BERITA TERKINI

Sampah Kayu Kembali Sumbat Bendung DI Jambo Aye, UPI Lakukan Pembersihan Darurat

Sampah Kayu Kembali Sumbat Bendung  DI Jambo Aye, UPI Lakukan Pembersihan Darurat

ACEH UTARA | PASESATU.COM
— Tumpukan sampah kayu kembali menyumbat Bendung  DI Jambo Aye di Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, Sabtu (25/4/2026). Kondisi ini mendorong Unit Pengelola Irigasi (UPI) Jambo Aye melakukan pembersihan darurat guna mencegah terganggunya distribusi air irigasi ke ribuan hektare lahan pertanian.

Ketua UPI DI Jambo Aye, Setia Budi, mengatakan material kayu yang menumpuk diduga merupakan sisa sampah dari hulu sungai yang kembali terbawa arus saat debit air meningkat.

“Material lama terbawa kembali oleh arus. Kami harus segera membersihkannya agar aliran air tidak terganggu. Saat ini sedang dilakukan uji coba pengaliran ke Sub DI Pantonlabu,” ujarnya.

Menurut dia, penanganan cepat sangat penting untuk memastikan suplai air tetap normal ke lebih dari 5.525 hektare lahan pertanian yang berada dalam cakupan layanan irigasi Bendung Jambo Aye.

Selain ke Sub DI Pantonlabu, pengaliran air juga ditargetkan menjangkau sejumlah wilayah lain, seperti Sub DI Lhoksukon, Monsukon, Lueng Baro, dan Arakundo.

Dalam proses pembersihan, tim lapangan mengerahkan satu unit ekskavator long arm untuk mengangkat material kayu berukuran besar, dua unit dump truck untuk mengangkut hasil evakuasi, serta tujuh personel lapangan untuk mempercepat normalisasi aliran.

Langkah tersebut dilakukan secara intensif agar pintu bendung tetap berfungsi optimal dan terhindar dari kerusakan akibat benturan material kayu.

Fenomena sampah kayu kiriman dari hulu ini disebut bukan pertama kali terjadi. Material yang sebelumnya telah dibersihkan kembali hanyut dan menumpuk di area pintu bendung saat debit air sungai meningkat.

Kondisi tersebut dinilai menjadi ancaman serius bagi sistem irigasi di kawasan Aceh Utara karena selain menghambat aliran air ke area persawahan, tumpukan kayu juga berpotensi merusak infrastruktur bendung.

Jika tidak ditangani secara menyeluruh, persoalan ini diperkirakan akan terus berulang, terutama saat curah hujan tinggi, dan berdampak langsung pada produktivitas ribuan hektare lahan pertanian.***