Hujan yang Tak Pernah Netral
Font Terkecil
Font Terbesar
PASESATU.COM - Malam ini, hujan kembali turun. Ia datang tanpa undangan, tanpa memilih atap mana yang kokoh dan mana yang nyaris roboh. Bagi sebagian orang, rintiknya adalah musik alam yang menenangkan ditemani secangkir kopi, selimut hangat, dan kenangan yang mengalir pelan. Namun, di sudut lain yang kerap luput dari perhatian, hujan adalah sesuatu yang jauh dari kata indah.
Di hunian sementara yang ironisnya terlalu lama disebut “sementara” hujan bukan sekadar suara. Ia menjadi ancaman yang merembes perlahan: dari atap yang bocor, dinding yang tak pernah benar-benar rapat, hingga tanah yang berubah menjadi lumpur dingin. Air masuk tanpa permisi, menggenangi tikar, membasahi pakaian, dan mengusik tidur yang sejak awal pun tak pernah benar-benar nyenyak.
Di sana, malam terasa lebih panjang. Angin yang menyelinap lewat celah dinding bukan sekadar hembusan biasa, melainkan membawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Anak-anak meringkuk, sementara orang tua terjaga—bukan karena ingin, tetapi karena keadaan memaksa. Setiap tetes air yang jatuh menjadi pengingat bahwa mereka belum benar-benar pulang.
Kita sering mengatakan bahwa hujan membawa berkah. Namun, bagi mereka, hujan justru menjadi ujian yang datang berulang, seolah tanpa jeda. Ketika langit mulai gelap dan awan menggantung berat, yang muncul bukan rasa syukur, melainkan kecemasan yang diam-diam menyesakkan.
Yang lebih menyayat bukan hanya kondisi fisik yang dihadapi, tetapi juga ketidakpastian yang menyertainya. Sudah berapa lama mereka bertahan di tempat yang disebut “sementara” itu? Dan berapa lama lagi mereka harus menunggu untuk memperoleh sesuatu yang seharusnya menjadi hak dasar: tempat tinggal yang layak?
Tulisan ini bukan sekadar keluhan, melainkan cermin. Bahwa di tengah rutinitas kita, ada realitas yang berjalan tanpa banyak perubahan. Bahwa empati tidak cukup berhenti pada kata-kata, apalagi sekadar simpati sesaat di media sosial.
Hujan malam ini seharusnya mengingatkan kita: ada luka yang belum kering dan harapan yang masih tertahan di ruang-ruang sempit itu. Dari tempat kita berdiri yang lebih hangat dan aman kita masih memiliki pilihan untuk tidak menutup mata.
Sebab pada akhirnya, kemanusiaan diuji bukan saat langit cerah, melainkan ketika hujan turun, dan kita memilih: menjadi penonton atau menjadi bagian dari kehangatan yang mereka tunggu.***
Penulis : Abdul Rafar




