Lima Bulan Pascabanjir, Warga Pante Ara Bertahan di Antara Luka dan Harap yang Tertunda
ACEH UTARA | PASESATU.COM — Pagi di Dusun Pante Ara, Desa Tanjong Dalam, Kecamatan Langkahan, datang seperti biasa. Matahari naik perlahan, menerangi rumah-rumah yang tampak berdiri tenang. Namun, di balik ketenangan itu, tersimpan jejak panjang sebuah bencana yang belum benar-benar usai.
Lima bulan telah berlalu sejak banjir besar menerjang kawasan ini pada 26 November 2025. Air yang kala itu meluap dan merendam ratusan rumah memang telah lama surut. Akan tetapi, bagi warga Pante Ara, banjir tidak pernah benar-benar pergi. Ia tertinggal dalam bentuk yang lebih sunyi bekas genangan di dinding, lantai yang kusam, hingga puing-puing yang belum sepenuhnya tersingkir.
Pantauan pada Selasa (21/4/2026) menunjukkan, bekas bencana masih terlihat di hampir setiap sudut dusun. Garis air setinggi dada orang dewasa masih membekas di tembok rumah. Di beberapa halaman, kayu-kayu lapuk dan sisa material bangunan menumpuk tanpa kepastian kapan akan dibersihkan.
Di antara sisa-sisa itu, anak-anak tampak bermain seperti biasa. Mereka berlari di tanah yang belum sepenuhnya kering, tertawa tanpa beban. Namun bagi orang dewasa, pemandangan itu menghadirkan rasa yang campur aduk antara haru dan getir. Masa kecil yang seharusnya penuh keceriaan kini tumbuh di atas bekas luka bencana.
“Yang kami butuhkan sekarang bukan lagi kata-kata. Kami butuh tindakan nyata,” ujar Abdullah, Wakil Ketua Tuha Peut setempat. Suaranya tenang, tetapi menyiratkan kelelahan panjang. “Rumah belum pulih, lingkungan belum bersih, saluran air juga masih mengkhawatirkan.”
Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Hingga kini, sejumlah saluran air di dusun tersebut belum dinormalisasi. Setiap kali hujan turun, rasa cemas kembali menyergap warga. Ingatan tentang malam ketika air datang tiba-tiba dan memaksa mereka mengungsi masih membekas kuat.
Bagi masyarakat Pante Ara, bencana tidak berakhir ketika air surut. Ia berlanjut dalam keseharian dalam rumah yang belum sepenuhnya layak huni, fasilitas umum yang terbatas, dan lingkungan yang belum sepenuhnya aman, terutama bagi anak-anak.
Waktu terus berjalan, tetapi pemulihan dirasakan lambat. Lima bulan yang telah terlewati bagi sebagian warga terasa seperti penantian tanpa kepastian. Mereka masih menunggu langkah konkret yang mampu mengembalikan kehidupan ke kondisi yang lebih layak.
Di tengah situasi tersebut, harapan warga sebenarnya sederhana. Mereka menginginkan kehadiran pemerintah yang lebih cepat dan nyata, terutama dalam memperbaiki infrastruktur dasar dan memastikan lingkungan kembali aman.
Sebab bagi warga Dusun Pante Ara, yang paling berat bukan hanya membersihkan lumpur yang tersisa di rumah dan halaman. Lebih dari itu, mereka harus menghadapi rasa kecewa yang perlahan tumbuh seiring lambatnya pemulihan.
Kini, jejak banjir masih tersimpan di banyak sudut dusun bukan hanya pada bangunan, tetapi juga pada ingatan. Di wajah-wajah warga dan tatapan anak-anak, tersisa cerita tentang sebuah peristiwa yang belum sepenuhnya menjadi masa lalu.***




