BERITA TERKINI

Kopi Malam Ini Pahit di Akhir: Ketika Pesan Raja Berhenti di Gerbang Istana

Kopi Malam Ini Pahit di Akhir: Ketika Pesan Raja Berhenti di Gerbang Istana

PASESATU.COM
- Malam turun perlahan di halaman istana. Cahaya lampu yang menggantung di setiap sudut bangunan tampak begitu terang, memantulkan kemegahan yang selama ini menjadi simbol kekuasaan. Dari kejauhan, singgasana terlihat tetap anggun, seolah segala sesuatu di dalamnya berjalan sebagaimana mestinya.

Namun, di luar pagar, suasananya berbeda.

Ada wajah-wajah yang menunggu dengan harap. Ada tangan-tangan yang menggenggam secarik keyakinan bahwa malam ini, atau mungkin esok pagi, nama mereka akan dipanggil. Mereka datang bukan membawa apa-apa selain kebutuhan dan harapan. Sebagian berdiri dalam diam, sebagian lain hanya bisa saling bertukar pandang, mencoba menebak apakah kesempatan itu benar-benar masih ada.

Di tengah semua itu, pesan sang raja sebenarnya tidak pernah rumit. Titahnya sederhana: semua mendapat bagian yang sama, sama rasa, walaupun sedikit. Sebuah perintah yang seharusnya menjadi dasar keadilan bagi seluruh penghuni negeri.

Pesan itu, setidaknya di atas kertas, terdengar jelas dan tidak menyisakan ruang tafsir. Tidak ada yang lebih diutamakan, tidak ada yang lebih diistimewakan. Semua seharusnya berdiri pada garis yang sama.

Tetapi, seperti angin malam yang terhenti di gerbang istana, pesan tersebut seolah tidak pernah benar-benar sampai kepada mereka yang menunggu di luar.

Yang berembus justru kabar lain. Kabar yang tidak pernah tertulis, tetapi beredar dari mulut ke mulut. Kabar yang pelan, namun cukup tajam untuk melukai rasa keadilan.

Konon, jatah lebih mudah datang kepada mereka yang dekat dengan lingkar kekuasaan. Mereka yang mengenal para penjaga pintu, yang tahu jalur menuju ruang dalam, atau setidaknya memahami bagaimana cara menyampaikan salam kepada orang-orang yang berada di sekitar singgasana.

Di lorong-lorong kekuasaan, makna keadilan perlahan berubah rupa.

Ia tidak lagi semata-mata tentang siapa yang paling membutuhkan. Bukan pula tentang siapa yang paling berhak. Yang sering kali lebih menentukan justru kedekatan, relasi, dan siapa yang namanya lebih dulu dikenal oleh para pengawal istana.

Nama-nama tertentu seakan lebih cepat sampai ke meja dalam. Mereka lebih dulu dipanggil, lebih dulu mendapat tempat, dan lebih dulu memperoleh bagian. Sementara yang lain tetap menunggu di luar pagar, menggenggam harapan yang dari waktu ke waktu semakin tipis.

Ironisnya, dari atas singgasana, semuanya mungkin terlihat baik-baik saja.

Laporan yang sampai tersusun rapi. Angka-angka tampil meyakinkan. Catatan distribusi tampak lengkap dan terukur. Dari kejauhan, semuanya seolah berjalan sesuai amanah. Tidak ada yang tampak janggal.

Namun, kenyataan di lapangan sering kali berbicara dengan bahasa yang berbeda.

Di antara rakyat yang menunggu, cerita-cerita kecil mulai tumbuh. Ada yang merasa telah terlalu lama berada di barisan tanpa pernah mendapat giliran. Ada pula yang melihat orang lain datang belakangan, tetapi justru lebih dahulu pulang dengan membawa bagian.

Cerita seperti itu mungkin terdengar sepele bagi sebagian orang, tetapi bagi mereka yang mengalami, rasa pahitnya sulit disembunyikan.

Kopi malam ini pun terasa berbeda.

Bukan karena gula yang kurang, tetapi karena rasa keadilan yang perlahan memudar. Pahitnya bukan sekadar di lidah, melainkan di hati mereka yang merasa amanah tidak lagi berjalan sebagaimana mestinya.

Pertanyaan pun muncul, pelan tetapi mengusik: apakah pesan raja masih benar-benar dijaga, atau telah berubah menjadi alat untuk menentukan siapa yang layak diberi dan siapa yang harus terus menunggu?

Sebab di negeri mana pun, yang paling menyakitkan bukanlah sedikitnya bagian.

Yang paling menyakitkan adalah ketika keadilan terasa semakin jauh dari jangkauan, dan harapan harus berhadapan dengan dinding kedekatan serta kepentingan.

Pada akhirnya, malam ini menyisakan satu rasa yang sulit diabaikan pahit yang tinggal di akhir, seperti secangkir kopi yang dingin di atas meja, menyimpan cerita tentang amanah yang tersesat sebelum sampai ke tangan mereka yang seharusnya menerima.***


Penulis : Abdul Rafar