Sesungguhnya Kopi Tak Perlu Manis, Asal Janji Jangan Terus Habis
Font Terkecil
Font Terbesar
PASESATU.COM — Di banyak warung kopi di Aceh, gula mulai dikurangi. Harga kebutuhan naik, penghasilan masyarakat tidak selalu pasti, dan sebagian orang memilih menikmati pahitnya kopi daripada harus menambah pengeluaran. Namun di tengah keadaan itu, ada satu hal yang justru terasa semakin manis di telinga rakyat, yaitu janji.
Janji hadir hampir di setiap musim. Saat masyarakat mengeluhkan bantuan hidup yang belum tersalurkan, nama warga miskin yang hilang dari daftar penerima, lapangan pekerjaan yang semakin sempit, hingga pelayanan kesehatan yang terasa rumit, selalu ada kalimat penenang yang terdengar indah dan meyakinkan.
Namun kini banyak rakyat mulai memahami, kopi pahit masih bisa ditelan. Yang sulit diterima adalah harapan yang terus diaduk, tetapi tak pernah benar-benar disajikan menjadi kenyataan.
Di warung kopi pinggir jalan, percakapan masyarakat terdengar semakin tajam. Ada yang berseloroh pelan, “Kopi tak perlu manis, asal hidup jangan terus pahit.” Kalimat sederhana itu menyimpan kegelisahan panjang tentang keadaan yang mereka rasakan sehari-hari.
Sebagian warga mulai merasa bahwa janji telah menjadi “minuman” paling murah di negeri ini. Mudah diracik, mudah dibagikan, tetapi tak pernah benar-benar mengenyangkan. Setiap kali rakyat bertanya tentang perubahan, jawaban yang datang hampir selalu sama: sabar, tunggu proses, sedang diupayakan.
Sementara itu, di sudut-sudut desa, masih ada ibu yang memikirkan biaya seragam sekolah anaknya. Ada nelayan yang pulang dengan hasil tangkapan sedikit, sementara harga kebutuhan rumah tangga terus meningkat. Ada pula buruh harian yang menghabiskan waktu di warung kopi bukan karena bersantai, melainkan karena hari itu memang tidak ada pekerjaan.
Ironisnya, di tengah kondisi seperti itu, masyarakat tetap diminta untuk terus percaya. Percaya pada angka-angka, percaya pada laporan, dan percaya pada pidato-pidato. Padahal yang mereka lihat setiap hari sering kali berbeda dengan apa yang disampaikan.
Kopi Aceh sejak lama dikenal kuat dan jujur rasanya. Pahitnya nyata, aromanya jelas, tanpa kepura-puraan. Barangkali karena itu pula masyarakat Aceh mulai belajar bahwa kejujuran jauh lebih berharga daripada kata-kata manis yang terus diulang tanpa kepastian.
Sesungguhnya rakyat tidak menuntut hidup mewah. Mereka hanya ingin janji tidak berubah menjadi kebiasaan yang diwariskan dari satu panggung ke panggung berikutnya.
Sebab ketika janji terus habis sebelum ditepati, lambat laun rakyat akan berhenti percaya, bahkan pada kata-kata yang dahulu paling mereka tunggu.***
Penulis : Abdul Rafar



