BERITA TERKINI

Ketika Kaisar Memberi, Raja Menonton, dan Abdi Dalam Menghitung Untung


PASESATU.COM
- Di sebuah negeri dalam cerita, rakyat baru saja berusaha bangkit dari luka akibat musibah besar. Rumah-rumah yang rusak mulai dibenahi, harapan yang sempat runtuh perlahan disusun kembali. Di tengah keadaan itu, datanglah sang Kaisar membawa bantuan. Kehadirannya disambut dengan rasa syukur oleh mereka yang telah lama menunggu uluran tangan.

Namun, di balik suasana penuh harapan tersebut, terselip pemandangan yang memantik berbagai pertanyaan.

Sang Raja, yang semestinya menjadi nahkoda bagi rakyatnya, tampak lebih banyak berdiri di tepi panggung. Ia hadir, tetapi tidak sepenuhnya terlihat memegang kendali. Sementara para abdi dalam berlalu-lalang mengatur berbagai urusan, bahkan seolah memiliki pengaruh yang lebih besar dalam menentukan arah perjalanan bantuan.

Di tengah situasi itu, beredar bisik-bisik dari lorong-lorong kampung. Ada cerita mengenai biaya yang harus ditanggung oleh rakyat untuk memperoleh sesuatu yang sejatinya dimaksudkan sebagai bentuk pertolongan. Besar atau kecilnya nilai mungkin berbeda dalam setiap kisah, tetapi satu hal yang sama: bagi mereka yang baru saja tertimpa musibah, beban sekecil apa pun tetap terasa berat.

Tentu, cerita yang beredar tidak selalu identik dengan kebenaran. Namun, ketika desas-desus muncul dari banyak arah dan kegelisahan terdengar dari berbagai penjuru, maka yang dibutuhkan bukanlah kemarahan, melainkan keterbukaan. Sebab, transparansi adalah cara terbaik untuk menjawab keraguan.

Sayangnya, dalam banyak kisah, para penguasa sering kali lebih nyaman mendengar pujian dari dalam istana dibandingkan keluhan yang datang dari luar pagar. Laporan yang tersusun rapi dan kata-kata yang terdengar indah terkadang lebih mudah diterima daripada suara rakyat yang serak karena terlalu lama memanggil.

Padahal, hakikat kekuasaan bukanlah tentang siapa yang paling sering tampil di atas panggung atau siapa yang paling banyak disebut dalam pidato. Kekuasaan memperoleh maknanya ketika mampu menghadirkan rasa aman, keadilan, dan keberpihakan kepada mereka yang paling membutuhkan.

Rakyat tidak membutuhkan seremoni yang megah. Mereka tidak menuntut pujian atau penghormatan yang berlebihan. Yang mereka harapkan sederhana: bantuan yang sampai tanpa beban tambahan, pelayanan yang jujur, serta pemimpin yang hadir bukan sekadar untuk dilihat, melainkan untuk memastikan bahwa setiap kebijakan benar-benar berpihak kepada mereka yang sedang mengalami kesulitan.

Mungkin kisah tentang Kaisar, Raja, dan para abdi dalam ini hanyalah sebuah alegori. Namun, setiap alegori biasanya lahir dari pengalaman yang pernah dirasakan banyak orang. Sebab, sejarah telah berkali-kali menunjukkan bahwa sebuah kekuasaan tidak runtuh karena kurangnya pujian, melainkan karena terlalu lama mengabaikan suara rakyat.

Dan pada akhirnya, sejarah tidak akan terlalu sibuk mengingat siapa yang paling sering berdiri di atas panggung. Sejarah justru lebih setia mencatat siapa yang tetap berdiri bersama rakyat ketika mereka membutuhkan pertolongan.***

Penulis : Abdul Rafar