10 Bulan Pascabanjir, Petani Matang Reudeup Masih Menunggu Perbaikan Irigasi
ACEH UTARA | PASESATU.COM — Sepuluh bulan setelah banjir besar melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Aceh Utara, sebagian areal persawahan di Desa Matang Reudeup, Kecamatan Baktiya, masih belum dapat digarap oleh petani.
Kondisi tersebut terlihat di sejumlah titik persawahan Desa Matang Reudeup saat dilakukan pemantauan pada Sabtu (5/9/2026). Sebagian lahan masih terdampak endapan lumpur, sementara jaringan irigasi yang digunakan untuk mengairi persawahan disebut mengalami kerusakan.
Bagi petani, kondisi tersebut menjadi kendala untuk kembali melakukan aktivitas bercocok tanam. Selain persoalan irigasi, material lumpur yang mengendap di lahan juga membutuhkan penanganan sebelum persawahan dapat kembali dimanfaatkan secara optimal.
“Sudah 10 bulan berlalu pascabanjir besar, kami belum bisa menggarap sawah,” ujar Sulaiman, salah seorang petani di Desa Matang Reudeup.
Menurutnya, sawah merupakan sumber utama penghasilan bagi sebagian petani di wilayah tersebut. Ketika lahan tidak dapat ditanami, pendapatan keluarga petani ikut terdampak.
Irigasi Menjadi Kendala
Banjir yang terjadi beberapa waktu lalu memang telah surut. Namun, dampaknya terhadap lahan pertanian dan jaringan pengairan masih dirasakan masyarakat.
Kerusakan saluran irigasi menjadi salah satu persoalan yang dikeluhkan petani. Kondisi jaringan pengairan yang belum berfungsi sebagaimana mestinya membuat petani kesulitan memperoleh pasokan air untuk persawahan.
Selain perbaikan irigasi, petani juga membutuhkan penanganan terhadap sedimentasi lumpur yang menutupi sebagian lahan. Normalisasi atau pembersihan material tersebut diperlukan agar lahan dapat kembali diolah.
Petani berharap pemerintah daerah dan instansi teknis dapat segera melakukan penanganan terhadap kerusakan infrastruktur pertanian di kawasan tersebut.
Petani Berharap Ada Kepastian
Lamanya proses pemulihan membuat petani khawatir kehilangan kesempatan untuk kembali bercocok tanam. Setiap musim tanam yang terlewat berpotensi mengurangi pendapatan keluarga yang bergantung pada hasil pertanian.
Karena itu, petani berharap adanya kepastian mengenai rencana perbaikan jaringan irigasi serta penanganan lahan yang terdampak sedimentasi.
Masyarakat juga berharap pemerintah menyampaikan informasi mengenai langkah penanganan, termasuk jadwal pekerjaan apabila program perbaikan telah direncanakan.
Hingga berita ini ditulis, belum diperoleh keterangan resmi dari Pemerintah Kabupaten Aceh Utara atau dinas teknis terkait mengenai rencana dan jadwal perbaikan jaringan irigasi serta penanganan sedimentasi di areal persawahan Desa Matang Reudeup.
Konfirmasi dari pihak pemerintah akan menjadi bagian penting untuk mengetahui kondisi kerusakan, langkah penanganan yang telah dilakukan, serta target pemulihan lahan pertanian di wilayah tersebut.
Bagi petani, pemulihan jaringan irigasi dan lahan persawahan diharapkan dapat segera dilakukan sehingga mereka dapat kembali menggarap sawah dan melanjutkan sumber penghidupan dari sektor pertanian.***



