Petir Itu Menyambar, Duka Itu Menetap
Font Terkecil
Font Terbesar
ACEH UTARA | PASESATU.COM — Langit Dusun Kareung, Desa Buket Linteung, Kecamatan Langkahan, seakan pecah sore itu. Petir datang tanpa salam, tanpa jeda dan dalam sekejap, ia merenggut Zakaria (45), Senin (13/4/2026).
Yang tersisa bukan hanya tubuh yang terbujur kaku, tetapi juga kesunyian yang perlahan merayap ke setiap sudut rumah.
Selasa (14/4/2026), rumah duka itu dipenuhi masyarakat, namun terasa hampa. Warga datang berbondong-bondong, membawa langkah yang berat, mata yang basah, dan hati yang seperti ikut disambar.
Tak ada yang benar-benar siap menghadapi kehilangan yang datang secepat itu.
Di pelataran rumah, suara isak ditahan-tahan, pecah di sela doa. Di dapur, tangan-tangan bekerja tanpa banyak bicara, memasak, menyeduh, menyiapkan apa saja yang bisa dilakukan, seolah kesibukan kecil itu mampu menambal luka yang terlalu besar.
Namun duka tak pernah bisa ditipu.
Setiap sudut rumah seperti menyimpan kenangan yang masih hangat. Kursi yang pernah diduduki, gelas yang mungkin terakhir disentuh, semuanya kini berubah menjadi saksi bisu bahwa seseorang telah pergi dan tak akan kembali.
Kalimat itu menggantung di udara, berat, seperti langit yang belum sepenuhnya pulih.
Di tengah kerumunan, kebersamaan memang hadir menguatkan, memeluk, mencoba menahan agar yang ditinggalkan tidak runtuh sepenuhnya. Tapi tetap saja, ada ruang di hati yang tak bisa diisi siapa pun.
Karena ada kehilangan yang tak sekadar pergi, ia menetap, diam, dan perlahan mengajarkan arti sepi yang sebenarnya.***





