Ceramah S3 di Masjid Babul Maghfirah, Tgk Sri Darmawan: Maulid Harus Menjadi Jalan Mendekatkan Umat kepada Nabi
Font Terkecil
Font Terbesar
ACEH BESAR | PASESATU.COM — Anggota Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh Besar yang juga dikenal sebagai salah seorang penceramah yang dekat dengan umat, Tgk. Sri Darmawan, mengajak umat Islam menjadikan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai momentum untuk semakin mengenal, mencintai dan mendekatkan diri kepada Rasulullah SAW.
Pesan tersebut disampaikan Tgk. Sri Darmawan dalam tausiah Safari Subuh Sabtu (S3) ke-71 di Masjid Babul Maghfirah, Gampong Tanjong Seulamat, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar, Sabtu (5/9/2026), bertepatan dengan 23 Rabiul Awal 1448 Hijriah.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Keuchik Gampong Tanjong Seulamat Fadhli H. Nurdin, S.Pd., M.Pd., Ketua Tuha Peut Gampong Drs. H. Amiruddin Yacob, Ketua BKM Babul Maghfirah Ustadz Wirzaini Usman, S.HI., M.I.Kom., Imam Masjid Drs. Tgk. H.M. Aji Adam, Tgk Murdani, Tgk Muhammad Idham, M.Ed, pengurus remaja masjid, para tokoh masyarakat, jamaah tetap serta jamaah Safari Subuh.
Dalam tausiyahnya, Tgk. Sri Darmawan mengawali kajian dengan mengingatkan jamaah tentang perkara-perkara gaib yang menjadi bagian dari keimanan seorang Muslim.
Menurutnya, salat Subuh merupakan salah satu waktu ibadah yang disaksikan oleh para malaikat, meskipun manusia tidak dapat melihat keberadaan mereka.
“Para malaikat itu ada, tetapi kita tidak dapat melihatnya. Demikian pula jin, kita tidak dapat melihatnya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, istilah jin memiliki akar makna yang berkaitan dengan sesuatu yang tersembunyi atau tidak terlihat. Hal tersebut kemudian dikaitkan dengan sejumlah istilah dalam bahasa Arab seperti janin, junun dan jannah, yang memiliki nuansa makna sesuatu yang tersembunyi atau tidak terlihat.
Menurutnya, konsep *jannah* atau surga bahkan melampaui sekadar sesuatu yang tidak terlihat. Kenikmatan surga tidak mampu dibayangkan manusia secara sempurna.
“Surga bukan hanya tidak terlihat, tetapi juga tidak terbayangkan. Manusia tidak mampu membayangkan bagaimana kenikmatan surga itu kecuali berdasarkan apa yang disampaikan Allah dan Rasulullah,” katanya.
Memasuki momentum Maulid Nabi, Tgk. Sri Darmawan menegaskan bahwa peringatan Maulid tidak semestinya berhenti pada kegiatan seremonial dan kenduri.
Menurutnya, tujuan yang lebih penting adalah mendekatkan umat kepada Nabi Muhammad SAW, mengenal kepribadian beliau serta memastikan generasi muda tidak kehilangan hubungan dengan sejarah Rasulullah.
“Anak-anak kita harus mengenal Nabi. Mereka harus tahu bahwa Nabi Muhammad SAW lahir di Makkah dan wafat di Madinah,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa sejarah kehidupan Rasulullah SAW harus terus disampaikan kepada generasi muda agar mereka memahami perjuangan, akhlak dan ajaran Nabi.
Bagi Tgk. Sri Darmawan, mengenal Rasulullah bukan sekadar mengetahui nama, tempat lahir dan perjalanan sejarah beliau. Umat harus mengenal Rasulullah melalui akhlak, sifat, perjuangan dan sunnahnya, kemudian menjadikannya sebagai teladan dalam berbagai aspek kehidupan.
Ia juga menekankan bahwa Rasulullah SAW merupakan sosok yang sangat mulia dan kekasih Allah SWT. Karena itu, kecintaan kepada Rasulullah harus dibuktikan dengan mengikuti keteladanan beliau dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam konteks kehidupan masyarakat Aceh, Tgk. Sri Darmawan menekankan bahwa menjaga kehidupan keislaman bukan hanya menjadi tanggung jawab ulama.
Menurutnya, ketika pemahaman Islam mulai kabur dan perlahan kehilangan tempat dalam kehidupan generasi muda, maka orang tua, pemerintah atau pemimpin, serta para ulama dan teungku harus mengambil tanggung jawab bersama.
“Kalau Islam mulai kabur dan pelan-pelan hancur dalam kehidupan generasi, yang bertanggung jawab adalah orang tua, pemerintah atau pemimpin, dan para ulama, para teungku,” tegasnya.
Karena itu, ia mendorong agar nilai-nilai Islam dan pelaksanaan syariat terus dijaga dalam lingkungan keluarga, masyarakat dan pemerintahan di Aceh.
Orang tua, kata dia, memiliki tanggung jawab mendidik anak agar mengenal Allah dan Rasul-Nya. Pemimpin berkewajiban menghadirkan kebijakan serta keteladanan yang menjaga agama dan masyarakat, sementara ulama bertugas memberikan bimbingan keagamaan dan meluruskan pemahaman umat.
Tgk. Sri Darmawan juga mengingatkan pentingnya menghadirkan pemimpin yang benar dan memiliki tanggung jawab moral.
Menurutnya, seorang pemimpin setidaknya harus mampu menjaga dua perkara penting, yaitu agama dan negara.
Ia mengingatkan para pemimpin agar tidak bersikap arogan atau merasa kedudukannya akan berlangsung selamanya.
“Menjadi pemimpin harus hati-hati. Jangan arogan seakan-akan merasa aman selamanya,” katanya.
Ia menegaskan, apabila penerapan syariat Islam di Aceh menghadapi persoalan, evaluasi tidak boleh hanya diarahkan kepada satu pihak. Orang tua, pemerintah dan ulama harus bersama-sama melihat tanggung jawab masing-masing dalam menjaga kehidupan keislaman masyarakat.
Ia juga mengingatkan umat agar berhati-hati terhadap pemahaman keagamaan yang dapat mengarah pada sikap takfiri, terutama apabila pemahaman tersebut justru menjauhkan umat dari sejarah Nabi, mengaburkan syariat dan memutus hubungan generasi dengan sejarah kelahiran serta perjuangan Rasulullah SAW.
Dalam bagian lain tausiyahnya, Tgk. Sri Darmawan mengajak jamaah memperkuat iman melalui pemahaman tentang makrifat dan sifat Allah serta Rasul-Nya.
Ia menjelaskan bahwa Allah SWT wajib diimani meskipun manusia tidak mampu melihat-Nya dengan mata kepala.
“Allah ada walaupun kita tidak mampu melihat. Untuk melihat telinga kita sendiri saja kita tidak mampu. Untuk melihat mata kita sendiri, bagian putih dan hitam mata kita sendiri, kita tidak mampu,” katanya.
Menurutnya, manusia mengenal Allah dan Rasul-Nya melalui makrifat dan sifat sebagaimana diajarkan dalam agama.
Ia juga menjelaskan perbedaan antara wujud Allah dan wujud manusia. Allah memiliki wujud hakiki dan tidak bergantung kepada makhluk, sementara manusia ada karena diadakan oleh Allah SWT.
“Allah tidak tergantung kepada makhluk. Allah tetap ada. Sementara kita manusia ini ada karena diadakan oleh Allah,” jelasnya.
Terkait persoalan 'Arasy Allah, ia mengajak umat mengimaninya sesuai dengan apa yang diajarkan Rasulullah SAW, tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk.
Tgk. Sri Darmawan juga mengingatkan jamaah agar tidak memiliki sifat kikir dalam menjalankan ibadah kepada Allah SWT.
Ia mencontohkan ibadah kurban yang menurutnya harus dilaksanakan dengan penuh keikhlasan dan sebaik-baiknya.
“Kenapa kita kikir kepada Allah? Hewan kurban saja kecil-kecil,” ujarnya, menyindir kecenderungan sebagian umat yang memilih hewan kurban seadanya.
Ia mengingatkan bahwa ibadah kurban bukan sekadar menyembelih hewan dan membagikan daging kepada masyarakat, tetapi juga memiliki dimensi ibadah dan nilai akhirat bagi orang yang melaksanakannya dengan ikhlas.
Menutup tausiyahnya, Tgk. Sri Darmawan kembali mengingatkan agar masyarakat tidak kehilangan substansi dalam memperingati Maulid Nabi.
Menurutnya, kenduri boleh menjadi bagian dari tradisi masyarakat, tetapi bukan tujuan utama peringatan Maulid.
“Jangan sampai kita melupakan memperingati hari lahir dan perjuangan Nabi. Bukan kenduri yang utama,” katanya.
Ia mendorong agar ceramah-ceramah Maulid tidak hanya mengulang kisah sejarah secara seremonial, tetapi juga mengkaji makrifat, sifat, akhlak dan perjuangan Nabi Muhammad SAW, sehingga umat semakin mengenal dan mencintai Rasulullah.
Dengan demikian, peringatan Maulid diharapkan tidak berhenti sebagai tradisi tahunan, tetapi benar-benar menjadi jalan perubahan bagi umat: semakin mengenal Rasulullah, semakin mencintai beliau, meneladani akhlaknya dan semakin dekat kepada Allah SWT.
“Peringatan Maulid adalah salah satu jalan mendekatkan diri kepada Allah dan Rasulullah,” pungkasnya.
Selain tausiah, Safari Subuh Sabtu ke-71 tersebut juga dirangkai dengan Konsultasi Kesehatan Ala Thibbun Nabawi yang diselenggarakan komunitas Thibbun Nabawi Aceh, menghadirkan praktisi herbal, totok punggung, bekam dan ruqyah untuk memberikan layanan konsultasi kepada jamaah.***



