampu akan dipadamkan. Panggung akan dibongkar. Para tamu akan kembali ke rumah masing-masing.

Namun, persoalan masyarakat tetap ada setelah acara berakhir.

Karena itu, setiap perayaan hari jadi sebaiknya tidak hanya menghadirkan kebanggaan terhadap capaian masa lalu, tetapi juga keberanian melihat pekerjaan rumah yang masih menunggu.

Sebab keberhasilan pemerintahan bukan ketika pusat kota terlihat gemerlap, sementara persoalan di pelosok luput dari perhatian.

Keberhasilan adalah ketika kemajuan dapat dirasakan secara lebih merata.

Pada akhirnya, sebuah daerah tidak perlu memilih antara merayakan keberhasilan dan memperhatikan rakyat. Keduanya dapat berjalan bersama.

Perayaan boleh meriah. Tetapi pembangunan harus nyata.

Kembang api boleh menghiasi langit. Namun, perhatian pemerintah harus menjangkau rumah-rumah warga yang masih membutuhkan perbaikan.

Sebab di balik setiap perayaan, selalu ada pertanyaan yang lebih penting: setelah bertahun-tahun berjalan, apakah kehidupan rakyat benar-benar menjadi lebih baik?***