Pasokan Ikan Laut Melimpah, Daya Beli Warga Melemah, Pedagang di Panton Labu Keluhkan Penurunan Omzet
Font Terkecil
Font Terbesar
ACEH UTARA | PASESATU.COM – Pasokan ikan laut di Pasar Kota Panton Labu, Kabupaten Aceh Utara, melimpah dalam beberapa pekan terakhir. Cuaca yang mendukung membuat distribusi ikan dari berbagai daerah berjalan lancar sehingga stok ikan di pasar tetap aman.
Beragam jenis ikan laut tersedia dengan pasokan yang cukup. Harga ikan kembung berkisar antara Rp45.000 hingga Rp50.000 per kilogram, ikan tongkol (jeurubok) Rp40.000 hingga Rp50.000 per kilogram, sedangkan ikan dencis dijual sekitar Rp50.000 per kilogram.
Pasokan ikan tersebut berasal dari sejumlah sentra perikanan, di antaranya Lampulo (Banda Aceh), Tanjung Balai, Belawan (Sumatera Utara), dan Idi (Aceh Timur). Distribusi yang lancar membuat ketersediaan ikan di pasar tetap terjaga.
Namun, melimpahnya pasokan belum mampu mendongkrak penjualan. Para pedagang justru mengeluhkan melemahnya daya beli masyarakat. Pasar yang biasanya ramai kini cenderung sepi karena banyak warga mengurangi konsumsi ikan untuk sementara waktu.
Menurut para pedagang, sebagian besar anggaran rumah tangga saat ini dialihkan untuk memenuhi kebutuhan biaya masuk sekolah pada tahun ajaran baru. Selain itu, dampak banjir yang melanda hampir seluruh desa di wilayah tersebut masih terasa. Sebagian petani baru kembali turun ke sawah, sementara banyak keluarga harus mengeluarkan biaya besar untuk perlengkapan sekolah anak-anak mereka.
Di sisi lain, pasokan ikan untuk kebutuhan program Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) juga masih sangat terbatas sehingga belum mampu menjadi penopang permintaan di tingkat pedagang.
Akibat lesunya permintaan, para pedagang terpaksa mengurangi jumlah pembelian stok setiap hari agar ikan dagangan tidak membusuk dan perputaran modal tetap terjaga.
Rusli Abdullah, salah seorang pedagang ikan di Pasar Kota Panton Labu, mengatakan omzet penjualannya turun hingga puluhan persen. Kondisi serupa, menurutnya, juga dirasakan hampir seluruh pedagang ikan.
"Semua pelanggan mengurangi pembelian. Warung-warung makan yang biasanya belanja dalam jumlah besar sekarang hanya membeli sekitar separuh dari biasanya karena pembeli mereka juga sepi," ujar Rusli, Rabu (22/7/2026).
Menurut Rusli, penurunan permintaan tidak hanya berasal dari rumah tangga, tetapi juga dari pelaku usaha kuliner yang selama ini menjadi pelanggan tetap.
Fenomena melimpahnya pasokan ikan di tengah harga yang masih relatif tinggi menunjukkan adanya tantangan pada rantai distribusi dan tingginya biaya operasional. Kondisi tersebut membuat harga di tingkat konsumen belum turun secara signifikan, sementara kemampuan belanja masyarakat sedang melemah. Akibatnya, omzet pedagang menurun dan sebagian masyarakat memilih mengurangi konsumsi ikan atau beralih ke sumber protein yang lebih terjangkau.***



