Sudah Enam Bulan Banjir Berlalu, Tapi M. Dahlan Belum Pulang
Ketika Bantuan Tinggal Janji dan Rumah Hanya Menjadi Kenangan
ACEH UTARA — Pagi itu, matahari sudah naik tinggi di Desa Sama Kurok, Kecamatan Tanah Jambo Aye. Jalanan desa kembali ramai oleh aktivitas warga. Anak-anak berlarian di halaman rumah, suara sepeda motor sesekali memecah sunyi, dan lumpur sisa banjir yang dulu menenggelamkan permukiman kini telah lama mengering.
Namun bagi M. Dahlan (45), banjir itu sejatinya belum pernah benar-benar pergi.
Sudah enam bulan berlalu sejak air bah menerjang rumahnya. Tetapi hingga hari ini, Dahlan belum juga kembali memiliki tempat tinggal sendiri. Rumah yang dulu ia bangun dengan jerih payah kini tak lagi layak dihuni, memaksanya hidup menumpang di rumah tetangga sambil berharap ada bantuan yang datang.
Di sudut rumah sederhana tempat ia menumpang, Dahlan duduk pelan sambil menatap kosong ke arah jalan desa. Wajahnya tenang, tetapi suaranya menyimpan kelelahan panjang yang sulit disembunyikan.
“Saya hanya dapat mie instan dan beras waktu banjir. Setelah itu tidak ada apa-apa lagi,” ujarnya lirih saat ditemui media ini, Jumat (30/5/2026).
Ia mengaku sering mendengar berbagai istilah bantuan pemerintah pascabencana — mulai dari hunian sementara (huntara), hunian tetap (huntap), dana tunggu hunian (DTH), hingga bantuan stimulan perumahan. Namun semua itu, kata Dahlan, baru sebatas kabar yang lewat di telinganya.
“Huntara, Huntap, DTH, bantuan stimulan, saya cuma dengar namanya saja,” katanya.
Kalimat itu meluncur tanpa nada marah. Justru di situlah letak getirnya. Tidak ada protes berlebihan, tidak ada tuntutan keras. Hanya seorang korban bencana yang perlahan belajar menerima bahwa dirinya mungkin terlewat dari daftar panjang perhatian.
Sehari-hari, Dahlan bekerja sebagai buruh bangunan dengan penghasilan yang tidak menentu. Ada ironi yang diam-diam hidup dalam kesehariannya: ia membantu membangun rumah orang lain, sementara rumahnya sendiri belum mampu ia dirikan kembali.
Saat sore tiba dan pekerjaan usai, ia kembali ke rumah tetangga tempatnya menumpang. Menjalani hari-hari dengan rasa sungkan yang terus dipendam, sembari menyimpan harapan sederhana yang belum juga berubah sejak banjir datang.
“Saya berharap pemerintah bisa membantu membangun rumah saya,” ucapnya pelan.
Bencana memang datang hanya dalam hitungan jam. Tetapi bagi sebagian korban, dampaknya bisa tinggal jauh lebih lama — hidup dalam dinding yang retak, ekonomi yang lumpuh, dan perhatian yang perlahan menghilang setelah kamera dimatikan.
Di Aceh Utara, ketika banjir tinggal cerita bagi banyak orang, M. Dahlan masih hidup di dalamnya.***




