Aku Masih Rindu Seragam Putih Abu-Abu
PASESATU.COM - Ada masa dalam hidup yang tak pernah benar-benar pergi, meski waktu telah membawanya jauh. Masa itu bernama sekolah, masa ketika seragam putih abu-abu menjadi bagian dari keseharian.
Aku masih merindukan seragam itu. Bukan karena warna atau kainnya, melainkan karena ia menyimpan begitu banyak cerita yang tak akan pernah terulang.
Dulu, aku sering mengeluhkan pagi yang terburu-buru, tugas yang menumpuk, dan nasihat guru yang terasa membosankan. Namun hari ini, setelah waktu membawa semuanya pergi, justru hal-hal itulah yang diam-diam paling kurindukan.
Aku rindu suara bel sekolah yang memecah kesunyian pagi. Rindu langkah kaki yang berlari menuju kelas. Rindu tawa teman-teman yang begitu lepas, tanpa beban kehidupan.
Kami pernah duduk bersama, bercita-cita setinggi langit, seolah dunia akan selalu menyediakan ruang untuk kebersamaan.
Namun, waktu ternyata adalah perpisahan yang tak dapat ditolak.
Satu per satu sahabat pergi mengejar takdirnya masing-masing. Ada yang telah meraih kesuksesan, ada yang masih berjuang menggapai impian. Ada yang hilang kabar, dan ada pula yang lebih dahulu dipanggil Sang Pencipta.
Bangku-bangku di ruang kelas itu mungkin masih berdiri. Papan tulis itu mungkin masih ada. Namun, cerita kami telah lama usai, dan nama-nama yang pernah tertulis di sana telah dihapus oleh waktu.
Seragam putih abu-abu kini hanya tergantung dalam kenangan, mulai usang dimakan usia, seperti masa-masa indah yang perlahan memudar, tetapi tak pernah benar-benar hilang.
Kadang aku ingin kembali. Bukan untuk menjadi lebih hebat, bukan pula untuk mengubah masa lalu. Aku hanya ingin kembali untuk satu hari saja.
Satu hari untuk duduk lagi di kelas itu, mendengar tawa teman-teman yang kini tinggal kenangan, melihat wajah-wajah yang dahulu setiap hari kutemui, dan mengucapkan terima kasih kepada waktu yang pernah mempertemukan kami.
Sebab semakin dewasa, aku mengerti bahwa yang paling menyakitkan bukanlah kehilangan seseorang, melainkan menyadari bahwa ada masa yang begitu indah yang pernah kita miliki sepenuhnya, tetapi tak akan pernah bisa kita datangi lagi.
Dan setiap kali melihat seragam putih abu-abu, hatiku selalu berbisik lirih:
"Tunggu aku di dalam kenangan. Aku masih sering pulang ke sana, meski hanya lewat air mata."
Untuk Guru-Guruku, Para Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
Masih kuingat guru-guruku.
Mereka mungkin tidak sekaya pejabat, tidak seterkenal artis, dan tidak memiliki kemewahan yang dipamerkan dunia. Namun, dari tangan merekalah kami belajar membaca masa depan dan mengejar mimpi.
Dulu, kami sering mengeluh ketika dimarahi, kesal ketika dihukum karena terlambat, dan jengkel ketika tugas terasa terlalu banyak. Kami mengira mereka ingin menyusahkan.
Kini, setelah usia mengajarkan banyak hal, aku baru mengerti bahwa tidak ada satu pun teguran mereka yang lahir dari kebencian. Semua berasal dari kepedulian dan kasih sayang yang tulus.
Masih kuingat wajah guru-guruku yang datang paling pagi dan pulang paling akhir. Mereka tetap berdiri di depan kelas meski lelah, tetap tersenyum meski menyimpan berbagai persoalan yang tak pernah kami ketahui.
Mereka mengajarkan huruf demi huruf hingga kami mampu membaca dunia. Mengajarkan angka demi angka hingga kami mampu menghitung langkah kehidupan.
Namun, yang paling berharga bukanlah pelajaran yang tertulis di buku, melainkan pelajaran tentang kejujuran, kesabaran, menghormati orang tua, dan arti menjadi manusia yang baik.
Hari ini kami telah tumbuh dewasa. Sebagian menjadi pegawai, sebagian menjadi pedagang, sebagian menjadi petani, dan sebagian lainnya merantau jauh meninggalkan kampung halaman.
Di mana pun kami berada, ada jejak tangan guru yang ikut mengantarkan kami hingga sampai pada titik ini.
Yang membuat hati terasa sesak adalah kenyataan bahwa waktu berjalan begitu cepat.
Ada guru yang dulu setiap hari kami salami, kini telah pensiun. Ada yang mulai renta dimakan usia. Dan ada pula yang telah lebih dahulu menghadap Sang Pencipta.
Kadang aku membayangkan mereka membuka album kenangan lama, lalu tersenyum melihat murid-muridnya yang kini telah dewasa.
Sementara kami, para murid yang dulu sering membuat mereka marah, kini hanya mampu mengenang dengan mata yang berkaca-kaca.
Sebab semakin bertambah usia, semakin kusadari bahwa tidak semua pahlawan mengenakan seragam tentara.
Sebagian dari mereka berdiri di depan kelas, memegang kapur dan buku, lalu dengan sabar menuntun kami mengenal dunia.
Terima kasih, guru-guruku.
Jika hari ini kami mampu berdiri tegak menghadapi kehidupan, itu karena dahulu ada tangan-tangan tulus yang tak pernah lelah mengajarkan arti ilmu, disiplin, dan kebaikan.
Dan jika suatu hari kami kembali mengenang masa putih abu-abu, nama kalian akan selalu menjadi bagian terindah dari kenangan itu.***


