BERITA TERKINI

Bukan Sekadar Piagam, Penghargaan Itu Menjadi Pengingat Panjangnya Jejak Kemanusiaan Ipda Irvan

Bukan Sekadar Piagam, Penghargaan Itu Menjadi Pengingat Panjangnya Jejak Kemanusiaan Ipda Irvan

ACEH UTARA | PASESATU.COM
— Ada penghargaan yang sekadar menjadi piagam dan tersimpan di dinding. Namun, ada pula penghargaan yang justru menjadi pengingat tentang perjalanan panjang seseorang dalam membantu mereka yang membutuhkan.

Bagi Kapolsek Langkahan, Ipda Irvan, S.H., Piagam Penghargaan sebagai Tokoh Sosial/Kemanusiaan dari Bupati Aceh Utara, H. Ismail A. Jalil, S.E., M.M., memiliki makna yang berbeda.

Penghargaan tersebut diserahkan dalam rangkaian Milad ke-800 Samudera Pasai, Minggu (13/9/2026), bersama penghargaan kepada sejumlah tokoh lainnya dalam kategori berbeda.

Di balik selembar piagam itu terdapat perjalanan panjang Ipda Irvan bersama masyarakat. Perjalanan yang tidak selalu terlihat dan tidak selalu menjadi pemberitaan, tetapi meninggalkan jejak di sejumlah tempat dan kehidupan orang-orang yang pernah menerima bantuannya.

Ipda Irvan menyebut penghargaan tersebut bukan sebagai akhir dari pengabdian.

Sebaliknya, penghargaan itu menjadi pengingat bahwa seragam yang dikenakannya membawa tanggung jawab untuk terus hadir ketika masyarakat membutuhkan.

“Saya sangat bersyukur atas penghargaan ini. Bagi saya, penghargaan ini bukan tentang diri saya, tetapi menjadi amanah untuk terus berbuat baik dan membantu sesama semampu yang kita bisa,” ujar Ipda Irvan.

Jauh sebelum menjabat sebagai Kapolsek Langkahan, kepedulian Ipda Irvan terhadap masyarakat telah terlihat ketika dirinya bertugas sebagai Bhabinkamtibmas Polsek Langkahan pada 2019.

Di Dusun Sarah Raja, Desa Lubok Pusaka, ia melihat keterbatasan akses yang harus dihadapi anak-anak untuk bersekolah.

Sungai menjadi salah satu penghalang perjalanan mereka.

Ipda Irvan kemudian membantu menyediakan sampan agar anak-anak dapat menyeberangi sungai menuju sekolah.

Bagi sebagian orang, mungkin itu hanya sebuah sampan.

Namun bagi anak-anak di kawasan tersebut, sampan itu menjadi sarana penting untuk membuka jalan menuju pendidikan.

Kepeduliannya tidak berhenti di sana. Ia juga mendirikan perpustakaan mini dan menyediakan buku bacaan bagi anak-anak di kawasan pedalaman.

Kepedulian Ipda Irvan kemudian merambah berbagai persoalan sosial yang dihadapi masyarakat.

Ia memberikan 100 ekor bibit bebek kepada seorang janda di Desa Leubok Mane. Ia juga membeli kambing untuk membantu dua janda lansia, Mariani (40) dan Aminah (70), serta menyalurkan puluhan ekor kambing kepada masyarakat di Simpang Tiga, Kecamatan Langkahan.

Di Desa Bantayan, ia membantu Asiah (56), seorang ibu yang menderita kanker.

Ia juga pernah mendampingi seorang anak penyandang disabilitas hingga ke RS Cut Meutia Lhokseumawe untuk mendapatkan penanganan medis.

Bantuan tersebut dilakukan dengan kemampuan yang dimilikinya, baik melalui sumber daya pribadi maupun dengan mengajak pihak lain untuk ikut membantu.

Pandemi COVID-19 menjadi masa sulit bagi banyak keluarga. Aktivitas ekonomi terganggu dan sebagian masyarakat kehilangan sumber penghasilan.

Pada masa itu, Ipda Irvan bersama istrinya menyisihkan uang pribadi sebesar Rp7 juta untuk membeli sembako yang kemudian dibagikan kepada kaum dhuafa dan penyandang disabilitas yang terdampak pandemi.

Bagi keluarga penerima, bantuan tersebut datang ketika kebutuhan sehari-hari menjadi persoalan yang tidak mudah.

Kepedulian itu menjadi salah satu bagian dari perjalanan sosial Ipda Irvan yang terus berlanjut hingga setelah pandemi.

Semangat pengabdian Ipda Irvan juga terlihat ketika peringatan HUT ke-75 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 2020.

Saat itu, ia memanjat tower setinggi sekitar 60 meter untuk mengibarkan bendera Merah Putih.

Aksi tersebut menjadi salah satu bentuk kecintaannya terhadap bangsa dan negara.

Dedikasinya kemudian mendapat perhatian dari Mabes Polri. Pada 2022, ia memperoleh kuota khusus Kapolri untuk mengikuti pendidikan Sekolah Pembentukan Perwira (Setukpa) Lemdiklat Polri.

Namun, perjalanan pendidikan tersebut tidak membuat aktivitas sosialnya berhenti.

Ia tetap membagikan 230 kitab kepada pesantren, membantu pakaian Lebaran bagi anak yatim, serta menyumbangkan 250 mushaf Al-Qur’an kepada dayah-dayah di Aceh dan sekitarnya.

Kepeduliannya bahkan menjangkau masyarakat Palestina. Ia berhasil menggalang dana sebesar Rp123.770.000 melalui lembaga kemanusiaan Global Ihsan Relief Indonesia untuk bantuan kemanusiaan bagi Palestina.

Ketika banjir melanda sejumlah wilayah Aceh, Ipda Irvan kembali turun ke lapangan.

Bantuan tidak hanya disalurkan di Langkahan, tetapi juga ke sejumlah wilayah di Aceh Utara, di antaranya Sawang, Lapang, Tanah Jambo Aye dan Lhoksukon.

Bantuan juga dibawa ke sejumlah wilayah di Aceh Timur, seperti Pante Bidari, Simpang Ulim, Madat dan Simpang Jernih.

Pekerjaan kemanusiaan tidak berhenti ketika air mulai surut.

Bersama dukungan donatur Geubibu, Ipda Irvan membantu membersihkan sekitar 170 sumur cincin milik masyarakat serta membangun 30 sumur bor di Aceh Utara dan Aceh Timur.

Pasca-banjir, air bersih menjadi salah satu kebutuhan penting masyarakat.

Karena itu, pembersihan sumur dan pembangunan sumur bor menjadi bagian dari upaya membantu masyarakat memulihkan kembali aktivitas sehari-hari.

Menjelang Idul Fitri 2026, Ipda Irvan kembali melakukan kegiatan sosial.

Sebanyak 150 anak yatim dan fakir miskin di Aceh Utara dan Aceh Timur mendapat pakaian Lebaran.

Menjelang tahun ajaran baru, puluhan anak yatim di Kecamatan Langkahan juga mendapatkan pakaian dan perlengkapan sekolah.

Setiap bulan, ia juga memberikan beasiswa sebesar Rp500.000 kepada tiga anak yatim yang mondok di pesantren.

Pada bulan Ramadan, kegiatan sosial dilanjutkan dengan membagikan air minum kepada anak-anak yang mengikuti tadarus, sekaligus membantu pakaian dan perlengkapan sekolah bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.

Kegiatan Jumat berkah juga menjadi bagian dari aktivitasnya, mulai dari membagikan nasi kotak kepada tukang becak dan pedagang kaki lima hingga memberikan kitab dan es krim kepada santri serta jemaah masjid.

Kini, berbagai perjalanan tersebut seolah bertemu dalam satu piagam penghargaan.

Namun bagi Ipda Irvan, penghargaan itu bukan alasan untuk berhenti.

Ia menyampaikan terima kasih kepada Bupati Aceh Utara, pemerintah daerah, keluarga, masyarakat serta para donatur yang selama ini ikut mendukung berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan.

“Seragam ini bukan hanya lambang kewenangan, tetapi juga simbol amanah. Saya hanya berusaha menjalankan tugas sebagai manusia yang berguna bagi sesama,” tuturnya.

Namun perjalanan di baliknya cukup panjang. Dari membantu menyediakan sampan untuk anak-anak sekolah, membantu janda dan lansia, mendampingi orang sakit dan penyandang disabilitas, berbagi kepada anak yatim, hingga turun ke tengah masyarakat ketika bencana datang.

Penghargaan Tokoh Sosial/Kemanusiaan pada rangkaian Milad ke-800 Samudera Pasai akhirnya bukan hanya tentang siapa yang menerima piagam.

Lebih dari itu, penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi terhadap pengabdian yang tumbuh dari kepedulian terhadap sesama.

Sebab, kerja kemanusiaan tidak selalu berlangsung di atas panggung atau di hadapan banyak orang.

Kadang, ia hadir dalam bentuk yang sederhana: sebuah sampan untuk anak sekolah, sembako untuk keluarga yang kesulitan, sumur yang kembali mengeluarkan air, pendampingan bagi orang sakit, atau kehadiran ketika seseorang merasa tidak memiliki siapa-siapa.

Dan bagi Ipda Irvan, mungkin di situlah makna sebuah seragam menemukan arti yang lebih luas:

“Seragam untuk Negeri, Mengayomi dengan Hati, Berbakti untuk Kemanusiaan.”***

Editor: Syahrul