BERITA TERKINI

Menyambut Hari Asyura: Momentum Syukur, Ibadah, dan Meneladani Keteguhan Para Nabi

Menyambut Hari Asyura: Momentum Syukur, Ibadah, dan Meneladani Keteguhan Para Nabi

Ditulis Oleh: 
Ustadzah Kaswati Azkia, S.Pd
Pengasuh dan Pengajar Dayah Babul Huda Jambo Masi, Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya

PASESATU.COM - Bulan Muharram hadir sebagai gerbang tahun baru Hijriah yang sarat dengan pelajaran dan hikmah bagi umat Islam. Di antara hari-hari istimewa dalam bulan yang dimuliakan ini, terdapat satu hari yang memiliki kedudukan khusus dalam sejarah Islam, yakni Hari Asyura, yang jatuh pada tanggal 10 Muharram.

Hari Asyura bukan sekadar penanda dalam kalender Hijriah. Ia merupakan momentum spiritual yang mengajarkan nilai-nilai syukur, kesabaran, keteguhan iman, serta keyakinan bahwa pertolongan Allah SWT selalu menyertai hamba-hamba-Nya yang beriman.

Dalam pandangan Ahlus Sunnah wal Jamaah, Hari Asyura memiliki banyak keutamaan yang didasarkan pada Al-Qur'an, hadis-hadis sahih, serta penjelasan para ulama. Karena itu, umat Islam dianjurkan menghidupkan hari tersebut dengan amalan-amalan yang sesuai tuntunan syariat, bukan berdasarkan tradisi atau keyakinan yang tidak memiliki landasan yang kuat.

Muharram, Bulan yang Dimuliakan Allah


Allah SWT berfirman:

"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram." (QS. At-Taubah: 36).

Muharram merupakan salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah SWT. Pada bulan-bulan tersebut, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal saleh dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan.

Rasulullah SAW bahkan menyebut Muharram sebagai Syahrullah atau "bulan Allah". Dalam hadis riwayat Imam Muslim, beliau bersabda:

"Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharram."

Hadis ini menunjukkan bahwa Muharram merupakan waktu yang sangat baik untuk meningkatkan kualitas ibadah, terutama melalui puasa sunnah dan berbagai amalan kebaikan lainnya.

Asyura dan Kisah Kemenangan Nabi Musa AS


Keutamaan Hari Asyura tidak dapat dipisahkan dari sejarah para nabi. Ketika Rasulullah SAW hijrah ke Madinah, beliau mendapati kaum Yahudi berpuasa pada tanggal 10 Muharram. Setelah ditanya, mereka menjelaskan bahwa hari tersebut merupakan hari ketika Allah SWT menyelamatkan Nabi Musa AS dan Bani Israil dari kejaran Fir'aun.

Mendengar penjelasan itu, Rasulullah SAW bersabda:

"Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian."

Kemudian beliau berpuasa pada hari tersebut dan memerintahkan para sahabat untuk turut melaksanakannya.

Peristiwa ini mengandung pesan yang sangat mendalam. Asyura menjadi simbol kemenangan kebenaran atas kebatilan, kemenangan keimanan atas kezaliman, dan bukti bahwa pertolongan Allah selalu datang kepada orang-orang yang tetap teguh mempertahankan keyakinannya.

Di tengah berbagai persoalan kehidupan modern, pesan tersebut tetap relevan. Seorang Muslim diajarkan untuk tidak mudah berputus asa. Sebagaimana Nabi Musa AS dan kaumnya diselamatkan pada saat keadaan tampak begitu sulit, demikian pula pertolongan Allah akan datang kepada mereka yang sabar dan istiqamah.

Puasa Asyura dan Keutamaan Pengampunan Dosa


Amalan utama pada Hari Asyura adalah melaksanakan puasa sunnah pada tanggal 10 Muharram.

Dari Abu Qatadah RA, Rasulullah SAW bersabda:

"Puasa hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa-dosa setahun yang telah lalu." (HR Muslim).

Hadis ini menunjukkan besarnya rahmat Allah SWT kepada umat Nabi Muhammad SAW. Dengan berpuasa satu hari, seorang Muslim berpeluang memperoleh pengampunan atas dosa-dosa kecil yang dilakukan selama setahun sebelumnya.

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa yang dimaksud dalam hadis tersebut adalah penghapusan dosa-dosa kecil, sedangkan dosa besar tetap memerlukan taubat yang sungguh-sungguh.

Keutamaan ini semestinya menjadi motivasi bagi setiap Muslim untuk tidak melewatkan Hari Asyura tanpa memperbanyak ibadah.

Mengapa Dianjurkan Berpuasa pada Tanggal 9 dan 10 Muharram?


Menjelang akhir hayatnya, Rasulullah SAW menyampaikan keinginan untuk menyelisihi kebiasaan kaum Yahudi yang hanya berpuasa pada tanggal 10 Muharram.

Beliau bersabda:

"Jika aku masih hidup sampai tahun depan, niscaya aku akan berpuasa pada hari kesembilan."

Berdasarkan hadis tersebut, para ulama menganjurkan agar puasa Asyura disertai dengan puasa pada tanggal 9 Muharram yang dikenal sebagai Puasa Tasu'a.

Sebagian ulama juga menganjurkan menambahkan puasa pada tanggal 11 Muharram. Karena itu, tingkatan pelaksanaan puasa Muharram dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:

1. Berpuasa pada tanggal 9, 10, dan 11 Muharram;
2. Berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram;
3. Berpuasa pada tanggal 10 dan 11 Muharram;
4. Berpuasa pada tanggal 10 Muharram saja.

Seluruh bentuk tersebut diperbolehkan, namun yang paling utama adalah menggabungkan puasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram.

Asyura Adalah Hari Syukur, Bukan Hari Ratapan


Dalam sejarah Islam, Hari Asyura juga bertepatan dengan peristiwa duka di Karbala pada tahun 61 Hijriah, ketika Sayyidina Husain bin Ali RA, cucu Rasulullah SAW, gugur dalam sebuah tragedi yang menyedihkan.

Umat Islam, khususnya Ahlus Sunnah wal Jamaah, meyakini bahwa Husain RA merupakan salah satu tokoh mulia dari keluarga Rasulullah SAW yang wajib dicintai dan dihormati.

Namun, kecintaan kepada beliau tidak diwujudkan dengan sikap berlebihan, seperti meratapi secara ekstrem, menyakiti diri sendiri, atau melakukan ritual berkabung yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Kesedihan atas wafatnya Husain RA tidak boleh menghilangkan hakikat utama Hari Asyura sebagai hari syukur atas pertolongan Allah kepada para nabi dan orang-orang beriman.

Karena itu, seorang Muslim diajarkan untuk mendoakan Husain RA, mengambil hikmah dari perjuangannya, serta menjauhi sikap ekstrem dalam menyikapi peristiwa sejarah.

Menghidupkan Asyura dengan Amal Saleh


Selain berpuasa, Hari Asyura dapat diisi dengan berbagai amal kebaikan, seperti membaca Al-Qur'an, memperbanyak zikir, bersedekah, membantu sesama, mempererat silaturahmi, dan memperbanyak doa.

Namun, perlu dipahami bahwa tidak ada ibadah khusus pada Hari Asyura yang memiliki dasar sahih, seperti salat Asyura dengan tata cara tertentu atau doa-doa khusus yang diyakini memiliki keutamaan mutlak.

Prinsip yang harus dipegang adalah menghidupkan Asyura dengan amalan yang benar-benar memiliki landasan syariat.

Momentum Muhasabah dan Perbaikan Diri


Pada akhirnya, Hari Asyura bukan sekadar peringatan tahunan. Ia adalah momentum muhasabah, waktu untuk mengevaluasi perjalanan hidup dan memperbarui komitmen dalam beribadah kepada Allah SWT.

Asyura mengajarkan bahwa pertolongan Allah selalu dekat bagi orang-orang yang beriman. Ia mengingatkan bahwa kesabaran akan berujung pada kemenangan, kezaliman tidak akan bertahan selamanya, dan setiap kesulitan pasti memiliki jalan keluar yang telah Allah siapkan.

Keutamaan Muharram dan Asyura tidak hanya terletak pada peristiwa sejarahnya, tetapi juga pada kesempatan besar yang diberikan Allah kepada hamba-hamba-Nya untuk meraih ampunan, meningkatkan ketakwaan, dan memperbanyak amal saleh.

Maka, ketika Hari Asyura tiba, sambutlah dengan puasa, syukur, doa, dan amal kebajikan. Jadikan hari tersebut sebagai titik awal untuk memperbaiki diri, memperkuat keimanan, dan meneguhkan keyakinan bahwa Allah senantiasa bersama hamba-hamba-Nya yang bertakwa.

Wallahu a'lam bish shawab.

Biodata Penulis

Ustadzah Kaswati Azkia, S.Pd merupakan pengasuh dan pengajar di Dayah Babul Huda Jambo Masi, Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya. Ia aktif dalam bidang pendidikan Islam, pembinaan santri, dakwah keagamaan, serta penguatan literasi keislaman di kalangan generasi muda. Melalui berbagai tulisan dan aktivitas dakwahnya, ia berupaya menghadirkan pemahaman Islam yang moderat, berlandaskan Al-Qur'an, Sunnah, dan pemahaman Ahlus Sunnah wal Jamaah.

"Hari Asyura bukan hanya tentang mengenang sejarah, tetapi tentang menumbuhkan rasa syukur, memperkuat keimanan, dan mengambil pelajaran dari pertolongan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman." 
— Ustadzah Kaswati Azkia, S.Pd