Pagi yang Hangat, Negara yang Dingin
Font Terkecil
Font Terbesar
ACEH UTARA | PASESATU.COM — Pagi kembali datang tanpa rasa bersalah. Di meja-meja kayu warung kopi, cangkir-cangkir berasap diangkat seperti ritual kecil yang tak pernah absen, menyeruput hangat, menelan pahit, lalu menyebutnya syukur.
“Keruh tapi menjernihkan, panas tapi mendinginkan.” Kalimat itu terdengar indah sampai kita ingat, tidak semua orang punya pagi yang bisa dinikmati. Di huntara, pagi bukan tentang kopi. Pagi adalah tentang bertahan.
Di sana, atap bocor lebih jujur daripada janji. Dinding tipis lebih terbuka daripada laporan. Dan lantai yang dingin lebih nyata daripada perhatian yang sering kali hanya singgah sebentar lalu hilang bersama sorotan.
Anak-anak tetap berangkat sekolah. Bukan karena mereka siap, tapi karena mereka dipaksa keadaan untuk terlihat kuat.
Tas mereka menyimpan lebih banyak harapan daripada buku. Sepatu mereka lebih sering basah daripada kering. Jalan yang mereka lewati bukan sekadar berlumpur ia adalah simbol dari arah yang tak kunjung diperbaiki.
Sementara itu, di ruang-ruang yang jauh dari genangan, keputusan diambil dengan rapi. Angka-angka disusun, program diumumkan, dan bantuan disebut telah disalurkan.
Semua terdengar selesai kecuali bagi mereka yang masih menunggu bukti. Negara ini tidak kekurangan kata. Ia hanya kekurangan keberanian untuk menepati. Kita diajak untuk bersyukur, dan kita melakukannya.
Tapi di balik syukur yang kita ucapkan, ada pertanyaan yang tak pernah benar-benar dijawab, mengapa penderitaan bisa bertahan lebih lama daripada perhatian? Kopi pagi ini tetap panas.
Namun kehangatannya terasa timpang ia hanya berputar di cangkir-cangkir tertentu, tak pernah sampai ke tangan-tangan yang benar-benar membutuhkan.
Dan jika hari ini kita masih bisa duduk tenang, menyeruput sambil berbincang, maka mungkin yang perlu kita tanyakan bukan lagi tentang nikmat yang kita terima melainkan tentang hak siapa yang belum kita pikirkan.
Sebab selama huntara masih menjadi rumah tanpa batas waktu, selama anak-anak masih belajar di tengah kekurangan yang dipaksa untuk dianggap biasa, maka yang dingin bukanlah pagi melainkan nurani yang terlalu lama dibiarkan diam.***
