Harga Naik Tanpa Kelangkaan, Minyak Curah Tembus Rp22 Ribu, Warga dan UMKM Mulai Tertekan
Font Terkecil
Font Terbesar
ACEH UTARA | PASESATU.COM — Kenaikan harga kembali terasa di pasar tradisional dan mulai membebani masyarakat. Sejumlah kebutuhan pokok seperti minyak goreng curah, gula pasir, hingga berbagai jenis plastik kemasan mengalami kenaikan, meskipun pasokan barang disebut masih tersedia seperti biasa.
Situasi ini menimbulkan tanda tanya di kalangan warga. Pasalnya, tidak ada kelangkaan barang di pasar, tetapi harga justru terus merangkak naik.
Pantauan di Pasar Kota Panton Labu, Aceh Utara, menunjukkan harga minyak goreng curah kini berada di kisaran Rp22.000 per kilogram. Sebelumnya, komoditas ini masih dijual sekitar Rp19.000 per kilogram. Gula pasir juga mengalami kenaikan, dari Rp18.000 menjadi Rp19.000 per kilogram.
Kenaikan tersebut tidak hanya berdampak pada angka di meja jual pedagang. Di balik itu, beban rumah tangga semakin bertambah, sementara pelaku usaha kecil mulai merasakan tekanan yang cukup serius.
Para pedagang pun mengaku tidak memiliki penjelasan pasti terkait kondisi ini. Mereka menyebut pasokan barang tetap berjalan normal tanpa hambatan.
“Barang tetap masuk, tidak ada masalah pasokan. Tapi harga terus naik, kami juga tidak tahu penyebab pastinya,” ujar Salman, salah seorang pedagang di Pasar Kota Panton Labu, Sabtu (4/4/2026).
Selain minyak dan gula, harga plastik juga ikut naik. Kenaikan terjadi hampir di semua jenis, mulai dari plastik pembungkus hingga kantong belanja dan kemasan untuk usaha.
Bagi masyarakat umum, kondisi ini berarti pengeluaran harian harus ditambah. Sementara bagi pelaku UMKM, dampaknya terasa lebih berat karena harus menanggung kenaikan bahan baku sekaligus biaya kemasan.
Akibatnya, pelaku usaha kecil dihadapkan pada pilihan sulit. Jika harga jual dinaikkan, ada risiko kehilangan pelanggan. Namun jika tetap bertahan, keuntungan yang diperoleh menjadi sangat tipis.
Sejumlah pedagang makanan, seperti penjual gorengan, kue, hingga pemilik warung kopi, mulai menghitung ulang biaya produksi mereka. Banyak di antaranya tetap berjualan, tetapi dengan margin keuntungan yang semakin kecil.
Di kalangan pedagang, muncul dugaan bahwa kenaikan harga plastik berkaitan dengan kondisi global yang memengaruhi bahan baku industri. Meski begitu, penjelasan tersebut belum sepenuhnya menjawab keresahan masyarakat di tingkat bawah.
Bagi warga, yang dirasakan bukanlah persoalan rantai pasok global, melainkan kenyataan sehari-hari: harga kebutuhan terus naik, sementara pendapatan tidak ikut bertambah.
Jika kondisi ini berlanjut, kenaikan harga tidak lagi dianggap sebagai fluktuasi biasa, melainkan sinyal tekanan ekonomi yang semakin nyata, terutama bagi masyarakat kecil.
Karena itu, pemerintah diharapkan segera mengambil langkah konkret, mulai dari pengawasan distribusi hingga upaya pengendalian harga, agar beban masyarakat dan pelaku UMKM tidak semakin berat.***
Penulis : Abdul Rafar | Editor : Syahrul
