BERITA TERKINI

Ketika Bunda Salma Membawa Seragam, Air Mata Irfan Jatuh di Tengah Riuh Drum Band

Ketika Bunda Salma Membawa Seragam, Air Mata Irfan Jatuh di Tengah Riuh Drum Band

ACEH UTARA | PASESATU.COM
— Suara drum menggema dari halaman SMAN 2 Tanah Jambo Aye, Kabupaten Aceh Utara, Jumat (4/9/2026).

Para siswa berdiri menyambut kedatangan Hj. Salmawati, S.E., M.M., yang akrab disapa Bunda Salma. Anggota DPRA Fraksi Partai Aceh itu datang membawa bantuan seragam sekolah untuk para pelajar yang terdampak kondisi sulit yang dialami masyarakat.

Drum Band Duta Nada Suara mengiringi penyambutan. Tepuk tangan pecah. Wajah-wajah pelajar tampak antusias.

Namun, di tengah kemeriahan itu, ada satu pemandangan yang perlahan mengubah suasana.

Seorang siswa bernama Irfan menerima seperangkat seragam sekolah.

Ia memandang seragam tersebut sejenak.

Kemudian terdiam.

Matanya mulai berkaca-kaca.

Tak lama, air mata jatuh.

“Alhamdulillah,” ucapnya pelan.

Tidak ada kalimat panjang.

Tidak ada pidato.

Hanya satu kata dan air mata yang seolah cukup untuk menceritakan betapa berarti bantuan tersebut bagi seorang pelajar.

Di sampingnya, Kepala SMAN 2 Tanah Jambo Aye, Fitri Yeni, S.Pd.I., M.Pd., turut mendampingi.

Seragam yang Tidak Sekadar Seragam

Bagi sebagian orang, seragam sekolah mungkin hanyalah pakaian yang dikenakan setiap hari.

Tetapi bagi Irfan, seragam itu datang pada waktu yang tepat.

Ketika kondisi sulit membuat banyak kebutuhan terasa berat dipenuhi, perhatian terhadap kebutuhan sekolah menjadi sesuatu yang sangat berarti.

Seragam tersebut bukan sekadar pakaian untuk masuk kelas.

Ia adalah bagian dari perjalanan seorang anak untuk tetap bersekolah.

Untuk tetap duduk di bangku kelas.

Untuk tetap belajar.

Dan, yang paling penting, untuk tetap berani menggantungkan cita-cita.

Karena itu, ketika seragam berada di tangannya, Irfan tak mampu menyembunyikan rasa haru.

Bunda Salma Memilih Hadir

Kepedulian Bunda Salma kepada para pelajar tidak berhenti pada perhatian secara simbolis.

Ia datang langsung ke sekolah dan menyerahkan bantuan yang berkaitan dengan kebutuhan pendidikan para siswa.

Langkah itu menjadi pesan bahwa anak-anak yang sedang menghadapi kesulitan tidak boleh kehilangan kesempatan untuk belajar.

Bantuan tersebut mungkin sederhana jika dilihat dari bentuknya.

Namun, maknanya dapat menjadi besar bagi mereka yang menerima.

Terlebih bagi anak-anak yang berada dalam situasi sulit.

Di usia ketika sebagian besar waktunya seharusnya dihabiskan untuk belajar dan bermain bersama teman, mereka juga harus berhadapan dengan keadaan yang tidak selalu mudah.

Di situlah perhatian seperti yang diberikan Bunda Salma menemukan maknanya.

Bukan sekadar memberikan sesuatu.

Melainkan menunjukkan kepada para pelajar bahwa mereka tidak dilupakan.

Air Mata yang Berbicara

Irfan mungkin tidak mampu menjelaskan panjang lebar apa yang dirasakannya hari itu.

Tetapi air matanya telah menyampaikan banyak hal.

Ada rasa syukur.

Ada kelegaan.

Dan ada perasaan ketika seseorang datang membawa perhatian di saat dirinya membutuhkan dukungan.

Pemandangan itu menjadi kontras dengan kemeriahan yang sebelumnya memenuhi halaman sekolah.

Drum band terus mengiringi kegiatan.

Para siswa tetap berada di sekitar lokasi.

Tetapi perhatian tertuju pada seorang anak yang menggenggam seragam sambil menyeka air matanya.

Momen sederhana itu menjadi pengingat bahwa persoalan pendidikan sering kali bermula dari hal-hal yang tampak kecil.

Seragam.

Buku.

Sepatu.

Biaya transportasi.

Kebutuhan sekolah lainnya.

Bagi mereka yang mampu, mungkin semuanya terlihat biasa.

Namun bagi keluarga yang sedang berjuang, kebutuhan sederhana tersebut bisa menjadi beban.

Menjaga Agar Mimpi Tidak Berhenti

Kepedulian Bunda Salma menjadi bagian dari upaya menjaga agar keterbatasan tidak membuat anak-anak berhenti bermimpi.

Sebab pendidikan bukan hanya tentang bagaimana seorang siswa menyelesaikan pelajaran hari ini.

Pendidikan adalah tentang masa depan.

Tentang anak-anak yang kelak diharapkan mampu berdiri dengan kemampuan sendiri.

Tentang cita-cita yang mungkin hari ini masih ditulis di buku tugas, tetapi suatu saat ingin diwujudkan dalam kehidupan nyata.

Seragam yang diberikan Bunda Salma mungkin akan habis dipakai setelah waktu berlalu.

Namun, kenangan tentang hari ketika seorang wakil rakyat datang dan memberi perhatian bisa saja tinggal jauh lebih lama.

Bagi Irfan, mungkin hari itu akan dikenangnya sebagai hari ketika sebuah bantuan sederhana membuatnya merasa diperhatikan.

Hari ketika seseorang datang membawa seragam, tetapi sekaligus membawa semangat untuk kembali melangkah.

Sebuah Pesan dari Air Mata Irfan

Tidak semua bentuk kepedulian harus hadir dalam jumlah besar.

Kadang-kadang, kepedulian justru terasa paling kuat ketika menyentuh kebutuhan yang paling sederhana.

Bunda Salma datang membawa seragam.

Irfan menerimanya dengan air mata.

Di antara keduanya, terselip sebuah pesan tentang pendidikan: anak-anak yang sedang menghadapi kesulitan tetap membutuhkan alasan untuk percaya bahwa masa depan mereka masih terbuka.

Hari itu, suara Drum Band Duta Nada Suara terdengar keras di halaman sekolah.

Tetapi ada suara lain yang lebih sunyi dan justru lebih dalam.

Suara itu datang dari air mata seorang pelajar.

Air mata yang jatuh ketika sebuah seragam berpindah tangan.

Dan mungkin, di balik air mata tersebut, ada satu harapan yang sederhana:

tetap bisa sekolah, tetap bisa belajar, dan suatu hari nanti mampu membuktikan bahwa kesulitan bukan akhir dari sebuah cita-cita.

Bunda Salma datang membawa seragam.

Namun bagi Irfan dan para pelajar lainnya, yang dibawa hari itu bukan hanya pakaian sekolah.

Ada perhatian, ada kepedulian, dan ada keyakinan bahwa masa depan anak-anak Aceh tetap harus dijaga.***

Penulis : Abdul Rafar