Rakyat Tak Paham Desil, JKA Jangan Jadi Saringan Baru bagi Si Miskin
Imum Mukim Madat: Warga Butuh Berobat, Bukan Istilah Rumit
ACEH TIMUR | PASESATU.COM — Istilah “desil” yang kini dipakai dalam skema layanan Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) mulai menuai kritik dari tingkat bawah. Bagi sebagian warga, istilah itu terdengar asing jauh dari kebutuhan sehari-hari yang lebih mendesak: berobat saat sakit.
Imum Mukim Kecamatan Madat, Azhar Ab, menilai penggunaan istilah teknokratis berpotensi menjauhkan masyarakat dari akses layanan kesehatan. “Rakyat tidak tahu apa itu desil. Yang mereka tahu, kalau sakit harus bisa berobat,” kata Azhar, Minggu, 5 April 2026.
Menurut dia, kebijakan publik, terutama yang menyangkut hajat hidup orang banyak, semestinya disampaikan dengan bahasa yang sederhana. Di tingkat gampong, warga tidak bergulat dengan klasifikasi statistik atau kategori ekonomi. Mereka hanya ingin kepastian bahwa layanan kesehatan tetap terbuka saat dibutuhkan.
Azhar mengingatkan, jika tidak dikelola dengan hati-hati, istilah seperti desil bisa berubah fungsi. Dari alat pendataan, menjadi semacam penyaring yang justru menutup akses bagi mereka yang paling membutuhkan. Dalam praktiknya, kata dia, warga miskin kerap tersingkir bukan karena tidak layak, melainkan karena tidak memahami sistem.
“Jangan sampai orang miskin kalah oleh sistem yang rumit,” ujarnya.
Belakangan, pemerintah memang menekankan pentingnya validasi data dan ketepatan sasaran. Namun di lapangan, pendekatan itu dinilai belum sepenuhnya diimbangi dengan sosialisasi yang memadai. Akibatnya, muncul jarak antara kebijakan dan realitas yang dihadapi masyarakat.
Bagi warga desa, JKA bukan soal angka atau tabel. Program itu menyangkut kebutuhan dasar akses pada layanan kesehatan. Karena itu, Azhar meminta pemerintah tidak mengubahnya menjadi urusan administratif yang kaku dan sulit dijangkau.
“Kalau memang untuk rakyat miskin, pastikan mereka benar-benar terlindungi,” kata dia.
Kekhawatiran lain pun mencuat. Perubahan skema dan basis data penerima manfaat dikhawatirkan melahirkan kelompok baru yang terpinggirkan mereka yang tidak tercatat, tidak paham prosedur, dan tidak punya akses untuk memperjuangkan haknya.
Di tengah situasi itu, kritik dari akar rumput menjadi pengingat: program kesehatan tidak cukup hanya tepat di atas kertas. Ia juga harus dapat dipahami dan diakses oleh mereka yang paling membutuhkan. Ketika istilah lebih rumit daripada pelayanan, yang tersisa bukan keadilan, melainkan kebingungan yang sunyi di rumah-rumah warga.***
